Mari Kita Bercerai

Mari Kita Bercerai
Hilang Kesadaran


__ADS_3

Jasper mengobrak-abrik lemari pakaian Daniella. Ia seakan lupa dengan sopan santunnya di rumah itu. Rachel benar-benar membuat Jasper lepas kendali.


"Ke mana istriku?" Jasper mengalihkan pandangannya ke arah Daniella.


"Sudah ku bilang dia tidak ada di sini," Daniella berterus terang.


"Sebenarnya ada apa?" Daniella melunakan suaranya. Berharap meredam emosi adik iparnya.


Jasper terdiam. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Daniella mengikuti jejak langkah pemuda jangkung itu.


"Tolong katakan di mana Rachel, kak!" Jasper masih tidak mau menyerah.


"Sudah kakak katakan, kakak tidak tahu dia ada di mana. Sudah satu tahun ini kami tidak pernah bertemu dan berkomunikasi," Daniella berkata jujur.


"Setahun?" Jasper tampak kaget.


"Iya. Kami sudah tidak saling bersua setelah kejadian itu," Daniella menatap nanar wajah Jasper. Perasaan bersalah terus menghantuinya selama satu tahun ini. Dirinya sudah menjadi monster yang menghancurkan pernikahan adiknya.


"Kejadian?" Jasper masih tidak mengerti titik masalahnya.


"Waktu istrimu meminjam uang kepada Nyonya Alula. Aku yang membohonginya. Aku berkata jika uang itu untuk orang tua kami yang sakit. Padahal aku gunakan untuk kekasihku. Setelah Rachel tahu semuanya, Rachel datang ke sini dan mengamuk kepadaku. Dia bilang aku menghancurkan rumah tangganya. Setelah kejadian itu, Rachel memutus hubungannya denganku," Daniella meneteskan air matanya.


Deg...


Wajah Jasper tampak pias seperti tidak dialiri darah.


"Tapi akhirnya aku merasa senang. Kau datang ke sini dan mencari istrimu. Itu artinya kalian tidak jadi bercerai kan? Karena setahun yang lalu Rachel menangis karena kau mengajaknya berpisah," lanjut Daniella.

__ADS_1


"Tunggu! Jadi, intinya Rachel tidak menikmati uang itu?" Jasper memperjelas.


"Iya. Dia sama sekali tidak menikmati uang itu. Dia tidak mengambil satu sen pun," Daniella membenarkan.


"Dan yang memaksanya untuk menikah denganmu pun adalah aku. Aku yang memaksanya untuk mengaku kepada keluarga kalian jika adikku sudah tidur denganmu. Maafkan semua kesalahanku!" Daniella menundukan wajahnya.


"Selama satu tahun ini aku hidup dalam rasa bersalah yang amat besar. Aku merindukan adikku," Daniella terisak.


Jasper mengepalkan tangannya. Ia benar-benar sudah salah sangka kepada istrinya itu.


"Jadi, Rachel tidak memanfaatkan uang keluargaku," gumamnya.


"Tentu saja tidak. Sudah ku katakan dia tidak menikmati uang yang diberikan oleh ibumu satu sen pun. Lalu, mengapa kau mencari adikku? Apa rumah tangga kalian masih baik-baik saja?" Daniella mencari tahu.


"Aku dan adikmu sedang dalam tahap perceraian. Bahkan setahun ini kami bagai hidup terpisah dan semua karena keegoisanmu," Jasper menatap marah kepada Daniella.


"Adikku tidak salah apapun. Mengapa kau memutuskan berpisah dengannya?" Daniella tampak tidak terima.


Jasper berdiri dari duduknya. Ie menatap tajam kepada Daniella. "Andai saja kau tidak berbohong waktu itu, mungkin istriku masih di sini, di sampingku," ucap Jasper kemudian ia berlalu meninggalkan Daniella tanpa berpamitan.


****


Sudah seminggu ini Rachel hanya berdiam di tempat tidur. Morning sickness yang di alaminya benar-benar parah. Semua makanan yang Rachel makan terus menerus ia muntahkan lagi.


"Kepalaku sangat pusing!" Rachel berpegangan kepada meja makan agar tubuhnya tidak ambruk.


"Ibu!" Rachel mendudukan dirinya di lantai. Kemudian ia hilang kesadaran.

__ADS_1


Rachel terbangun di sebuah kamar perawatan. Ia mendapati tangannya tengah di infus dan mertuanya tengah terduduk di sampingnya.


"Mama?" Rachel berbisik lemah.


"Sayang, kau sudah sadar. Mama panggilkan dulu Dokter," Alula bergegas mencari dokter.


"Nona, anda sangat kekurangan nutrisi dan cairan. Oleh karena itu, anda harus di rawat selama beberapa hari ke depan untuk memulihkan kondisi dan untuk memantau terus kesehatan janin anda," jelas dokter itu kepada Rachel.


"Dirawat? Apa tidak bisa istirahat di rumah saja?" Rachel menawar.


"Sebaiknya anda ikuti saran dari dokter," Dokter itu tersenyum kemudian berpamitan keluar.


"Ma, Rachel tidak suka di rumah sakit," Rachel menangis kepada Alula. Alula dan Kai memang langsung pergi ke kota London begitu Bi Ely mengabarkan jika Rachel tidak sadarkan diri.


"Kau harus dirawat di sini, sayang. Tubuhmu belum pulih," Alula mengusap rambut Rachel dengan lembut.


"Aku ingin di rumah saja, Ma. Aku dan bayiku bisa stres di sini," Rachel masih merajuk.


"Kau tidak khawatir dengan bayimu?" Alula tampak kecewa dengan sifat keras kepala menantunya.


"Justru karena aku khawatir dengan bayiku, Ma. Aku takut lama di rumah sakit membuatku stres dan tertekan. Aku tidak akan bisa tidur di sini," Rachel terisak.


Alula menatap Rachel dengan intens. Ia tampak berpikir.


"Baiklah. Mama dan Papa akan mengupayakan agar kau bisa di rawat di rumah," Alula mengiyakan. Bagaimana pun Alula tidak ingin Rachel merasa tertekan. Itu akan sangat berpengaruh kepada kehamilannya.


"Terima kasih, Ma. Hanya Mama yang Rachel punya saat ini," Rachel mengambil tangan Alula dan menggenggamnya penuh arti.

__ADS_1


"Sayang, hamil tanpa seorang suami sangatlah berat. Bagaimana jika kita beri tahu suamimu mengenai kehamilanmu ini?" Alula berbicara dengan lembut.


__ADS_2