Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Onsen


__ADS_3

Jasper dan Rachel menyewa mobil untuk perjalanan mereka selama berlibur di Sapporo. Mereka akan menginap di salah satu penginapan khas Jepang terbaik di Sapporo. Penginapan yang mereka tempati cukup jauh dari pusat kota.


"Untung saja setir mobil di negara Jepang sama dengan di Inggris yaitu dengan setir kanan," Jasper tersenyum sambil melajukan mobilnya ke arah penginapan tujuan mereka.


"Iya. Kau jadi tidak kesulitan dalam menyetir," Rachel membenarkan.


"Sebenarnya aku pernah mengemudi dengan setir kiri saat di Amerika dan di negara daratan Eropa lainnya. Rasanya kaku sekali," kata Jasper sembari terus mengemudikan mobil itu menembus jalanan kota Sapporo yang bersalju.


"Jasper, mengapa negara Inggris, Jepang, dan Australia menyetir di sebelah kanan?" Rachel tampak ingin tahu. (Termasuk di Indonesia).


"Yang aku tahu asal usul menyetir di sebelah kanan adalah karena kebiasaan Inggris ketika berada di bawah kekuasaan Romawi. Kala itu, hampir semua aktifitas menggunakan tangan kanan," Jasper menjelaskan apa yang ia tahu ke istrinya.


"Lalu, dengan Australia?" Rachel tampak tertarik.


"Warga Australia menyetir di sebelah kanan jelas karena pengaruh Inggris. Australia adalah negara persemakmuran Inggris," jawab Jasper masih dengan memandang jalanan.


"Lalu, bagaimana dengan sejarah menyetir di setir kiri seperti negara Amerika?" Tanya Rachel penuh keingintahuan.


"Alasannya adalah kebiasaan itu berasal dari zaman ketika sapi-sapi dimanfaatkan untuk menarik pedati di Amerika Serikat," timpal Jasper dengan enteng.


"Apakah kau mempunyai surat izin mengemudi international?" Rachel tampak mencari tahu.


"Tentu saja. Aku tidak akan berani mengemudikan mobil jika tidak memiliki SIM," Jasper tertawa.


"Apakah penginapan kita nanti ada pemandian air panasnya? Di sini sangat dingin," keluh Rachel yang mendapati jika suhu di Sapporo mencapai minus 10 derajat hari ini.


"Tentu saja. Nanti mari kita berendam di Onsen ya!" Ajak Jasper dengan penuh semangat.


"Onsen?" Rachel tampak kebingungan.


"Iya. Onsen adalah pemandian air panas. Jepang memiliki mata air panas karena di negara ini banyak sekali gunung api yang aktif. Kau tahu? Orang-orang Jepang sangat suka sekali berendam apalagi di Onsen. Sesampainya di penginapan mari kita coba!" Ajak Jasper dengan semangat.


"Ayo! Aku tidak sabar ingin menghangatkan diriku di air panas! Pasti rasanya akan sangat menyenangkan," Rachel tak kalah semangatnya.


"Oh iya. Ada dua jenis Onsen. Ada onsen di luar ruangan yang biasa disebut dengan Roten-Boru. Ada Onsen di dalam ruangan yang biasa dikenal dengan Notun-Buro. Kau ingin berendam di mana?"

__ADS_1


"Di dalam ruangan saja. Aku malu jika di luar," Rachel buru-buru menjawab.


"Di luar ruangan pun area nya privat. Tidak akan ada orang lain selain kita. Kau bisa melihat langsung salju yang turun dan langit musim dingin yang indah," Jasper memberikan argumennya.


"Kalau begitu Onsel di luar saja. Apa tadi namanya? No-t," Rachel tampak mengingat-ngingat jenis onsen yang disebutkan suaminya tadi.


"Ah, lidahku keseleo saat menyebutkan bahasa Jepang!" Rachel mengusap-usap bibirnya.


"Kau ini!" Jasper mengelus kepada Rachel dengan gemas hingga membuat gadis itu tertegun.


90 menit kemudian, mereka sampai di penginapan yang dituju.


"Waah, aku seperti sedang menonton anime," Rachel berdecak kagum melihat penginapan yang cukup jauh dari hingar bingar gemerlap kota Sapporo.


"Ayo kita masuk!" Jasper membawa koper miliknya dan koper Rachel yang sudah di keluarkan dari bagasi. Mereka disambut oleh tiga orang yang ditugaskan untuk melayani semua kebutuhan Jasper dan Rachel selama menginap.


"Hey, gadis Bulgaria! Lepaskan sepatumu!" Seru Jasper ketika Rachel memakai sepatunya ke dalam penginapan.


"Mengapa aku harus melepasnya?" Rachel bertanya dengan bingung.


"Oh begitu. Maaf, aku tidak tahu," Rachel berjongkok untuk melepaskan sepatu boots miliknya.


"Taruhlah di Genkan ini!" Jasper menunjuk ruangan kecil di depan pintu masuk.


"Genkan?" Rachel lagi-lagi bingung.


"Genkan adalah batas antara dalam dan luar rumah," Jasper melepaskan sepatu miliknya.


"Silahkan, pakai sandal ini, Nona!" Ucap seorang karyawan wanita berwajah oriental yang fasih berbahasa Inggris. Karyawan itu tampak menggunakan kimono yang tertutup sambil memberikan dua pasang sandal kepada Rachel dan Jasper.


"Terima kasih," Rachel memakai sandal yang terbuat dari kayu dan masuk ke dalam penginapan.


Rachel berjalan menuju kamarnya sembari melihat desain dan interior penginapannya saat ini. Lantai dan dinding penginapan ini dihiasi dengan ornamen yang kental dengan suasana Jepang.


"Ini kamarnya?" Tanya Rachel kepada suaminya yang mengekor di belakang.

__ADS_1


"Iya," Jasper mengangguk sambil masih menenteng koper ditangannya.


"Kamar di penginapan ini tersedia dengan lantai Tatami. Silahkan Nona dan Tuan nikmati waktu istirahat anda!" Ucap seorang karyawan yang memandu mereka.


"Kami tinggal di sebelah penginapan ini. Kami akan menyiapkan kalian makan malam. Jika ada apa-apa, tuan dan Nona tinggal tekan bel yang ada di sebelah sana!" Ucap karyawan itu dengan sopan.


"Baiklah, terima kasih sudah bekerja keras," Jasper membungkukan badannya ala-ala orang Jepang. Karyawan itu pun ikut membungkukan badannya dan berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Kita akan tidur di sini?" Rachel terduduk di atas kasur.


"Iya. Ini adalah kasur tradisional Jepang. Kasur ini bisa dilipat jika kita sudah menggunakannya. Dan itu adalah Kotatsu. Kotatsu adalah penghangat yang berbentuk meja pendek," Jasper menunjuk sebuah meja pendek yang ada di samping kasur.


"Kita masuk ke dalamnya?" Rachel mengamati meja itu.


"Tidak. Kita hanya perlu memasukan kaki sampai dengan pinggang ke bawah meja."


"Oh begitu. Aku sangat tidak percaya diri menjadi istrimu. Aku tidak tahu apapun," Rachel memperlihatkan wajahnya yang murung. Ia merasa seperti seseorang yang bod*h.


"Hey, gadis Bulgaria! Kau tidak perlu sedih. Ada aku yang akan selalu mengajarimu dan memberitahumu," Jasper menangkup pipi istrinya dengan lembut.


"Benarkah? Kalau begitu, aku akan selalu berdekatan denganmu agar aku bisa cerdas sepertimu," Rachel menangkup tangan Jasper yang tengah ada di pipinya.


Ada desiran hangat saat Jasper melihat senyum teduh istrinya. Jantungnya seolah dipompa lebih cepat.


"Seperti ada aliran listrik di tubuhku," batin Jasper sambil melihat wajah teduh istrinya.


"Aku tidak mau ditempel olehmu," Jasper melepaskan tangannya karena perasaannya sudah benar-benar tidak karuan.


"Mengapa?" Rachel mengerucutkan bibirnya.


"Tidak mau. Kau selalu saja lupa apa yang aku katakan," Jasper berpura-pura menolak.


"Itu kan tadi. Aku tidak akan lupa lagi. Ajari aku lagi ya, tuan Jasper!" Rachel memeluk leher Jasper seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Iya, aku akan mengajarimu," Jasper tertawa.

__ADS_1


"Yeaay!!" Rachel bersorak sambil terus memeluk leher suaminya.


__ADS_2