
Archie mengumpulkan semua kecurigaannya selama ini mengenai Jasper dan juga Rachel. Archie enggan untuk bertanya lebih jauh kepada Jasper, karena ia tahu pasti sahabatnya itu akan mengelak.
"Aku yakin Rachel bukanlah asisten rumah tanggamu! Apakah Rachel adalah istrimu? Tap mengapa bisa?" Archie bergumam sembari melihat foto kelasnya. Foto itu menunjukan potret hangat teman-teman sekelasnya. Di foto itu pula menampakan Jasper tengah memandang Rachel yang sedang terduduk di depan.
"Aku harus memastikan jika mereka tidak menikah," Archie turun dari kamarnya untuk menemui ayahnya.
"Papa?" Panggil Archie kepada ayahnya yang bernama Nino yang saat ini sedang asik menonton tv di ruang tengah.
"Iya, Nak?" Jawab Nino dengan hangat kepada putra sulungnya itu.
"Ayo kita bicara!" Archie terduduk di samping ayahnya yang masih sangat tampan dan berkharisma walaupun usianya sudah tidak lagi muda.
"Mama mana?" Archie mencari keberadaan ibunya yang tidak terlihat.
"Mamamu sedang di dapur," Nino mematikan televisi. Ia sangat menghornati waktu berdua bersama putranya. Nino selalu mendengarkan anak-anaknya berbicara dengan seksama tanpa ada yang mengganggu.
Archie pun menjelaskan semua kegundahan dan kecurigaannya terhadap Jasper. Nino pun hanya tersenyum kecil mendengar penuturan putranya yang sangat tanggap mengenai suatu hal.
"Besok Papa akan bertanya langsung kepada Om Kai. Lalu setelah itu, Papa akan memberitahumu," Nino menanggapi cerita Archie.
"Terima kasih, Pa. Kau memang yang paling mengerti Archie," Archie tersenyum.
Untuk menepati janji pada putranya, keesokan harinya Nino langsung datang ke rumah Kai. Kai adalah sahabat Nino semasa SMP, SMA dan kuliah dulu. Hubungan persahabatan mereka terbina sangat baik bahkan sampai sekarang ini. Kini Nino sudah ada di dalam rumah Kai untuk meminta konfirmasi mengenai status Jasper dan juga Rachel.
__ADS_1
"Kau dapat info itu dari mana?" Kai menyesap Moccacino yang ada di cangkirnya.
"Dari putraku. Dia hanya curiga. Ayolah, Kai! Kau tidak mungkin kan menikahkan anakmu yang masih kuliah?" Nino ikut meminum Moccacino yang dihidangkan untuknya.
"Jika jawabannya memang Jasper sudah menikah, bagaimana tanggapanmu?" Kai balik bertanya.
"Aku yakin kau tidak akan gegabah. Aku begitu mengenalmu," jawab Nino.
Kai pun terlihat menerawang jauh.
"Jasper sudah mengambil sesuatu yang berharga dari seorang gadis. Aku hanya ingin dia bersikap layaknya pria," Kai memulai bercerita.
"Archie benar. Teman sekelas putra kita yang bernama Rachel adalah menantuku," lanjutnya.
"Kau gila? Ayolah, Kai! Mereka masih muda. Hal seperti itu tidaklah tabu di negara kita. Bahkan ada berapa banyak yang serumah tanpa ikatan pernikahan dan memiliki anak," Nino merasa heran.
"Haha," Nino tertawa yang membuat Kai terheran-heran.
"Mengapa kau tertawa?" Kai meninggikan suaranya.
"Aku hanya merasa seperti De Javu. Kau pun dulu menikahi istrimu karena terpaksa," Nino berkata sambil terus tertawa.
"Dan sekarang putramu juga merasakan hal yang sama. Aku tebak, pasti mereka tidak saling mencintai," Nino mengusap ujung matanya yang basah karena terlalu renyah tertawa.
__ADS_1
"Tidak. Rachel mencintai putraku. Dia memang mewarisi nasibku," Kai tertawa kecil.
"Aku yakin gadis itu baik, berhati hangat dan juga dapat diandalkan. Maka dari itu, aku menikahkan Jasper dengan Rachel. Gadis itu mantan pegawai klub malam di Digbeth. Ia berasal dari negara Bulgaria," Kai menjelaskan mengenai latar belakang Rachel.
"Kau gila? Kau serius menikahkan putramu dengan seorang mantan pegawai klub?" Nino membulatkan matanya. Pasalnya ia sangat tahu bagaimana kehidupan klub malam, karena saat muda dulu Nino adalah orang yang sangat bebas.
"Aku sudah menilik semua latar belakang dan bagaimana pekerjaannya di klub. Kau kira, aku mau menyandingkan putraku dengan gadis yang tidak baik?" Kai tampak tidak terima.
"Semua tak luput aku selidiki sampai kehidupannya di Bulgaria pun aku tahu. Kehidupan keluarganya pun aku tahu. Bahkan kehidupan kakek dan neneknya pun aku tahu," sambungnya.
"Ya, aku percaya itu," Nino mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Lalu, bagaimana dengan Aurora putri dari si cerewet Beverly? Bukankah putramu tergila-gila padanya?"
"Biarkan putraku yang memilih," Kai bangkit dari duduknya.
****
Aurora sedang melihat-lihat album masa kecilnya. Di album itu banyak sekali menampakan dirinya bersama Jasper.
"Jasper seolah bayanganku. Dia selalu pergi ke mana pun aku pergi," Aurora tersenyum melihat deretan foto-foto Jasper yang tampak tengah mendekatinya.
"Mengapa aku sangat tidak menyadari keberadaanmu, J?" Aurora mengusap wajah Jasper di foto.
__ADS_1
"Aku selalu bahagia berada di dekatmu. Aku selalu ingin berada di dekatmu sekarang," Aurora terus tersenyum.
"Aku ingin kita memulai sebuah hubungan baru, tentunya bukan hubungan sebagai sepasang sahabat!" Aurora menutup album fotonya.