Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Bertemu Kembali


__ADS_3

Rachel berlalu dari hadapan Jasper. Ia seolah sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan pembicaraannya. Hatinya hancur berkeping-keping saat Jasper mengajaknya untuk mengakhiri bahtera rumah tangga yang baru saja mereka bina selama satu tahun.


Jasper menatap punggung Rachel. Ia tahu istrinya itu tengah menangis. Rachel terus berjalan tanpa tahu arah tujuannya ke mana. Jasper tak mengejar istrinya itu. Ia berusaha untuk tidak peduli ke mana Rachel pergi, toh nanti mereka akan terbiasa hidup masing-masing.


Rachel terus berjalan. Kakinya baru berhenti melangkah saat sudah sampai di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Rachel mendudukan dirinya di bawah pohon yang cukup rimbun. Ia menangis di sana sampai hatinya puas.


"Kau tidak takut air matamu habis karena terlalu lama menangis?" Tanya seorang pria yang mendekat ke arah Rachel.


"Hans?" Rachel menoleh ke arah pria jangkung yang kini berdiri di hadapannya.


"Lihatlah matamu sangat bengkak!" Hans mengeluarkan sapu tangan dari tasnya.


"Kau sudah kembali?" Suara Rachel terdengar sangat serak.


"Tentu saja. Maka dari itu sekarang aku berada di hadapanmu," Hans tersenyum simpul.


Hans memang baru saja kembali dari program pertukaran pelajar/mahasiswa yang bernama Skema Touring. Program ini adalah program yang diadakan pemerintah Inggris untuk mengirim mahasiswanya ke berbagai penjuru dunia dengan tujuan mengembangkan diri dan akademik.


"Bagaimana di Australia? Apakah menyenangkan?" Rachel berbasa basi.


"Menyenangkan. Hanya saja aku kesepian karena tidak bisa melihat wajahmu."


"Mulai!!" Rachel tertawa.


"Mengapa kau tidak pernah mengangkat telfon dan juga membalas emailku?" Hans bertanya-tanya.


"Aku- aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah," Rachel berkilah.


"Pasti anak tengil itu yang membuatmu menangis. Bukankah begitu?" Hans menebak.


"Anak tengil? Siapa?" Rachel tampak tidak mengerti.


"Majikanmu itu!" Hans tertawa.


"Tidak. Dia tidak membuatku menangis," Rachel menggelengkan kepalanya.


"Lalu, apa yang membuat gadis cantik sepertimu ini bersedih?" Hans mengelap sudut mata Rachel yang basah.


"Aku hanya rindu pada kedua orang tuaku," Rachel berbohong.


"Rindu? Apakah perlu aku mengantarkanmu ke sana?" Hans menawarkan.


"Tidak. Aku yakin mereka baik-baik saja. Nanti jika waktunya tiba, aku akan mengunjungi mereka."


"Dan aku yang akan mengantarkanmu ke sana. Aku berjanji!"


"Jangan menjanjikan sesuatu hal yang belum pasti! Karena manusia kadang suka lupa dengan janji yang mereka buat," Rachel mengingatkan.


"Aku tidak akan lupa. Nanti aku akan membawamu bertemu dengan kedua orang tuamu."


Rachel hanya tersenyum untuk memberi jawaban.


"Ini sudah malam. Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengantarkanmu pulang. Ayo!" Hans berdiri dan memegang tangan Rachel.


"Aku bisa naik taksi, Hans. Lagi pula aku ingin pergi terlebih dahulu ke rumah kakak," Rachel menolak.


"Aku yang akan mengantarkanmu. Ayo!" Hans memegang tangan Rachel kembali dengan lembut.


Rachel pun menatap tangannya yang sedang di genggam oleh Hans. Sekelebat ingatannya memutar saat Jasper menggenggam tangannya di Swiss. Mereka begitu melewati hari-hari indah sebelum petaka itu datang.


Rachel pun menurut. Ia berdiri dan mengikuti jejak Hans menuju mobilnya.

__ADS_1


"Mengapa tadi kita bisa bertemu ya?" Rachel menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Tadi aku ingin ke rumah majikanmu itu untuk menemuimu dan memberikanmu oleh-oleh. Aku sengaja membelinya untukmu tapi aku malah melihatmu sedang menangis," terang Hans.


"Oleh-oleh? Apa itu makanan?" Rachel menoleh ke arah bingkisan yang di simpan di kursi penumpang.


"Kau ini memang suka sekali makan ya," Hans tertawa.


"Aku membawa makanan khas Australia dan juga beberala souvenir. Aku harap kau suka," Hans sesekali menoleh sembari mengemudikan mobilnya menuju kediaman Daniella.


"Terima kasih, Hans. Kau memang temanku yang baik," Rachel berkata dengan tulus.


"Teman? Hanya teman?" Hans tampak kecewa.


"Tentu saja. Memangnya kita ini ayah dan anak?" Rachel tertawa.


Hans tersenyum mendengar Rachel yang sudah bisa kembali tertawa. Ia begitu tersiksa melihat tangisan Rachel yang begitu menyiksanya.


"Rachel, aku akan berusaha untuk merubah status kita dari berteman menjadi hubungan yang lebih. Aku tak akan membuatmu bersedih."


****


Hans membukakan pintu mobilnya untuk Rachel. Kini mereka sudah sampai di depan rumah Daniella.


"Hans, terima kasih sudah mengantarkanku ke rumah kakak. Kau pulanglah! Aku akan menginap di rumah kakak."


"Benarkah kau akan menginap? Bagaimana dengan majikanmu? Aku akan menunggu kau pulang," Hans menolak pulang.


"Aku akan menginap. Kau jangan khawatir! Pulanglah!" Rachel mendorong tubuh Hans dengan lembut.


"Baiklah. Aku pulang. Ini oleh-olehmu!" Hans membuka pintu penumpang dan mengeluarkan oleh-oleh yang ia beli saat di negeri Kangguru.


"Ini banyak sekali!" Rachel dengan susah payah menerima oleh-oleh yang jumlahnya sangat banyak itu.


"Kalau begitu pulanglah!" Rachel kembali mengusir.


"Oke aku akan pulang. Jangan merindukanku!" Hans mengedipkan matanya yang membuat Rachel langsung memelototkan matanya.


"Aku pulang, tuan putri!" Hans masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Daniella.


Senyum Rachel menyurut. Wajahnya kembali diliputi awan mendung. Ia harus segera meminta penjelasan kepada Daniella perihal uang yang sudah ia transferkan.


Rachel menyimpan terlebih dahulu oleh-oleh dari Hans di atas kursi yang ada di depan rumah. Rachel menarik nafasnya dengan panjang. Ia kemudian membuka pintu rumah Daniella yang tidak dikunci.


"Terima kasih, Honey. Kau memang tahu apa yang aku sukai," Essa mengecup pipi Daniella dengan posesif. Ia seolah takut kehilangan tambang emasnya.


"Aku akan berusaha untuk memberikan apapun yang kau inginkan," Daniella meringkuk dengan nyaman di pelukan pria matrealistis itu.


"Aku ingin ponsel keluaran terbaru, honey. Bisakah kau membelikannya untukku?" Essa memainkan rambut Daniella.


"Minggu depan kau akan mendapatkannya," Daniella langsung menyetujui.


Rachel pun melihat jiji kakaknya yang dengan mudah memberikan apapun kepada pria itu.


"Jadi, kau menipuku, kak?" Ucap Rachel yang membuat Daniella dan Essa terlonjak kaget karena kehadirannya yang tiba-tiba.


"Rachel, sejak kapan kau ada di sini? Mengapa kau tidak mengetuk pintu?" Daniella beringsut menjauh dari Essa.


"Sejak kekasih berengs*ekmu ini mengucapkan terima kasih atas hadiah yang kau berikan padanya," Rachel tersenyum sinis.


"Jaga ucapanmu, Rachel!" Daniella menggeram kesal.

__ADS_1


"Jaga ucapanku? Kau yang harusnya menjaga prilakumu, Daniella!" Rachel mendekat dan menunjuk wajah Daniella.


"Kau!" Rachel mengalihkan tatapannya kepada Essa.


"Enyahlah dari sini!"


"Honey, siapa dia?" Essa tampak tidak mengerti.


"Aku bilang enyahlah sekarang sebelum aku yanh menyeretmu keluar! Aku ingin berbicara dengan kekasihmu ini!" Rachel berteriak.


"Honey, apa-apaan dia?" Essa menunjuk Rachel.


"Honey, sebaiknya kau keluar dulu sebentar. Dia adikku. Aku ingin berbicara terlebih dahulu dengannya. Maafkan adikku!" Daniella merasa tidak enak.


"Baiklah. Aku ke luar sebentar," Essa menyetujui.


"Hey, pria matrealistis!" Teriak Rachel yang menghentikan langkah kaki Essa. Essa pun menoleh ke arah Rachel.


"Bekerjalah yang baik agar kau tidak memoroti kakakku! Karenamu, kakakku membenarkan segala cara untuk mendapatkan uang," Rachel menatap Essa dengan sangat tajam.


"Dan satu lagi, jangan kau sentuh barangku yang ada di luar! aku tidak sudi barangku disentuh oleh pria tidak berguna sepertimu," lanjutnya.


"RACHEL!!!" Teriak Daniella.


"Tidak apa, Honey. Sepertinya adik kecil kita sedang emosi. Aku tidak apa-apa. Kalau begitu, aku keluar dulu," Essa berpura-pura menenangkan Daniella padahal hatinya sudah sangat panas.


Kini tinggalah Rachel dan Daniella yang ada di dalam rumah itu. Essa sudah pergi meninggalkan kedua adik kakak itu yang sudah siap untuk meledakan amarahnya masing-masing.


"Apa kau tidak diajari sopan santun? Apakah kau datang kuliah hanya untuk tidur?" Daniella mencengkram tangan Rachel dengan kuat.


"Apakah kau datang ke kampus hanya untuk menggoda pria? Apakah di kampus kau diajarkan untuk menjadi penipu, termasuk menipu adikmu sendiri?" Rachel mengibaskan tangan Daniella yang mencengkram tangannya.


"Untuk apa kau berbohong mengenai keadaan ayah dan ibu? Nyatanya mereka dalam keadaan baik saja?" Rachel menatap Daniella dengan berang.


"Kau sudah tahu?" Daniella tersenyum sinis.


"Kau memang keterlaluan, Daniella!"


"Rachel, mertuamu sangat kaya raya. Aku hanya meminta sedikit. Apa yang salah? Uang itu hanya secuil kuku bagi mereka. Mereka tidak akan jatuh miskin karena kehilangan uang itu," Daniella tertawa.


"Teganya kau kepada adikmu!" Rachel meneteskan air matanya mendengar ucapan Daniella.


"Rachel, kau sudah tidak peduli kepadaku. Semenjak kau menikahi pria kaya itu kau melupakan aku. Tidak lupakah jika aku yang membuatmu menikah dengannya?" Daniella merasa tidak berdosa dengan tindakannya.


"Karena perbuatanmu itu aku akan menjadi janda di usia muda. Jasper akan menceraikanku," Rachel menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat kalah di depan Daniella.


Daniella tampak terkejut mendengar ucapan adiknya.


"Selama ini aku percaya padamu, karena kau adalah kakakku. Kita terlahir di dalam rahim yang sama. Kau menyuruh aku menikah dengan Jasper aku menurutinya, walaupun waktu itu aku tidak ingin. Dan sekarang kau juga yang menghancurkan pernikahanku dengan menipuku. Kau tahu? Kau benar-benar sampah. Kau mendapatkan uang hanya untuk berfoya-foya dengan kekasih berengs*ekmu itu!"


"Jaga bicaramu! Harusnya kau berterima kasih kepadaku karena kau bisa merasakan bagaimana kehidupan kelas atas!" Daniella menatap Rachel penuh emosi ketika adiknya membawa-bawa Essa, kekasihnya.


"Lalu, mengapa tidak kau saja yang menikah dengan Jasper dulu?"


"Jika dia ingin, tentu aku sudah menikah dengannya. Siapa wanita yang tidak ingin hidup senang bergelimang harta? Kau bahagia dan melupakanku," Daniella tersenyum sinis.


"Bahagia?" Rachel tersenyum getir.


"Bahkan di awal pernikahan kami, Jasper memperlakukanku dengan sangat buruk. Kau tidak pernah tahu bagaimana kehidupanku yang berat di awal-awal pernikahan. Lalu, Jasper berusaha menerima keberadaanku sehingga kehidupanku membaik. Tapi kau membuat ulah dan menghancurkan segalanya lagi. Hari-hari kelam itu kini datang kembali padaku. Jasper sudah berkata akan menceraikanku. Itukah yang kau inginkan, Daniella? Menghancurkan rumah tangga adikmu sendiri?"


"Suamimu itu sangat pelit. Hanya uang yang tak seberapa dia sampai akan menceraikanmu," Daniella tertawa.

__ADS_1


"Tentu tidak akan ada orang yang memaafkan mengenai sebuah kebohongan dan penipuan. Jasper mengira aku yang menikmati uang itu. Terima kasih untuk segalanya, Daniella. Terima kasih sudah menghancurkan hidupku. Dan aku tidak akan tinggal diam, aku akan membuatmu di pecat dari perusahaan papa. Dan aku akan membuat kau di tendang dari rumah ini!" Ancam Rachel yang membuat wajah Daniella pias seketika.


__ADS_2