
Kai memberikan amplop pesangon kepada Daniella. Hari ini ia resmi di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Daniella mengepalkan tangannya geram. Rachel tidak main-main dengan ucapannya. Adiknya itu benar-benar membuat Daniella dipecat dari perusahaan.
"Rachel, kau memang adik yang tidak tahu di untung!!" Daniella menggeram kesal.
"Aku sudah dipecat. Jangan-jangan nanti aku akan di tendang dari rumah itu. Tidak, aku tidak ingin kehilangan rumah itu," Daniella menggelengkan kepalanya.
"Aku harus membuat perhitungan dengan anak itu!!" Daniella melangkahkan kakinya untuk mencari Rachel. Ia tahu jika Rachel siang ini biasanya ada di kampus.
Saat akan pergi ke kampus, Daniella melewati sebuah cafe. Ia melihat kekasihnya dari kaca luar.
"Essa? Sedang apa dia di sini?" Daniella bertanya-tanya. Terlebih, Daniella melihat Essa sedang bersama seorang gadis berambut blonde. Daniella masuk ke dalam cafe itu untuk bertanya kepada Essa.
"Ini untukmu. Aku membeli ini karena teringat padamu," Essa memberikan jam tangan mungil yang terlihat sangat berkelas. Daniella mengenali jam itu, jam tangan itu adalah pemberian darinya karena Essa beralasan ia ingin memberikan hadiah pada adiknya.
"Terima kasih, sweety!" Gadis blonde itu tersenyum ceria mendapat hadiah yang mahal itu.
Essa pun memangut bibir gadis itu dengan cium*annya yang selalu membuat Daniella tergila-gila.
"Kau selingkuh dariku?" Daniella memukulkan tas miliknya ke wajah Essa. Sontak orang-orang yang ada di sana menoleh dan mereka menjadi bahan tontonan pengunjung cafe.
Essa dan gadis itu pun langsung berdiri dari duduknya. Essa memegangi pipinya yang terasa panas karena pukulan Daniella.
"Sweety, siapa dia?" Tanya gadis blonde itu dengan kebingungan.
"Aku kekasihnya. Kurang ajar sekali kau bermesraan dengan kekasihku!!" Daniella menjambak rambut blonde itu dengan ganas.
"Hentikan!!" Essa berusaha melepaskan tangan Daniella dari rambut kekasihnya.
Essa mendorong Daniella hingga tersungkur ke lantai.
"Hentikan! Dia kekasihku!!" Essa memperlihatkan wajahnya yang diliputi amarah.
"Kekasih?" Daniella berusaha berdiri.
Orang-orang pun semakin berkerumun melihat keributan itu.
"Iya. Dia adalah kekasihku. Perlu aku perjelas?" Essa menajamkan matanya.
"Kekasih? Lalu, selama ini kau anggap aku apa?" Daniella hendak menampar pipi Essa, tapi pria itu dengan sigap menahan tangan Daniella.
"Kau? Kau hanya masa laluku. Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun," Essa tersenyum licik.
"Kau menipuku?" Daniella kini mengerti bahwa Essa hanya memanfaatkan dirinya.
"Menurutmu?" Essa berbalik dan menggandeng tangan gadis blonde itu.
"Hentikan!" Daniella berteriak.
"Kalian yang di sini lihatlah pria menyedihkan itu!! Dia adalah pria penipu. Dia sudah menipuku. Dia sudah mengambil semua uangku," Daniella mengejar langkah kaki Essa.
"Kau bicara apa? Aku tidak pernah menipumu. Kau yang selalu memberikanku hadiah agar aku selalu berada di sampingmu. Aku tidak pernah memaksa kau memberiku sesuatu," Essa berkata dengan entengnya.
"Kau!" Daniella mengepalkan tangannya menahan amarah yang bergejolak di hatinya.
__ADS_1
Essa menggandeng tangan gadis itu keluar dari cafe.
"Apa yang kalian lihat?" Teriak Daniella kepada orang-orang yang berkerumun melihat adegan dramatis itu.
Daniella keluar dari cafe dengan amarah yang bergejolak. Ia berjalan cepat ke arah kampus adiknya.
"Selama ini aku dibohongi?" Daniella duduk di kursi yang menghadap ke arah fakultas ekonomi.
Air mata Daniella terjatuh saat ia mengingat perlakuan Essa kepadanya. Daniella kira Essa mencintainya. Semuanya sudah ia berikan kepada Essa. Tidak hanya uang, tapi juga tubuhnya yang hampir setiap malam selalu Essa nikmati.
"Essa, aku akan membuat perhitungan denganmu!" Daniella menghapus air matanya.
"Ke mana anak itu?" Daniella mencari keberadaan adiknya.
Daniella pun melihat seseorang yang dicarinya.
"Rachel?" Daniella berteriak.
Rachel pun menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Daniella yang berjalan ke arahnya dengan mata yang sedikit memerah.
Rachel memutar bola matanya. Ia merasa sangat malas bertemu dengan Daniella saat ini.
"Rachel, ada yang ingin kakak bicarakan padamu!!" Daniella memegang tangan adiknya.
"Aku sedang sibuk," Rachel menghempaskan tangan Daniella.
"Kumohon, Rachel!" Daniela memelas.
"Kau ingin bicara apa? Kau ingin bicara mengenai kekasihmu itu?" Rachel mendelik kesal.
"Haha, akhirnya kau tahu mengenai kelakuan kekasihmu yang tak berguna itu!" Rachel tertawa mengejek.
"Rachel, kakak serius. Kakak sangat sedih sekarang," Daniella memperlihatkan wajahnya yang sedang dilanda kesedihan.
"Sakit kan? Itu baru kekasih. Lalu, bagaimana dengan pernikahanku? Tidakkah kau berpikir, bagaimana perasaanku saat suamiku sendiri menuduhku menipu keluarganya?" Rachel tak gentar menatap Daniella dengan mata elangnya.
"Rachel, aku menyesal!" Daniella menundukan wajahnya.
"Penyesalanmu tidak akan merubah apapun. Penyesalanmu tidak akan mengembalikan kepercayaan dari suamiku," mata Rachel berkaca-kaca.
"Ayo kita bicarakan ini di tempat yang semestinya!" Daniella melihat banyak mahasiswa melihat ke arah mereka.
"Aku tidak perlu membicarakan apapun denganmu," Rachel menolak.
"Rachel, hanya kau yang aku punya sekarang. Tuan Kai sudah memecatku hari ini dari perusahaannya. Mungkin sebentar lagi aku akan ditendang dari rumah pemberian darinya. Tegakah kau membuat kakakmu ini menjadi seorang homeless?"
"Dipecat?" Rachel terkejut mendengar ucapan Daniella karena ia belum mengadukan apapun kepada ayah mertuanya.
"Iya, karena aduan darimu tuan Kai memecatku. Jika saja kau belum mengadu, aku akan memperbaiki semuanya dan mengembalikan uang itu."
"Mengembalikan? Butuh berapa lama kau mampu mengembalikan uang sebanyak itu, kak?" Rachel meninggikan suaranya.
"J, lihatlah! Sepertinya istrimu tengah bertengkar dengan wanita itu!" Kata Archie kepada Jasper saat mereka keluar dari fakultas.
__ADS_1
"Tidak usah menyebut dia istriku! Aku tidak sudi suka kau menyebutnya dengan kata istri!" Ucap Jasper dengan pedas.
"Lalu, apa yang salah? Dia kan istrimu?" Archie tampak keheranan.
"Kami sebentar lagi akan bercerai. Kau puas?" Jasper meninggalkan Archie yang masih menatap Rachel dan juga Daniella.
"Apa yang mereka pertengkarkan? Apakah mereka bertengkar mengenai bagian uanh itu yang tidak dibagi rata? Dasar memalukan!" Jasper berkata di dalam hatinya.
*****
Rachel pergi ke arah sebuah gedung yang menjulang tinggi mencakar langit. Gedung itu adalah perusahaan milik ayah mertuanya. Sekeras apapun Rachel tidak peduli mengenai Daniella, tetapi hati kecilnya berkata lain. Rachel tidak ingin kakaknya hidup menggelandang di luar sana. Rachel bertanya-tanya dari mana Kai bisa tahu mengenai masalah uang itu dan Daniella?
"Ada angin apa menantuku datang ke mari?" Kai menyambut kedatangan menantunya itu ke ruangan kerja miliknya.
"Aku ingin berbicara dengan Papa," ujar Rachel dengan senyumnya yang tulus.
Tidak mudah untuk bertemu dengan Kai. Rachel sempat berdebat dengan seorang resepsionis kantor untuk bisa bertemu dengan Kai. Beruntung, Rachel bisa menghubungi ayah mertuanya sehingga ia diantarkan ke ruangan pribadi Kai oleh seorang sekretaris yang bernama sama dengannya.
"Pa, mengapa Papa memecat kakak?" Rachel bertanya langsung kepada inti permasalahan.
"Karena dia memperalatmu dan memanfaatkan kebaikan istriku," jawab Kai dengan santai.
"Papa sudah tahu?" Rachel tampak terkejut.
"Tentu saja. Aku mengetahui semuanya. Bukankah kakakmu menggunakan uang dari istriku untuk memanjakan kekasihnya?"
Lagi-lagi Rachel terkejut karena Kai mengetahui semuanya. Kai memang tahu semua dari orang kepercayaannya, termasuk laporan keuangan rekening yang Rachel pakai.
"Maafkan kakakku, Pa. Aku tahu dia bersalah. Aku tidak meminta Papa menerima kakakku lagi bekerja. Tapi bisakah Papa tidak mengusir kakak dari rumah yang Papa berikan?" Rachel menyorotkan mata permohonan.
"Memangnya siapa yang akan mengusirnya?" Kai menaikan sebelah alisnya.
"Bukankah-"
"Aku tidak akan mengusir orang lain dari rumahnya sendiri. Aku dan istriku memang memberikan rumah itu kepada Daniella, hanya saja akta rumahnya memang masih ada pada kami. Kami tidak akan pernah meminta apa yang sudah kami berikan kepada orang lain," jelas Kai dengan santai.
"Papa, terima kasih," Rachel menangkup tangan Kai lembut. Ia merasa sangat terharu dengan sikap ayah mertuanya yang begitu baik dan bijaksana. Rachel kemudian kembali menarik tangannya dari tangan Kai. Walaupun sikap mertuanya itu sedikit dingin, tetapi Rachel sudah menganggap Kai sebagai orang tuanya sendiri.
"Rachel, apa putraku berkata akan menceraikanmu?" Kai bertanya dengan mimik wajah yang serius.
"Iya. Bahkan tadi pagi dia memintaku untuk menandatangani sesuatu tetapi aku tidak mau," Rachel meneteskan air matanya.
"Rachel, coba tanyakan apa yang membuat Jasper bahagia saat ini!"
"Aku tidak bisa bertanya hal itu. Karena aku tahu, yang Jasper inginkan adalah perpisahan kami!" Rachel menatap Kai dengan sendu.
"Lalu, jika Jasper sudah tidak bahagia denganmu, apakah kau akan terus mempertahankan pernikahanmu? Kai bertanya sekali lagi yang langsung membuat hati Rachel nyeri. Rachel tahu pasti apa jawabannya.
"Lepaskan apa yang seharusnya dilepaskan! Biarkan putraku memilih apakah dia akan meneruskan pernikahannya denganmu atau tidak," Kai memberikan sarannya lagi.
"Aku akan mencoba bertanya kepadanya," Rachel berkata nyaris sebuah gumaman.
"Tanyalah dari hati ke hati dengan putraku!" tambahnya.
__ADS_1
Rachel mengangguk pelan.
"Jasper, aku rasa perpisahanlah yang akan menyadarkanmu!" Batin Kai.