
Seorang gadis menatap sepasang istri yang tengah bercanda gurau di bawah sinar matahari yang memberikan kehangatan kepada keduanya. Terlihat wajah kedua insan itu memancarkan kebahagiaan. Tanpa mengalihkan pandangannya, gadis itu berjalan dengan langkah cepat.
"Akhirnya aku menemukanmu," gadis itu menatap Jasper dengan tersenyum.
Rachel tersentak melihat kedatangan gadis cantik itu. Ya, gadis itu adalah Aurora. Seseorang yang selalu Rachel takutkan keberadaannya. Hati Rachel mendadak mendung, terlebih Rachel melihat Aurora tersenyum manis kepada suaminya. Sebenarnya apakah mereka masih memiliki hubungan? Rachel terus bertanya-tanya di dalam hatinya. Rachel menatap tubuh Aurora yang semakin indah bak gitar Spanyol. Diam-diam hati Rachel berontak, ia merasa rendah diri.
"Ada perlu apa kau ke sini?" Tanya Jasper dengan hati-hati. Bagaimana pun, Aurora adalah sahabatnya sedari kecil.
"Aku hanya ingin memastikan lagi tentang semua ucapanmu ketika waktu itu," Aurora tersenyum tipis.
"Memastikan apa?"
"Kata-katamu yang di Restoran waktu itu."
"Silahkan kalian selesaikan masalah kalian! Aku izin untuk pergi dari sini," Rachel berniat menggerakan kursi roda itu dengan tangannya.
"Tidak ada yang harus di selesaikan, karena aku tidak memiliki masalah apapun dengannya," Jasper menahan kursi roda yang diduduki Rachel agar tidak bergerak.
"Aurora, semua yang ku katakan saat di restoran itu adalah kebenaran. Lihatlah, Rachel sekarang sedang mengandung!" Jasper berusaha meminta pengertian sedikit kepada sahabat kecilnya itu agar menjaga emosi istrinya.
"Mengandung?" Aurora mengarahkan tatapannya kepada perut buncit Rachel.
"Aurora, sepertinya ini bukan waktu yang tepat kau datang. Ku mohon pulanglah terlebih dahulu! Kau bisa datang kembali saat Rachel melahirkan dan menjenguk anak kami," Jasper menatap dengan tatapan memohon.
"Kau mengusirku?" Aurora tampak tidak terima.
"Kalau begitu, aku ingin berbicara denganmu, Rachel! Kita harus berbicara sebagai sesama wanita," Aurora menatap Rachel dengan tidak ramah.
"Aku rasa aku tidak perlu berbicara denganmu," Rachel menolak.
"Kau ini kenapa? Bukankah kita teman sekelas? Tunggu! Maksudku adalah mantan teman sekelas," Aurora merevisi kata-katanya.
"Aurora, hentikan! Aku tidak mengizinkan kau untuk berbicara dengan istriku," Jasper menyipitkan matanya. Mulai terpancing dengan tingkah Aurora.
"Ayolah, J! Aku ingin berbicara dengan istrimu dari hati ke hati. Bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" Pinta Aurora dengan gesture tubuh yang tidak terbaca.
"Kalau begitu bicaralah sekarang!" Jasper menantang.
"Aku kan sudah bilang ingin berbicara dengan istrimu sebagai sesama wanita. Kau wanita juga?" Aurora menyindir.
"Terserah padamu. Aku hanya ingin melindungi istriku," Jasper mulai terpancing emosi.
"Melindungi?" Aurora tertawa.
"Kau pikir aku penjahat? Kau pikir aku akan mencelakakan istrimu! Ayolah, J! Kau terlalu banyak menonton telenovela," sindirnya.
__ADS_1
"Tinggalkan aku dan Aurora berdua!" Rachel yang bungkam beberapa saat akhirnya bersuara. Ia ingin segera mengakhiri situasi ini.
Aurora tersenyum senang dan langsung melihat ke arah Jasper dengan tatapan penuh kemenangan.
"Tapi, aku tidak mengizinkan," Jasper bersikeras.
"Aku mohon! Biarkan aku berbicara dengan cinta pertamamu ini," pinta Rachel dengan hati sakit seolah tertusuk duri yang begitu banyak.
"Istrimu memintamu pergi. Pergilah!" Aurora mengibaskan tangannya mengusir Jasper.
"Kumohon" Rachel memohon. Jasper pun mengalah. Ia tidak ingin berdebat dengan istrinya.
"Jika kau melakukan apapun yang melukai istriku. Aku tidak akan memaafkanmu," Jasper berkata tajam kepada Aurora. Rachel hanya terpana melihat pemandangan itu. Ia tidak melihat sedikit pun cinta di mata suaminya untuk Aurora.
"Jadi, kau ini berkata apa? Cepatlah, waktumu tidak banyak. Aku harus pulang dan meminum vitaminku," ucap Rachel tanpa memandang ke arah Aurora.
"Paling tidak cari dahulu tempat duduk untukku. Kau enak duduk di kursi roda," Aurora melipat kedua tangannya di dada.
"Baiklah, ayo kita berbicara di sana?" Rachel menunjuk bangku taman yang tak jauh dari tempat mereka kini.
Rachel berusaha menggerakan kursi rodanya, akan tetapi gerakannya tertahan saat Aurora mendorong kursi rodanya tanpa berkata apapun. Aurora pun langsung duduk di bangku taman itu dan berhadapan langsung dengan Rachel yang duduk di kursi rodanya.
"Cuacanya sangat hangat Aku suka sinar matahari!" Aurora menyenderkan tubuhnya di bangku taman itu dan membiarkan sinar matahari menerangi tubuh putihnya.
"Kau tidak sabaran," Aurora tersenyum sinis.
"Ayolah! Aku tidak punya banyak waktu."
"Tidak punya banyak waktu? Seharian kau hanya tertidur di kasurmu yang empuk," sindir Aurora yang membuat Rachel langsung meradang.
"Aku seperti ini bukan kemauanku. Aku pun ingin menjalani kehamilan tanpa hambatan seperti orang lain," Rachel menatap tajam kepada Aurora.
"Hey, tenanglah! Aku hanya bercanda," Aurora menegakan tubuhnya.
"Lupakan! Katakan apa yang kau ingin katakan sekarang!"
"Kapan surat pengesahan perceraianmu keluar dari pengadilan?" Tanya Aurora.
"Untuk apa kau bertanya akan hal itu? Jasper sudah memilihku," Rachel berkata dengan tidak suka.
"Begitu? Tidak ingatkah kau, jika aku gadis yang pertama Jasper sukai?" Aurora tersenyum kecil.
"Hubungannya denganmu sudah berakhir, aku minta jangan mengganggunya lagi!" Rachel meminta dengan tegas.
"Hubungan sudah berakhir? Apa maksudmu?" Aurora menyipitkan matanya. Merasa tidak suka.
__ADS_1
"Ya, hubungan yang kalian bangun selama setahun yang lalu sudah berakhir, karena akhirnya suamiku memilih istrinya," Rachel berkata dengan bangga. Ia seperti seorang istri tegas di hadapan wanita yang mencoba mengambil suaminya.
"Dasar bod*h!" Aurora tertawa.
"Jangan memanggilku seperti itu!" Rachel mulai memanas.
"Ya kau gadis bod*h. Hubungan apa yang kau maksud? Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan suamimu. Hanya seorang sahabat."
"Maksudmu?" Rachel tampak terkejut dengan perkataan Aurora.
"Aku dan Jasper tidak pernah memiliki hubungan khusus. Sepertinya selama satu tahun itu, dia hanya memanfaatkanku untuk mengalihkan rasa sakit hatinya karena perasaan kecewa padamu," Aurora menatap langit dan membiarkan sinar matahari menghangatkan tubuhnya.
Rachel terdiam. Ia mencoba untuk mencerna apa maksud dari Aurora.
"Jadi, apa tujuanmu datang ke sini?" Rachel bertanya langsung kepada intinya.
"Aku datang untuk mengingatkanmu dan Jasper agar mencabut gugatan perceraian kalian di pengadilan. Kau ingin ketika kalian mengasuh anakmu nanti, pengadilan mengeluarkan surat pengesahan perceraian?" Aurora tersenyum.
"Aurora, Kau-"
"Iya, aku datang untuk memastikan pria yang aku cintai, ah maksudku sahabat baikku, bahagia bersamamu. Aku ingin tahu rumah tangga macam apa yang kalian jalani," Aurora memandang Rachel dengan senyum tulusnya.
"Rachel, maafkan aku! Maafkan aku yang pernah menjadi duri dalam pernikahanmu," Aurora mengambil tangan Rachel dan menggenggamnya dengan erat.
"Aurora, aku pikir kau datang ke sini untuk merebut Jasper dari sisiku!" Rachel tersenyum sembari meneteskan air matanya.
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku mengambil pria yang akan menjadi seorang ayah?" Aurora tertawa dengan keras.
"Aku pikir kau akan mengambil Jasper dan anakku," Rachel terisak semakin keras.
"Suamimu terlalu banyak menonton telenovela dan kau sepertinya terlalu banyak membaca novel romantis sad ending," Aurora mengusap menggelengkan kepalanya.
"Rachel, aku masih muda. Aku tidak mungkin mau mengurus bayi orang lain. Aku akan melanjutkan S2 ku, lalu melanjutkan S3 ku dan pergi ke Amerika untuk membangun karierku sebagai pembisnis yang handal. Aku ingin menikmati indahnya matahari terbit di Taman Nasional Saguaro, Amerika. Aku ingin melihat matahari terbenam di Danau Kansas. Aku belum memikirkan berumah tangga."
"Aurora, aku salah tentangmu!" Rachel merasa bersalah karena sudah bersikap dingin.
"Aku memang jatuh cinta pada suamimu. Aku berambisi untuk memilikinya. Impian kita sama untuk memulai dan membangun karier di negara Paman Sam. Tapi di suatu malam, ayahku datang menemuiku di balkon. Ia menyadarkanku bahwa tak selamanya semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Ada kalanya tuhan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan aku tersadar, bahwa cinta Jasper selama ini hanya untukmu. Selama satu tahun dia mendiamkanmu, selama itu pula dia menyiksa dirinya sendiri," Aurora tersenyum.
"Aku harus berterima kasih kepada ayahmu yang sudah menyadarkanmu," Rachel tersenyum senang.
"Kau tidak perlu repot-repot. Ayahku sedang pergi ke Kanada," Aurora menyipitkan matanya.
"Aurora, terima kasih. Terima kasih sudah melepas Jasper dengan tulus."
"Tidak, yang benar adalah, Rachel maafkan aku! Maafkan semua tindakanku! Maafkan semua obsesiku. Aku harap kehamilanmu sehat. Aku berharap bayi kalian terlahir ke dunia dengan sehat. Tetaplah berada di samping Jasper, besarkan anak kalian dengan penuh cinta!" Aurora mengelus perut Rachel dengan lembut.
__ADS_1