
Jasper dan Rachel memulai kembali perang dinginnya. Sejak kepulangannya tadi sore, kedua suami istri itu saling mendiamkan satu sama lain.
"Aku harus berbicara padanya," Rachel bangkit dari duduknya. Ia menuruni tangga dengan langkahnya yang sedikit pincang.
"Jasper, kita harus bicara!" Rachel berdiri di hadapan sofa yang sedang Jasper duduki.
"Aku tidak ingin berbicara padamu," Jasper berpura-pura mengotak-atik gadgetnya.
"Mengapa jadi kau yang marah padaku?"
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Harusnya kau ada di rumah ini bukan berkeliaran berduaan bersama pria lain," Jasper memandang tajam ke arah Rachel.
"Kau cemburu?" Rachel memberanikan diri bertanya.
Jasper pun bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri di hadapan Rachel dan berkata "cemburu? Jangan bermimpi! Aku marah karena seharusnya kau membuatkanku makanan untuk makan malam. Kau harus bekerja agar aku tidak sia-sia memberimu makan."
Hati Rachel berdenyut nyeri mendengar penjelasan dari Jasper. Ia berharap setitik cemburu ada pada hati suaminya. Tapi harapannya itu hanyalah sebuah ilusi.
"Aku tadi berbelanja untuk kebutuhan kita selama seminggu. Apakah salah?" Rachel menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.
"Berbelanja? Kau pikir aku buta?" Jasper menaikan suaranya.
"Aku ke super market, lalu aku tidak bisa pulang sendiri karena belanjaanku sangat banyak. Aku meminta tolong padamu, tapi ternyata kau sedang asik berkencan dengan cinta pertamamu itu. Aku menyetop taksi, tetapi tidak ada yang berhenti," Rachel menghirup udara dalam-dalam untuk melanjutkan penjelasannya.
"Kakiku sampai berdarah terkena serpihan es. Di saat itulah Hans ada dan menolongku. Kau tahu? Hans seperti kiriman tuhan yang datang menyelamatkanku ketika aku sedang berada dalam kesusahan. Ke mana suamiku saat aku membutuhkannya?" Mata Rachel mulai berkaca-kaca.
"Suamiku malah asik berkencan dengan seorang gadis cantik. Walau kau tidak mencintaiku, tapi kau sudah mengkhianati pernikahan kita Mengapa tidak sekalian kau nikahi saja dia dan ceraikan aku? Oh iya, aku lupa. Aku kan bukan istrimu, tapi pelayanmu," Rachel mundur menjauhi Jasper dan naik kembali ke kamarnya.
Jasper masih berdiri dengan sempurna di tempat berpijaknya. Ia meresapi semua perkataan istrinya.
"Ini semua membuat kepalaku pusing," Jasper mendudukan dirinya di atas sofa.
Ia kemudian membuka aplikasi chattingnya yang berwarna hijau. Ia melihat pesan dari Rachel dan juga memeriksa panggilan terakhirnya.
"Ternyata dia tidak berbohong," Jasper menghembuskan nafasnya pelan.
Jasper membuka grup kelasnya dan melihat foto dirinya dan Aurora di sana.
"Mengapa Aurora mengirimkan foto ini ke grup?" Jasper merasa kesal dengan tingkah teman masa kecilnya itu.
Jasper merebahkan dirinya di atas sofa. Bayangan Hans memakaikan sepatu di kaki istrinya begitu membuat otaknya bekerja dengan ekstra keras. Mengapa Jasper tidak suka melihatnya? Mengapa ia merasa terkhianati? Sangat disayangkan, Jasper bukanlah orang yang peka dengan perasaannya sendiri.
"Apa dia sudah tidur?" Gumamnya saat melihat jam dinding menunjukan pukul satu malam.
__ADS_1
Jasper membangunkan tubuhnya, kaki nya melangkah menaiki satu demi persatu tangga. Tujuannya adalah tak lain dan tak bukan kamar Rachel. Hatinya menuntun tubuhnya untuk melihat kondisi kaki gadis itu.
Jasper membuka pintu dengan pelan, ia melihat Rachel sudah tertidur dengan posisi tubuh miring. Jasper terduduk di sebelah tubuh istrinya, ia menggapai kaki Rachel dan mendapati kaki istrinya yang terluka.
Diusapnya kaki Rachel dengan lembut, "maafkan aku," gumamnya.
****
Pukul enam pagi, Rachel sudah bersiap untuk pergi menghabiskan akhir pekan bersama Hans. Rachel harus pergi untuk menjernihkan pikiran dan juga mendinginkan hatinya.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi ke Newcastle. Itu sangat jauh," ucap Jasper ketika melihat Rachel turun dari tangga.
"Aku tidak meminta izin padamu," Rachel memasukan ponsel miliknya ke tas.
"Aku suamimu," Jasper berjalan mendekati Rachel.
Rachel menghirup udara dengan dalam. Ia menoleh ke arah Jasper yang sedang menatapnya, "kemarin kau mengakuiku sebagai pelayanmu. Sekarang kau mengakuiku sebagai istrimu. Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tanya Rachel dengan raut wajahnya yang dingin.
"Aku harus meminta izin padamu untuk pergi dengan pria lain. Tapi kau tidak pernah meminta izin padaku ketika pergi dengan wanita lain. Tolong jangan tahan aku untuk pergi! Hiduplah masing-masing tanpa saling mengganggu!" Rachel melanjutkan. Ia membawa ransel besarnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aww!" Jasper tiba-tiba meringis. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
"Jasper, kau kenapa?" Rachel panik saat mendengar suara tubuh Jasper jatuh ke lantai.
"Kepalaku sungguh pusing. Tolong bantu aku!"
"Tubuhmu tidak demam," Rachel menyentuh kening Jasper dengan tangannya.
"Sepertinya tekanan darahku tinggi karena kau selalu melawan padaku," Jasper berpura-pura memejamkan kedua matanya. Tujuannya hanya satu, yaitu membuat Rachel tidak jadi pergi. Jasper benar-benar tidak rela jika Rachel akan menghabiskan akhir pekan bersama Hans.
"Apa kau kedinginan? Mama berkata jika kau tidak kuat dingin?" Rachel semakin khawatir.
"Sepertinya begitu. Kau jangan pergi! Aku tidak ada teman di sini," Jasper berkata dengan nada lemah.
"Aku telfon dokter Mama saja ya? Aku khawatir dengan keadaanmu," Rachel hendak menelfon dokter pribadi keluarga Allen. Alula memang memberitahukan nomor-nomor penting yang bisa Rachel hubungi jika ada kondisi darurat di rumah.
"Jangan! Aku tidak butuh dokter. Aku butuh seseorang yang menemaniku!" Jasper mencekal tangan Rachel.
"Aku tidak akan pergi," putus Rachel pada akhirnya. Jasper pun mengulas senyum manisnya.
Suara bel berbunyi dengan nyaring, Rachel melepaskan cekalan tangan Jasper dan membuka pintu.
"Jaspernya ada?" Tanya gadis cantik yang memakai mantel berwarna ungu.
__ADS_1
"Aurora?" Rachel bergumam.
"Kau akan pergi?" Archie yang berdiri di belakang Aurora mengamati penampilan Rachel yang berbeda.
"Tentu saja. Hari ini Rachel akan pergi berlibur dengan Hans," Aurora menjawab. Archie pun hanya diam tak membalas ucapan Aurora.
"Aku tidak jadi pergi. Jasper sedang sakit," timpal Rachel dengan nada tidak suka.
"Sakit? Sakit apa?" Aurora terlihat panik. Ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan oleh Rachel.
"Aku masuk!" Izin Archie dan langsung menyusul Aurora ke dalam.
"J, kau kenapa?" Aurora langsung mendudukan dirinya di sebelah Jasper yang tengah terduduk.
"Aku tidak enak badan," Jasper menjawab sembari menatap Rachel yang berjalan masuk menghampiri mereka bertiga.
"Seharusnya kau jaga kesehatan! Kau belum sarapan?" Tanya Aurora sembari menempelkan tangannya di kening pria itu. Archie hanya diam, ia menatap lurus ke arah Rachel yang sedang memasang wajah sedih.
"Belum. Jasper belum sarapan. Tetapi aku sudah memasak untuknya," jawab Rachel.
"Baguslah. Aku ambilkan kau makanan," Aurora berdiri dari duduknya.
"Rachel, kau berangkat saja! Ada aku dan Archie yang akan menjaga Jasper di rumah. Nikmatilah liburanmu!" Aurora berkata dengan ramah.
"Baiklah, aku pergi. Jasper aku izin untuk pergi ke Seven Sisters Country Park. Kau jangan khawatir! Aku tidak akan pulang malam. Aku sengaja mengubah rute liburanku dengan Hans agar aku tidak pulang terlambat," Rachel memberikan alasan mengapa dia pergi ke Seaford.
"Aku bilang tidak usah pergi!" Jasper menyipitkan matanya karena kesal.
"Biarkan dia pergi, J!" Archie akhirnya menimpali. Ia memperhatikan raut wajah Jasper.
Rachel pun membawa tasnya kembali dan keluar dari rumah yang ia huni bersama suaminya itu.
"Mengapa Aurora yang selalu membuatku merasa tidak percaya diri untuk memperjuangkanmu?" Batin Rachel sembari terus berjalan menunggu kedatangan mobil Hans.
Tak lama, mobil teman sekelasnya itu datang. Hans turun dan membukakan pintu mobil untuk Rachel.
"Bersenang-senanglah dengan Aurora!" Rachel menatap rumahnya.
Sementara itu di dalam rumah, Jasper tak henti mondar-mandir. Ia tidak mengetahui alasan mengapa dirinya begitu tidak terima Rachel pergi. Sementara itu, Aurora tengah menyiapkan makanan di dapur. Gadis itu memutuskan untuk memasak makanan lain untuk Jasper.
Archie yang lelah melihat Jasper berjalan ke sana ke mari pun berdiri dari duduknya.
"Jika kau ingin menyusul Rachel pergilah! Aku yang akan membuat alasan kepada Aurora," Archie menepuk bahu sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kau memang sahabatku yang bisa diandalkan!" Jasper tersenyum. Ia menyabet kunci mobilnya dan langsung berlari keluar untuk menyusul istrinya.
Tolong tinggalkan like dan komentar ya agar novel ini popularitasnya bisa naik dan buat readers yang ingib masuk ke grup chat, silahkan klik profil author dan ketuk untuk masuk ke dalam grup 🤗