Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Kabar Kedua Orang Tua Rachel


__ADS_3

Rachel bangun seperti biasanya, ia memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya sebelum pergi ke kampus.


"Ayo makan! Aku memasak makanan spesial untukmu!" Ujar Rachel kepada Jasper yang sedang memakaikan tas ransel di punggungnya.


"Aku belum lapar," jawab Jasper dengan dingin.


"Kalau begitu, kau harus membawanya ke kampus. Sebentar aku masukan dulu makanannya ke kotak bekal," Rachel hendak beranjak dari hadapan Jasper.


"Tidak usah. Aku bisa membelinya," wajah Jasper terlihat ketus.


"Tapi-" Rachel mencoba untuk membujuk.


"Kau tidak perlu memasak lagi untukku," ucap pria itu dengan dingin, lalu berlalu tanpa melihat ke arah Rachel.


"Aku harus terbiasa dengan ini semua," Rachel mencoba menghibur dirinya yang tengah bersedih.


Saat Rachel hendak berjalan menuju dapur, terdengar ponselnya berbunyi.


"Kak Daniella," Rachel tersenyum saat kakaknya itu menelfon.


Jasper yang sudah berada di ambang pintu menghentikan kakinya dan menoleh ke arah Rachel yang mulai berbicara dengan Daniella. Diam-diam, Jasper merasa penasaran mengenai pembicaraan Rachel dengan kakak iparnya itu.


"Kau memintaku datang ke rumahmu? Baiklah, aku akan datang setelah pulang kuliah," terdengar suara Rachel yang tertangkap di telinga Jasper.


"Aku tidak peduli dia mau pergi ke mana," Jasper keluar dari rumah dan bergegas untuk pergi ke kampusnya. Tidak ada lagi tawaran darinya untuk pergi bersama ke kampus seperti yang biasa akhir-akhir ini ia lakukan.


"Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Jasper?" Nicole mewawancarai Rachel saat wanita itu masuk ke dalam kelas.


"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Rachel melirik ke arah Jasper yang sedang asik membaca buku di tangannya.


"Saat itu dia terlihat mendekatimu dan tergila-gila padamu. Tapi lihatlah sekarang! Dia seolah tidak mengenalimu. Kau berkencan dan putus dengannya kan?" Nicole menyelidik.


"Lebih dari itu Nicole. Aku adalah istrinya," bisik Rachel di dalam hatinya.


"Tidak. Waktu itu mungkin dia hanya ingin mencontek penelitian ilmiahku, jadi dia mendekatiku," Rachel memberikan jawaban yang asal.


"Aku tidak yakin. Dia mahasiswa yang pintar. Mana mungkin dia mau menyalin tugas penelitian darimu," Nicole menyanggah.


"Aku juga tidak tahu apa yang dia rencanakan. Mungkin dia hanya ingin menggali info mengenai Aurora kepadaku," lagi-lagi Rachel harus memutar otaknya untuk memberikan penjelasan kepada Nicole.


"Kau dan Aurora tidaklah dekat. Aurora sangat dekat dengan Chloe bukan denganmu," lagi-lagi Nicole membantah.


"Sudahlah. Itu tidak penting," Rachel mengakhiri percakapannya karena dosen sudah datang ke kelas dan perkuliahan segera di mulai.


***


Jam kuliah telah habis. Rachel berjalan ke arah gerbang kampus untuk pergi ke rumah Daniella. Sebelum pulang, Rachel melihat suaminya ke area parkiran kampus dan pulang terlebih dahulu. Rachel kemudian masuk ke dalam taksi yang ia pesan. Tujuannya adalah rumah Daniella.


Di sudut lain, seorang pria tengah mengikuti ke mana Rachel pergi. Dan itu adalah Jasper. Hatinya terus memberontak untuk tidak peduli lagi mengenai istrinya, tapi sebagian hatinya yang lain menolak hal itu. Pertahanan Jasper kalah, ia lebih mendengarkan hatinya untuk mengikuti ke mana Rachel pergi. Jasper terus mengikuti Rachel dengan jarak yang cukup jauh agar tidak ketahuan.


"Kakak?" Rachel menyapa Daniella saat ia masuk ke dalam rumah kakaknya.


"Rachel?" Daniella berdiri dari duduknya. Ia langsung memeluk adiknya itu dengan erat.


"Kakak rindu padamu. Mengapa kau sangat jarang menemui kakak?" Daniella mencebikan bibirnya.


"Aku banyak tugas kak di kampus," Rachel berusaha menyembunyikan. Bagaimana pun ia tidak ingin membuat Daniella kepikiran dan khawatir mengenai keadaannya.


"Ayo duduk!" Daniella menarik tangan Rachel.

__ADS_1


"Jadi, ada apa kak?" Rachel menatap Daniella.


Daniella tak menjawab, ia memasang wajah yang amat sedih.


"Kau baik-baik saja, kak?" Rachel melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Daniella yang sedang murung.


"Rachel?" Daniella bergumam.


"Ayah dan ibu sedang sakit parah. Mereka sedang kesusahan sekarang," air mata Daniella mulai menetes di pipinya.


"Sakit? Sakit apa, kak?" Rachel bertanya dengan khawatir kepada Daniella. Nadanya pun meninggi saat mendengar mengenai kondisi kedua orang tuanya.


"Aku tidak tahu jelasnya seperti apa, Rachel. Tapi bibi memberikanku kabar jika ayah sudah tidak bisa pergi ke mana-mana. Sedangkan ibu, karena kelelahan mencari uang, ibu jadi ikut sakit," Daniella mengambil tisu dan menyeka air matanya dengan tisu itu.


"Apakah uang dari Jasper sudah habis?" Rachel ikut menangis. Ia membayangkan bagaimana keadaan orang tuanya di Bulgaria sana tanpa ada anak yang mendampingi mereka.


"Mungkin ayah menggunakan uang itu untuk m*buk-m*bukan. Kau pasti tahu bagaimana prilaku ayah. Dan bibi juga mengabarkan bahwa rumah masa kecil kita sudah di sita oleh orang yang memberi ayah dan ibu pinjaman," Daniella semakin meluapkan kesedihannya.


"Aku tidak menyangka keadaaan kedua orang tua kita akan seperti itu, kak. Kalau begitu, aku akan meminta izin kepada Jasper untuk pulang ke sana," Rachel hendak berdiri dari duduknya.


"Rachel, kau yakin? Bukankah kau sedang kuliah sekarang? Apa tidak akan mengganggu waktu kuliahmu?" Daniella menahan tangan adiknya.


Rachel pun terduduk kembali, terlebih saat ini ia sedang menjalani ujian tengah semester.


"Lalu, kita harus berbuat apa, kak?" Rachel berkata dengan wajah putus asanya.


"Rachel, kau tahu kakak hanya bekerja sebagai costumer service. Walau gajinya cukup besar, tapi gaji kakak habis dipakai biaya sehari-hari dan untuk biaya kuliah S2 kakak. Kakak hanya bisa menyisihkannya sedikit dan itu akan kakak kirimkan untuk mereka. Rachel, bisakah kau tambahkan uang untuk menambahkannya? Kakak ingin mereka mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak."


"Tentu saja bisa, kak. Aku akan mengusahakan yang aku bisa. Tapi, bagaimana caranya ayah dan ibu menerima uang dari kita?" Rachel bertanya dengan bingung.


"Kakak akan mengirimkannya kepada bibi. Bibi adalah orang yang bisa dipercaya," tukas Daniella. Bibi di sini adalah adik kandung dari ibu Rachel yang Rachel anggap seperti ibunya sendiri.


"Rachel, aku harap uang darimu bisa cukup untuk kedua orang tua kita juga menyewa sebuah rumah," harap Daniella.


"Iya, kak. Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik!," Rachel melangkahkan kakinya keluar dari rumah Daniella.


Jasper yang menunggu di luar terus mengawasi Rachel. Ia melihat istrinya berjalan menyusuri jalan dan menyetop sebuah taksi. Pria itu langsung tancap gas untuk mengikuti Rachel kembali.


"Aku harus mencari uang ke mana?" Rachel menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang. Pikirannya benar-benar sedang kalut memikirkan kondisi kedua orang tuanya yang memperihatinkan.


"Aku tidak mungkin menggunakan uang bulananku dan Jasper," Rachel bergumam. Sementara supir taksi sesekali melirik dari kaca spion ketika mendengar gumaman Rachel.


"Tuan, tolong ke perumahan Boston Villages!" Pinta Rachel pada akhirnya. Hatinya membawa ia untuk pergi ke rumah kedua mertuanya. Hanya mereka yang bisa Rachel pinta tolong saat ini.


"Mau apa Rachel pergi ke rumah Mama dan Papa?" Jasper bertanya-tanya saat taksi mengarah ke kediaman kedua orang tuanya.


Seorang asisten rumah tangga yang sudah cukup berumur membuka pintu. Ia bernama Bibi May yang sudah bekerja di keluarga Allen selama puluhan tahun.


"Nona?" Bibi May tersenyum melihat Rachel.


"Bi, Mama ada?" Rachel bertanya dengan raut wajah yang sedih.


"Ada, Nona. Silahkan masuk!"


Rachel pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sementara Bibi May pergi ke kamar Alula untuk memberitahukan kedatangan Rachel.


"Rachel?" Sapa Alula saat melihat menantunya.


"Mama?" Rachel berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Ada apa kau ke mari? Apakah kau menyerah dan ingin menggugat cerai putraku?" Sindir Alula.


"Tidak. Aku tidak akan pernah memutuskan berpisah dengannya."


"Lalu, apa yang membawamu ke mari?" Alula menyeruput teh hangat yang baru saja di sajikan di meja.


"Ini sangat privasi, Ma. Apa bisa kita berbicara di tempat yang lebih tertutup?" Rachel meminta.


"Boleh," Alula mengangguk. Ia berdiri dan berjalan menuju ruang kerja suaminya. Kebetulan Kai masih bekerja dan belum pulang.


"Jadi, ada apa?" Alula tampak tidak sabar.


Rachel menggigit bibirnya, ia memainkan jari-jarinya dengan gugup. Rachel tidak pernah meminjam uang sebelumnya.


"Ma, maaf jika Rachel lancang. Apakah boleh Rachel meminjam uang Mama?" Rachel berusaha keras mencoba menahan malu yang menyergap hatinya.


"Meminjam uang? Untuk apa? Apakah kebutuhanmu belum terpenuhi?" Alula merasa keheranan.


"Aku baru saja mendapatkan informasi jika ayah dan ibu sedang sakit parah. Mereka tidak mempunyai uang untuk pergi berobat dan-" Rachel mencoba mengatur nafasnya.


Alula bangkit dari duduknya. Ia terduduk di samping menantunya itu dan mengelus punggungnya. Sedari dulu, Alula tetaplah menjadi seorang wanita yang polos dan mudah simpati terhadap orang lain, terlebih kepada anggota keluarganya.


"Dan rumah mereka telah disita karena tidak membayar hutang," Rachel menangis di depan Alula.


"Kau tahu dari mana?" Alula menatap iba menantunya itu.


"Bibi menginformasikan mengenai keadaan mereka di Bulgaria. Mama, aku merasa gagal menjadi seorang anak. Aku tidak ada saat mereka membutuhkanku," Rachel terisak.


"Sayang, tenanglah! Kau tidak gagal menjadi seorang anak," hibur Alula.


"Aku tidak ada saat mereka membutuhkanku," Rachel menyeka air matanya.


"Tenanglah! Mama akan membantumu," Alula menenangkan dengan lembut.


"Maaf karena aku lancang, Ma."


"Tidak. Mama tahu keadaanmu. Kau butuh uang berapa?" Alula langsung bertanya.


"Aku tidak tahu, Ma. Aku hanya ingin mereka di rawat secara baik di rumah sakit dan mendapatkan tempat tinggal sewa rumah terlebih dahulu."


Alula pun berdiri dari duduknya, ia langsung mengeluarkan kertas dari dalam laci. Alula terlihat menulis dan menyobek kertas itu.


"Ku harap ini cukup untuk membawa kedua orang tuamu ke rumah sakit yang bagus dan untuk tempat tinggal," Alula menyodorkan kertas itu yang ternyata itu adalah sebuah cek.


"Ma, apakah ini tidak terlalu besar? Rachel khawatir tidak bisa membayarnya," protes Rachel ketika melihat nominal yang sangat besar baginya itu.


"Jangan pikirkan itu! Fokus saja kepada kedua orang tuamu!" Alula menutup kembali laci di ruang kerja suaminya.


"Ma, Rachel berjanji akan membayarnya.Terima kasih sudah membantu Rachel," Rachel berdiri dan langsung berhambur memeluk Alula.


Tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan pembicaraan mereka dari awal sampai dengan akhir.


"Uang lagi," Jasper tersenyum sinis. Jasper langsung keluar dari dalam rumah dan masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Aku akan memastikan kau tidak berbohong," Jasper mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang. Ia menelfon informan ayahnya yang tinggal di Bulgaria. Informannya ini adalah orang yang pernah mengawalnya saat liburan musim panas di Bulgaria.


Dua jam berlalu, Jasper masih menanti jawaban dari informannya itu. Tidak cukup sulit bagi informan itu untuk menyelidiki keluarga Rachel dengan cepat, karena ia memang berada di kota yang sama dengan kedua orang tua Rachel.


Satu pesan masuk, Jasper dengan tergesa membuka pesan itu.

__ADS_1


"Kau membohongiku dan keluargaku lagi," Jasper menggertakan giginya menahan amarah ketika melihat sebuah pesan. Pesan itu berisi mengenai kabar dan foto keadaan kedua orang tua Rachel yang tampak sangat sehat dan bugar. Bahkan, sang informan mengatakan jika rumah kedua orang tua Rachel tidak disita oleh siapapun.


__ADS_2