Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Pindah


__ADS_3

Rachel membuka gerbang rumahnya. Ia tidak mendapati mobil suaminya ada di halaman depan. Rachel bersikap masa bodoh dan masuk ke dalam rumah.


"Kau mengagetkanku!!" Rachel memegangi dadanya, saat ia melihat Jasper tengah terduduk di sofa yang ada di ruang tengah.


Jasper tidak menjawab pertanyaan dari Rachel, ia sibuk bermain game di ponselnya.


"Ke mana mobilmu?" Rachel menyimpan tasnya di atas sofa. Lagi-lagi, suaminya itu tidak menjawab. Rachel hanya menghela nafasnya kasar.


Gadis itu berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar dengan membawa kotak P3K.


"Lukamu harus di obati!" Rachel berjongkok di hadapan Jasper. Ia menempelkan kapas yang sudah dibasahi ari hangat di sudut bibir Jasper yang berdarah.


"Tidak usah," Jasper hendak menepis tangan Rachel dari pipinya.


"Diamlah! Nanti lukamu bisa jadi infeksi," Rachel terus membersihkan luka suaminya. Jasper mengamati setiap inci wajah istrinya itu. Baru pertama kali mereka sedekat ini. Hingga mata mereka pun bertemu.


"Kau bilang, kau tidak pernah menganggapku ada!" Sindir Jasper sembari terus menatap mata Rachel.


"Aku takut kedua orang tuamu tahu kau luka-luka. Entah mengapa aku tidak ingin melihat mereka sedih, marah dan kecewa," Rachel mengalihkan tatapannya. Dengan telaten, Rachel masih terus membersihan luka di sudut bibir suaminya yang terkena pukulan dari Alan.


Hati Jasper pun menghangat, tidak pernah ada yang peduli pada kedua orang tuanya selama ini. Tapi tunggu, bisa saja Rachel terlihat sok baik di depannya.


"Sudah! Aku sudah tidak apa-apa," Jasper menepis pelan tangan Rachel dari wajahnya. Ia segera berdiri dan langsung menaiki tangga untuk mencapai kamar utama.


"Aku bersikap buruk salah. Bersikap baik pun salah. Akan tetapi, dia kan suamiku. Bukankah aku harus menurut padanya dan menghormatinya? Tapi bukankah pernikahan ini sama-sama tidak kita inginkan. Sudahlah, aku jadi pusing sendiri," Rachel berbicara dengan dirinya sendiri sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Rachel pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Ia membuka jendela kamarnya dan menghirup udara dengan dalam.


"Senangnya," Rachel tersenyum.


"Biasanya setelah aku pulang kuliah, aku harus terburu-buru berangkat ke klub," gumam Rachel mengingat hari-harinya yang telah berlalu.


"Sekarang aku bisa beristirahat dengan nyaman di rumah ini. Terima kasih Mama Alula, Papa Kai. Kalian memperlakukanku dengan sangat baik," Rachel masih bergumam. Tiba-riba sekelebat bayangan kedua orang tuanya hadir dibenaknya.


"Ayah? Ibu? Kalian sedang apa? Apa kalian baik-baik saja? Apa kalian di sana makan yang enak? Apa uang dari Jasper masih ada? Aku harap masih ada," Rachel tersenyum getir.


Dan untuk Daniella, Rachel sedang menjaga jarak terlebih dahulu dengan kakak sulungnya itu. Hal ini Rachel lakukan, karena dirinya takut Daniella akan meminta tinggal seatap dengannya. Setidaknya, Rachel tenang karena Daniella pun tinggal di rumah yang aman dan nyaman pemberian Kai dan Alula.


"Rasanya hidupku lebih baik walau harus terjebak pernikahan dengan Jasper Allen. Tapi, syukurlah aku menikah dengannya. Hanya dia yang tidak mau menyentuhku. Aku aman," Rachel tersenyum lalu membaringkan tubuhnya di kasur.


Saat Rachel menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan lampu-lampu bintang kecil, terdengar ketukan yang lembut dari luar kamarnya.

__ADS_1


"Jasper? Mau apa dia?" Rachel bangun dan hendak membuka pintu.


"Ya, ada apa, Jasper?" Rachel membuka pintu kamarnya.


"Rachel?" Seulas senyum manis terlukis di wajah seorang ibu yang masih sangat cantik walau usianya menua. Ia kini sedang memegang telinga Jasper.


"Mama?" Ucap Rachel saat melihat ibu mertuanya datang. Rachel bingung karena Alula sedang memegang telinga suaminya, seperti sedang memberi hukuman kepada anak kecil yang nakal.


"Aw! Ma, sakit!" Jasper meronta saat Alula menjewer telinganya.


"Ada apa, Ma? Mengapa Mama tidak mengabariku jika akan ke sini?" Rachel bertanya dengan bingung. Tak lama, kemudian Kai datang mendekat.


"Mengapa kau dan Jasper tidak tidur satu kamar?" Lontar Kai langsung pada inti permasalahan.


"Aku-" Rachel berusaha menjawab.


"Suamimu kan yang memintamu untuk tidur di kamar yang lain?" Alula memotong. Rachel pun mengiyakan pertanyaan wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


"Mengapa bisa kau menyuruh istrimu tidur di kamar yang lain?" Alula melepaskan telinga anaknya.


"Sakit, Ma!"Jasper mengusap telinganya yang sedikit berwarna kemerahan.


"Bukankah kata Mama dan Papa, Rachel tidak boleh hamil terlebih dahulu?" Jasper menjawab dengan santai.


"Putramu benar, sayang. Bukankah kau yang menyuruh mereka untuk menunda perihal anak?" Kai membela putranya.


"Jasper hanya takut khilaf," Jasper melirik ke arah Rachel.


"Iya benar. Kami takut terbawa suasana," Rachel tertawa dipaksakan.


"Takut terbawa suasana apa? Kalian kan sudah menjadi suami istri," Alula menjadi bingung.


"Pokoknya kalian harus tidur dalam satu kamar yang sama!" Tambahnya.


"Tapi Ma, bagaimana jika Rachel hamil?" Jasper memberikan alasan, agar ia tidak sekamar dengan istrinya.


"Kalau hamil malah semakin bagus. Mama akan memiliki cucu," Alula terlihat riang.


"Tapi, Ma-"


"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Sayang, tolong pindahkan barang-barang Rachel ke atas!" Pintanya kepada Kai.

__ADS_1


"Ma, biar Rachel saja yang membawa barang-barang Rachel," Rachel buru-buru memberikan ide.


"Baiklah, sayang. Mama tunggu 30 menit lagi di kamar atas," Alula berbalik dan meninggalkan Rachel dan putranya. Kai pun mengikuti langkah istrinya.


"Mengapa kau tidak menolak?" Jasper terlihat emosi saat Rachel dengan mudahnya setuju untuk pindah kamar.


"Aku malas berdebat. Seberapa kita keras menolak, pada akhirnya kita akan tetap satu kamar," Rachel langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


"Kurang ajar! Apakah dia merencanakan sesuatu?" Jaspee terlihat geram.


30 menit kemudian, barang-barang Rachel sudah ada di dalam kamar Jasper. Rachel mulai menata barang-barang miliknya. Lagi-lagi, Jasper merasa jengkel melihat Rachel mengutak-atik lemarinya. Alula dan Kai pun turut membantu membereskan barang-barang menantunya walau sudah dilarang oleh Rachel.


"Akhirnya selesai," Rachel merenggangkan otot-ototnya.


"Kalian yang akur dan mesra ya! Satu lagi, kamar yang tadi Rachel tempati, akan Papa pantau dengan CCTV. Papa harus memastikan kalian tidur di satu kamar yang sama," jelas Kai saat melihat gelagat putranya yang ingin mengusir Rachel.


"Hari sudah malam. Kami pamit pulang ya?" Alula berpamitan.


"Mama, terima kasih ya?" Rachel berhambur memeluk erat ibu mertuanya. Entah mengapa, ada kedamaian sendiri saat Rachel memeluk Alula.


"Sayang!" Alula mengusap-ngusap lembut punggung menantunya.


"Cari perhatian! Cari muka!" Jasper memutar bola matanya.


"Mama menginap di sini saja ya?" Pinta Rachel saat ia melepaskan pelukannya.


"Mama tidak ingin mengganggu waktu kalian. Jadilah istri yang penurut ya? Hadapi dan temani suamimu bagaimana pun keadaannya!" Alula memberikan nasihat.


"Perlakukan istrimu sebaik mungkin, atau suati hari nanti kau akan menyesal!" Kai berpesan kepada putranya yang ditanggapi dengan dingin.


Setelah berpamitan, Kai dan Alula pun segera pulang. Kini, hanya tinggal Rachel dan Jasper yang diliputi keheningan.


"Kau tidur di bawah!" Jasper menunjuk lantai.


"Aku tidak mau. Kau saja yang tidur di lantai!" Rachel naik ke atas kasur milik suaminya. Hal itu, membuat darah Jasper semakin mendidih.


"Hey, gadis Bulgaria! Bangunlah!" Jasper menarik tangan Rachel.


"Aku tidak mau," Rachel menarik tangannya.


"Ayo bangun!" Dengan gigih Jasper menarik tangan istrinya. Rachel balas menarik tangannya dengan kekuatan maksimal, hingga tarikannya membuat Jasper jatuh terjerembab ke atas tubuhnya. Mereka pun langsung membulatkan matanya karena terkejut.

__ADS_1


__ADS_2