
Hans datang membawa buah-buahan dan juga bunga untuk Rachel. Ia memang tahu alamat Rachel di kota London dari Nicole. Semangat Hans untuk merebut hati Rachel tak pernah padam. Tetapi ia tidak tahu bahwa kini Rachel tengah mengandung anak dari pria yang ia benci.
"Mau apa kau ke sini?" Jasper membuka pintu dan menatap Hans dengan geram.
"Sedang apa kau di sini?" Hans merasa kaget melihat keberadaan Jasper.
"Sedang apa? Lucu sekali kau ini!" Jasper tersenyum mengejek.
"Ini rumahku dan rumah istriku," lanjutnya.
"Bukankah kalian akan bercerai?" Hans tidak mengerti.
"Di dalam mimpimu!" Jasper menautkan alisnya, merasa tidak suka dengan kata bercerai yang Hans lontarkan.
"Pergilah! Jangan mengganggu istirahat istriku. Dia sedang mengandung anakku sekarang!" Jasper menggerak-gerakan tangannya.
"Mengandung?" Hans tampak terkejut.
"Iya. Mengandung. Nanti perut istriku akan besar seperti ini!" Jasper menggerakan tangannya di perut.
"J, kau seperti anak kecil!" Hans menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak percaya padaku? Di perutnya ada Jasper junior. Ingat itu!"
"Kalau begitu, aku ingin menemui Rachel. Aku ingin meminta penjelasan darinya," Hans hendak masuk ke dalam rumah.
"Tidak boleh. Aku tidak mengizinkan. Aku suaminya," Jasper bersikeras.
"Hans, ada kau di sini?" Tanya Rachel yang baru keluar dari kamarnya.
"Sayang, mengapa kau keluar dari dalam kamar? Kau kan harus beristirahat!" Jasper mendekati istrinya dan bersikap posesif agar Hans melihatnya.
"Aku bosan di kamar," Rachel menepis pelan tangan suaminya.
Hans mengamati tubuh Rachel yang semakin berisi. Hatinya seketika sakit. Harapannya memiliki Rachel sudah runtuh seketika.
"Aku ingin berbicara dengan Rachel," Hans mendekat ke arah mereka.
"Aku tidak mengizinkan," Jasper berkata dengan tegas.
"Aku ingin berbicara dengan Hans. Bisakah kau berikan kami waktu?" Rachel meminta izin.
"Kalian bicara saja di sini!" Jasper tampak tidak terima.
"Kumohon!" Rachel memelas.
"Baiklah. 10 menit. Aku beri waktu kalian 10 menit," Jasper meninggalkan keduanya.
Rachel berjalan ke arah halaman rumahnya dan diikuti oleh Hans.
"Jadi, kau menerimanya kembali?" Tanya Hans.
__ADS_1
Rachel diam tak menjawab. Ia tak mungkin menjawab jika dirinya belum memutuskan menerima Jasper kembali.
"Rachel, jawab aku! Apa benar kau sedang mengandung anaknya?" Hans tampak mencari tahu dengan sorot matanya.
"Iya, Hans. Aku sedang hamil," Rachel membenarkan.
Rasa sakit hati, kecewa, kesal menjadi satu di hati Hans.
"Hans, maafkan aku! Tapi aku minta, tolong lupakan perasaanmu padaku!" Rachel menatap Hans dengan serius.
"Lupakan?" Hans mengucap ulang perkataan Rachel.
Rachel mengangguk dengan pasti.
"Jika aku tidak mau bagaimana?" Hans menantang.
"Hans, sadarlah! Aku sedang hamil saat ini. Kau harus memakai logika dari pada perasaanmu. Apakah mungkin keluargamu mau menerima statusku, Hans? Seorang wanita yang pernah menikah dan akan memiliki anak? Aku rasa tidak mungkin. Orang tuamu tidak akan mengizinkan putranya yang masih muda, memiliki karier bagus menikahi wanita sepertiku," Rachel mencoba membuka mata Hans.
"Aku bisa menjelaskannya jika kau mau berpisah dengan suamimu," Hans membujuk.
"Itu tidak mungkin, Hans. Pada kenyataannya itu akan sangat sulit sekali. Dan ada satu masalah yang besar dari pada itu."
"Apa itu?" Hans menimpali.
"Aku tidak mencintaimu. Jadi, tidak mungkin aku bersamamu. Aku mencintainya," Rachel berbicara blak-blakan yang langsung menorehkan luka di hati Hans.
"Jadi, perkataanmu yang selalu baik padaku hanya palsu?" Hans tersenyum penuh luka.
"Apakah perkataan yang baik mencerminkan seseorang mencintaimu?"
"Aku memerlukan tempat untuk berbagi kesedihan karena suamiku mengabaikanku."
"Dan kau kembali ke pelukan suami yang selalu mengabaikanmu?"
"Itu urusanku, Hans!" Rachel menjawab dengan tidak suka.
"Ketahuilah, Rachel! Dia mencarimu dan kembali padamu, karena dia tahu ada anaknya di perutmu," Hans tampak memanas-manasi.
"Kau salah!" Jasper tiba-tiba berjalan ke arah mereka.
"Aku kembali kepadanya karena aku sudah menyadari perasaanku. Bahkan, aku tahu kehamilannya saat tiba di rumah ini," Jasper menjelaskan.
"Dia hamil atau tidak, aku akan tetap mencarinya," Jasper menatap Rachel dengan penuh cinta.
Rachel mengalihkan pandangannya dari wajah suaminya. Ia takut hatinya yang sudah membeku mencair kembali. Ia takut jika dirinya membuka hati lagi, Jasper akan menghancurkannya seperti yang sudah-sudah.
Hans meresapi semuanya. Rasanya memang mustahil dirinya bersikeras untuk mendapatkan Rachel.
"Kalau begitu, semoga kau bahagia!" Hans berucap dengan hati yang pedih.
"Aku pamit. Jaga kesehatanmu dan anakmu!" Hans kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Sepeninggal Hans, Rachel dan Jasper diliputi keheningan. Jasper mengambil tangan Rachel dengan lembut.
"Maafkan aku! Maafkan atas semua kesalahanku," Jasper berucap dengan sedih.
"Tidak. Kau tidak salah. Dari awal memang akulah yang salah. Aku salah karena sudah menipumu, membohongimu hanya demi keuntungan diriku. Mohon maafkan aku!" Rachel berkata dengan bibir yang bergetar. Memang dirinya lah penyebab Jasper bersikap buruk padanya sebelum perpisahan mereka.
"Tidak. Ini semua sudah ditakdirkan. Memang harusnya begitu agar kita bersama," Jasper bergumam. Teringat akan kebohongan yang Rachel buat.
"Aku merasa diri ini tidak pantas berada di dekatmu. Tidak ada kelebihan apapun pada diriku," Rachel pergi meninggalkan Jasper.
"Aku tahu ini tidak akan mudah," Jasper menghembuskan nafasnya dengan berat.
****
"Al, kau tahu dari dulu kita ini adalah sahabat," Beverly menatap Alula, sahabat karibnya dari SMA. Kini mereka tengah makan bersama di sebuah restoran yang menjadi tempat favorit untuk berbagi cerita.
"Aku tahu, Bev. Tapi aku tidak bisa memaksa putraku. Dia mencintai wanita lain. Mengertilah!" Alula memberikan pengertian kepada Beverly, ibu dari Aurora.
"Putriku hancur, Al. Dia sangat bersedih," Beverly membujuk.
"Bev, sedari awal Jasper sudah memperlihatkan seluruh perasaannya kepada Aurora. Tapi, putrimu menolaknya mentah-mentah. Bahkan Jasper seperti tidak memiliki harga diri saat mengejar-ngejar putrimu. Putraku terus mengejar Aurora, walaupun saat itu putrimu memiliki kekasih," Alula mengungkit masa lalu.
"Aku tahu, Al. Anak itu begitu bod*oh. Tapi aku begitu tertarik dengan putramu. Hanya dia yang terbaik untuk putriku," Beverly berusaha mencairkan kekerasan hati sahabatnya.
"Itu tidak mungkin, Bev. Istri Jasper sedang hamil sekarang," Alula memberitahukan yang membuat Beverly langsung tersentak.
"Hamil?" Ulang Beverly.
"Iya. Menantuku sedang hamil. Apa Aurora mau dengan pria yang sudah memiliki anak?" Alula tersenyum.
"I-itu tidak masalah," Beverly menjawab dengan gugup.
"Kau berbohong, Bev. Aku sahabatmu. Aku tahu kau," Alula tertawa.
"Aurora masih muda. Dia tidak akan mau merawat bayi dari pria yang ia cintai bersama wanita lain. Aku jamin itu!" Alula masih tertawa.
"Kau benar! Aku terlalu naif, Al," Beverly ikut tertawa.
"Bev, hanya kau terlalu menyayangi putrimu, tapi kau jangan sampai berpikir dan bertindak di luar koridor yang sudah tuhan takdirkan," Alula memberikan nasehat.
"Yang kau anggap baik belum tentu baik untuk putrimu, Bev. Aurora bisa menentukan jalannya sendiri. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mengarahkan agar anak-anak kita berada di jalan yang semestinya. Sebagai orang tua, kita hanya bisa membenarkan jika mereka sudah keluar dari garis. Bukankah seperti itu? Kau memintaku untuk memisahkan putraku dengan istrinya, itu sudah di luar garis, Bev," tambahnya.
Mereka diam dengan pikirannya masing-masing. Beverly tampak mencerna semua perkataan Alula.
"Kau benar, Al. Aku terlalu mencintai putriku. Aku tidak mau dia terluka. Dan aku memang berambisi untuk menjadikan putramu menjadi putraku. Kau tahu, dari Jasper bayi aku sangat menyayanginya. Aku menganggap Jasper seperti putraku sendiri. Maka dari itu, aku selalu ingin Aurora menikah dengannya," Beverly memberikan alasan.
"Aku tahu. Aku pun menyayangi Aurora. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi Jasper. Aku berharap, Aurora mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari putraku," Alula mengelus tangan Beverly.
Beverly berdiri dari duduknya dan menghampiri sahabatnya itu.
"Terima kasih. Tapi rasanya tidak ada yang lebih baik dari putramu," Beverly memeluk tubuh Alula lembut.
__ADS_1
"Jangan mulai lagi!" Alula tertawa.
"Kalian sedang apa? Maaf aku datang terlambat!" Sahabat mereka yang bernama Chelsea datang. Mereka pun mengobrol kembali dengan hangat dan ceria menceritakan kehidupan masing-masing.