
Rachel mendorong tubuh suaminya, hingga tubuh Jasper berdiri tegak sempurna.
"Jangan menggodaku!!" Teriak Jasper dengan wajah yang masam.
"Siapa yang menggodamu? Kau yang mencari kesempatan padaku!" Rachel tidak terima.
"Sudahlah. Lebih baik aku tidur saja dari pada harus berdebat denganmu," Rachel menarik selimut hingga lehernya.
"Hey, itu kasurku! Cepatlah bangun!" Jasper berteriak nyaring hingga suaranya memenuhi langit-langit kamar.
"Kau sungguh sangat cerewet. Aku lelah. Aku ingin tidur," Rachel menutup matanya bersiap untuk melanglang buana ke alam mimpi.
"Aku tidak mau tidur di lantai. Kalau begitu, aku tidur di sini," Jasper ikut berbaring di kasur yang sama dengan istrinya.
"Hey, mengapa kau tidur bersamaku?" Rachel memiringkan tubuhnya dan mendorong pelan tubuh pemuda itu.
"Jika kau tidak mau sekasur denganku, pergilah!" Jasper mengibas-ngibaskan tangannya.
"Aku tidak akan pergi dari sini!" Rachel tidak mau kalah.
Rachel dan Jasper langsung membelakangi satu sama lain. Rachel menjauh dari Jasper hingga tubuhnya berada di ujung kasur. Hening beberapa saat, hanya terdengar siulan angin di luar dan juga detak jam di dinding.
"Hey, gadis Bulgaria? Kau sudah tidur?"
"Aku tidak bisa tidur karena ada kau di sini," Rachel berdecak kesal.
"Gadis Bulgaria?" Panggil Jasper sekali lagi.
"Apa lagi?" Rachel yang mencoba untuk tertidur benar-benar di buat kesal oleh suaminya.
"Lihat aku!" Pinta Jasper dengan suara yang memelan.
"Apa?" Rachel pun memiringkan tubuhnya menghadap Jasper.
"Bagaimana jika kita melakukan malam pertama?" Jasper memberikan senyum manisnya. Rachel tersentak sekaligus terbuai melihat senyum yang tak pernah Jasper tunjukan untuknya.
"Bagaimana? Kita bisa melakukannya sekarang bukan?" Jasper menyeringai.
Deg...
"Mengapa dia jadi menginginkannya?" Batin Rachel. Detak jantungnya kini sudah sangat cepat seperti sudah melakukan olahraga kardio.
"Aku tidak mau," Rachel jelas menolak.
__ADS_1
"Tapi aku menginginkannya. Ayolah! Kau kan istriku!" Jasper mendudukan dirinya dan menatap Rachel dengan senyum menggoda.
"Kau gila?" Rachel ikut mendudukan dirinya di atas kasur.
"Iya. Ayo kita melakukannya! Lagi pula aku ingin mencobanya. Dan satu lagi, aku kan pernah membelimu. Jadi, sudah sepantasnya kau melayaniku bukan?" Jasper tersenyum seraya mengelus pipi Rachel dengan lembut.
"Dia sedang mempermainkanku. Baiklah, ayo kita buktikan siapa yang menang!" Rachel sudah bisa menebak isi pikiran Jasper yang dapat mudah ditebak.
"Ayo! Aku juga ingin melakukannya bersamamu!" Rachel membuka kucir rambutnya. Respon Rachel membuat Jasper terkejut. Rachel tersenyum simpul saat melihat pergantian ekspresi di wajah suaminya itu.
"Ayo!!" Jasper memegang leher jenjang Rachel dengan kedua tangannya.
"Ayo cium aku, suamiku!" Rachel memajukan wajahnya. Sementara itu, wajah Jasper semakin pias.
Jasper pun memajukan wajahnya.
"Ayo cepatlah!" Rachel memejamkan matanya juga memanyunkan bibirnya. Tak lupa, ia terus memajukan wajahnya.
"Sial*n!!" Jasper melepaskan tangannya. Ia langsung turun dari kasur dengan cepat. Jasper segera meninggalkan kamar dan turun ke lantai bawah.
"Haha, kena kau!" Rachel tertawa lepas saat menyadari dirinya yang menang.
****
Setelah semua bahan di masukan dan di campurkan, Rachel meuangkan adonan waffle ke dalam cetakan waffle listrik yang ada di dapur. Rachel memang sangat pintar memasak, karena di Bulgaria ia sering sekali memasak juga mencoba resep-resep makanan Eropa hingga Asia.
Acara masaknya diselingi dengan senyuman, saat ia mengingat wajah Jasper yang sedang terlelap di sofa yang ada di ruang tengah.
"Dia tampan, juga kekanakan!" Rachel bergumam.
1 jam berlalu, akhirnya Rachel sampai pada tahap akhir membuat waffle. Dengan semangat, Rachel menyajikan waffle bersama saus cokelat, madu dan juga es krim strawberry. Rachel segera membawa masakannya ke arah meja makan. Ia sudah tidak melihat suaminya lagi di sofa saat melewati ruang tengah. Mungkin pemuda itu sudah naik ke kamar dan bersiap untuk pergi ke kampus.
Rachel membuat waffle menjadi dua piring. Satu untuknya, dan satu lagi tentu saja untuk suaminya. Gadis itu mulai memakan waffle yang ia buat dengan bersemangat.
"Enak sekali! Aku akan lebih sering memasak," Riangnya. Pasalnya, di rumah ini, Rachel tidak kesusahan untuk mencari bahan-bahan untuk membuat makanan. Alasannya adalah karena Alula dan Kai sudah menyiapkan segala kebutuhan mereka.
Rachel terus memakan waffle nya dengan perasaan berbunga-bunga. Entahlah, apa yang membuat mood di pagi harinya begitu baik. Kunyahannya terhenti saat gadis itu melihat Jasper datang menghampirinya.
"Makanlah! Aku buatkan sarapan untukmu!" Rachel menyodorkan piring berisi waffle yang disiram saus cokelat, madu dan juga es krim.
"Aku tidak lapar," jawab Jasper dengan ketus dan juga dingin. Tidak ada aura persahabatan di wajahnya.
"Aku sudah membuatkannya untukmu."
__ADS_1
"Aku tidak menyuruhmu memasak," aura kegelapan begitu terlihat di wajah pemuda itu.
"Kau benar-benar tidak menghargaiku memasak," senyum di wajahnya menyurut.
Jasper pun menatap Rachel dengan dingin, sejurus kemudian ia mengambil piring yang berisi makanan yang berasal dari Belgia itu. Jasper berjalan dan membawa piring itu, langkahnya terhenti tepat di depan tempat sampah yang ada di dapur. Tanpa basa-basi, pemuda itu langsung membuang waffle yang dibuatkan oleh istrinya ke tempat sampah.
"Kau ini kenapa? Aku sudah memasak untukmu," Rachel berdiri dari duduknya.
"Sudah ku bilang aku tidak menyuruhmu untuk memasak. Jangan memasak apapun lagi untukku! Aku tidak sudi memakan makanan buatanmu!" Jasper menatap tajam Rachel dengan dingin, kemudian pemuda itu berlalu meninggalkan Rachel seorang diri.
****
Sudah beberapa hari ini Alan mencoba menghubungi kekasihnya. Akan tetapi, panggilannya terus di reject oleh Aurora. Bahkan kini nomor ponselnya pun sudah di blokir oleh gadis cantik itu.
"Honey?" Alan berlari mengejar Aurora yang akan masuk ke dalam kelas.
Aurora menoleh dan ia meneruskan langkahnya.
"Honey, tunggu!" Alan mencekal tangan kekasihnya.
"Ada apa?" Tanya Aurora dingin.
"Mengapa akhir-akhir ini kau sulit sekali dihubungi? Mengapa kau memblokir nomor kontakku?" Cecar Alan.
Aurora tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Honey, mengenai peristiwa tempo hari. Aku ingin meminta maaf padamu yang setulus-tulusnya. Aku saat itu sedang terbawa emosi," Alam melembutkan suaranya. Ia mengambil tangan Aurora.
"Kau mau kan memaafkanku?" Tanya Alan saat melihat Aurora hanya bungkam seribu bahasa.
"Honey?" Panggil Alan lirih.
"Tidak. Aku tidak memaafkanmu. Aku tidak bisa mentolerir sekecil apapun kekerasan dalam sebuah hubungan. Kau tahu, Alan? Baru menjadi kekasihku kau sudah kasar seperti itu, apalagi saat kita menikah nanti," Aurora menarik tangannya yang tengah di genggam oleh Alan.
"Honey, maafkan aku! Aku benar-benar terbawa suasana hingga kasar padamu!" Raut wajah Alan memperlihatkan penyesalan yang mendalam.
"Jangan panggil aku honey lagi Alan Addison, karena mulai saat ini kita putus!" Ucap Aurora dengan dingin.
"Putus? Tidak, tidak. Aku tidak mau berpisah denganmu," Alan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat penolakan.
"Tapi aku ingin kita berakhir sampai di sini. Aku lelah denganmu, Alan. Aku juga tidak bisa terus memaklumi situasi keluargamu. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga yang memiliki banyak problematika."
"Ke mana perginya Aurora yang selalu memahami dan menerima keadaanku?" Alan menatap Aurora dengan sedih. Hatinya seakan tersayat oleh belati yang amat tajam.
__ADS_1
"Aurora dulu sudah pergi. Oke, Alan. Aku ada kelas. Aku pergi," Aurora melirik jam yang melingkar di tangannya, kemudian gadis itu pergi meninggalkan Alan yang kini hatinya sedang tercabik-cabik.