
4 tahun kemudian....
Rachel tengah menyaksikan pidato dari rektor universitas di hari kelulusannya saat ini. Ya, saat ini Rachel tengah duduk dengan memakai toga berwarna biru tua yang menjadi khas dari Universitas Columbia, Amerika Serikat. Rachel lulus dari program magisternya dengan gelar cumlaude.
Wisuda diadakan di lapangan terbuka. Semua wisudawan dari berbagai belahan dunia merasakan panas yang sama. Tapi tidak dengan hati mereka yang saat ini begitu gembira dengan apa yang sudah di dapat.
Setelah rektor memberikan sambutan, dalam wisuda ini juga disebutkan orang-orang yang menerima gelar doktor HC. Masing masing doktor HC dipersilahkan untuk naik ke atas panggung. Mereka diberikan selamat, piagam, dan di perkenankan untuk duduk kembali di kursinya. Rachel menyimak semua rentetan ceremony dengan hati yang gembira. Akhirnya impiannya terwujud, melanjutkan kuliah di salah satu universitas bergengsi dunia.
"Sayang, selamat!" Jasper berlari dan memeluk istrinya setelah selesai rentetan acara wisuda. Pria itu menc*ium bibir istrinya dengan lembut.
"Terima kasih, sayang!" Ucap Rachel setelah ia melepaskan ci*umannya.
"Mana yang lain?" Rachel tampak celingukan mencari keberadaan keluarganya.
"Mereka masih di rumah. Ini masih sore. Lebih baik kita berjalan-jalan untuk memperingati hari wisudamu," Jasper langsung mengambil tangan istrinya dengan hangat.
Mereka berjalan-jalan di kawasan Times Square, tempat ikonik yang ada di kota New York. Orang-orang memberikan selamat kepada Rachel. Ini memang sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, penduduk kota akan memberikan selamat kepada para wisudawan walau mereka tidak mengenal wisudawan itu.
"Lihatlah, mereka bahagia dengan kelulusan istri cantikku ini!" Jasper mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Ini semua berkatmu. Kau yang selalu memberikan aku semangat," Rachel berkaca-kaca melihat raut wajah suaminya.
"Aku? Jangan lupakan putra kita!" Jasper menyipitkan matanya.
"Tentu saja. Ayo kita pulang! Aku ingin bertemu dengan Emrick," rengek Rachel dengan menyebutkan nama putranya.
"Emrick bersama Mama. Aku ingin menghabiskan waktu dulu bersama istriku," Jasper menarik tubuh Rachel untuk lebih mendekat padanya.
"Aku tidak menyangka kita sudah berjalan sejauh ini," mata Rachel berkaca-kaca mengingat semuanya.
Flashback...
Dokter memeriksa kondisi kehamilan Rachel. Kondisi plasentanya tetap berada di bawah dan menutupi jalan lahir. Dokter pun memberikan rekomendasi agar Rachel menjalani persalinan dengan operasi sectio caesarea (SC). Jasper langsung menyetujui setelah mendengar pertimbangan-pertimbangan dokter untuk dilaksanakannya SC.
"Sayang, ada yang ingin bertemu denganmu!" Jasper memegang tangan istrinya dengan lembut.
"Siapa?" Jawab Rachel dengan posisinya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Masuklah!" Pinta Jasper kepada orang yang berada di balik pintu kamarnya.
Seorang wanita yang amat Rachel rindukan muncul dari balik pintu.
"Ibu?" Air mata menetes saat Rachel melihat ibu yang telah melahirkannya ada di depan matanya.
"Rachel!" Anelia menatap putri bungsunya dengan tatapan rindu. Tak lama, Daniella ikut masuk ke dalam kamar milik adiknya.
Anelia langsung berlari dan memeluk putri bungsunya itu dengan penuh kerinduan. Bertahun-tahun lamanya mereka tidak bertemu.
__ADS_1
"Ibu merindukanmu!" Anelia menangis tersedu.
"Aku juga merindukanmu, Bu!" Rachel memeluk ibunya dengan erat. Seolah takut mereka akan terpisahkan kembali.
"Maafkan ibu, Nak!" Anelia berkata dengan parau dan terus menangis. Kemudian ia mengurai pelukan itu.
"Kau sehat, sayang?" Anelia menelungkup wajah putri bungsunya.
"Ibu, ceritakan kepadaku mengapa ibu ada di sini!" Rachel memegang tangan ibunya erat.
"Suamimu yang membawa ibu ke sini, Nak," Anelia menciumi tangan putrinya.
"Terima kasih," Rachel melihat wajah suaminya. Jasper sudah menunaikan janjinya walaupun ia tidak membawa pulang istrinya ke Bulgaria.
"Di mana, ayah?" Rachel tampak mencari keberadaan ayahnya.
"Nicolay tidak ikut. Sebaiknya kau jangan tanyakan dia!" Anelia berkata dengan marah.
"Ibu, ada apa?" Rachel tampak mencari tahu.
Anelia terdiam. Ia berusaha tegar untuk bercerita semuanya.
"Setelah kepergianmu ibu begitu tersiksa, Nak. Ibu mengira bisa bahagia dengan uang yang diberikan oleh suamimu. Ibu menjalani hari-hari dengan keputus asaan karena kedua putri ibu pergi. Ibu sangat merindukan dan mencemaskan kalian. Ibu seperti hidup dalam neraka yang ayah kalian buat," Anelia terisak.
"Setelah menjualmu, ayah kalian selalu bermain jud*i, l*otre. Bahkan beberapa waktu lalu, kami pindah karena ayahmu memenangkan undian. Tapi, hal itu tidak kunjung membuat hati ibu tenang. Ayahmu tetap bermain j*di dan mab*uk-mab*kan hingga uang itu habis. Dan tanpa ibu sadari, di luar sana ayahmu bermain wanita. Ibu tidak kuat dan memutuskan untuk menceraikannya. Sampai suatu waktu, ibu bertemu dengan orang-orang suruhan suamimu dan membawa ibu ke sini," jelas Anelia.
Jasper hanya berdiri dan menyimak pertemuan Rachel dan ibunya.
"Ibu mana yang bahagia ketika ditinggalkan oleh anak-anaknya?" Anelia semakin tersedu.
"Anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya disebut yatim piatu. Tapi tidak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya. Pedihnya seorang orang tua adalah ketika ditinggalkan oleh anaknya."
"Maafkan aku, Bu!" Rachel semakin tersiksa mendengar tangisan ibunya.
"Tidak apa-apa," Anelia melihat ke arah perut putrinya.
"Cucuku?" Anelia mengelus perut Rachel yang sudah besar.
"Iya, ini cucu ibu."
"Bagaimana kehidupanmu, Nak? Ibu tidak menyangka kau menikah dengan orang yang sudah membelimu," Anelia melirik ke arah Jasper.
"Kejadiannya tidak seperti itu, Bu. Kami tidak menikah setelah kejadian di pasar pengantin itu. Tapi tuhan dengan takdirnya mempertemukan kami kembali dan menyatukannya," Rachel menatap wajah suaminya dan tersenyum.
"Kau bahagia?" Anelia mencari kejujuran di mata putrinya.
"Aku bahagia. Aku sangat mencintai suamiku jauh sebelum dia jatuh cinta kepadaku," Rachel berkata dengan menatap wajah suaminya.
__ADS_1
Hati Jasper menghangat. Jantungnya berdebar-debar. Ingin rasanya dia meloncat kegirangan mendengar pernyataan cinta dari istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu," Jasper tersenyum bahagia.
"Terima kasih karena sudah membawa ibu," Rachel masih menatap suaminya dengan hangat. Jasper mengangguk sebagai jawaban.
"Rachel?" Daniella akhirnya bersuara setelah lama diam.
Rachel diam tak menjawab sapaan kakaknya.
"Kakak ke sini mengantar ibu dan ingin bertemu denganmu. Sebenarnya kakak malu untuk datang padamu. Hidup kakak dihantui rasa penyesalan yang dalam. Kau memutus kontak dengan kakak rasanya dunia kakak runtuh. Memang semua akan lebih berarti jika orang itu sudah meninggalkan kita," air mata menetes dari mata Daniella.
"Walaupun kakak tahu kau tidak akan memaafkan kakak, tapi kakak tetap ingin meminta maaf kepadamu. Maafkan kakak yang sudah membuat hidupmu lebih sulit! Maafkan kakak yang sudah hampir membuatmu berpisah dengan suamimu," Daniella semakin terisak.
Rachel diam dalam waktu yang cukup lama. Ia mengalihkan tatapannya kepada Jasper. Jasper hanya mengangguk sembari tersenyum lembut.
"Aku memaafkanmu, kak! Walaupun aku benci mengakuinya, tapi karena paksaan darimu aku mendapatkan cintaku," Rachel berusaha tersenyum.
"Kau memaafkan kakak?" Daniella duduk di samping Rachel.
"Iya. Aku memaafkanmu, kak. Tolong rubah semua sifat burukmu!"
"Tentu. Tentu saja," Daniella mengangguk dengan haru.
Anelia diminta tinggal oleh Jasper sampai dengan istrinya melahirkan. Rachel menyuruh ibunya untuk tetap berada di sisinya. Tapi Anelia tidak bisa, ia mempunyai kehidupan sendiri di Bulgaria. Setelah perpisahan dengan suaminya, Anelia hidup bersama adiknya dan berkebun anggur di Bulgaria.
"Ibu tidak bisa meninggalkan bibimu," begitulah jawaban Anelia saat Rachel berkali-kali memintanya untuk tetap tinggal. Akhirnya Rachel menyetujui semua pilihan hidup ibunya.
****
Hari yang dinantikan tiba, hujan turun di hari ini, hari kelahiran putra dari Rachel dan Jasper. Dokter memang sudah memberi tahukan mengenai jenis kel*min bayi Rachel dan Jasper. Semua keluarga tampak berkumpul di rumah sakit untuk menyambut anggota termuda keluarga Allen.
"Kau cemas?" Tanya Jasper kepada istrinya yang tengah memperhatikan rintik hujan dari kaca kamar perawatannya.
"Aku takut," Rachel menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"Semuanya akan baik-baik saja," Jasper menguatkan.
Tak lama, petugas medis meminta izin untuk membawa Rachel ke ruang operasi. Semua tampak bersiap. Jasper pun mengikuti langkah petugas medis yang mendorong kursi roda istrinya. Ia memang diperkenankan untuk masuk ke dalam ruang operasi dengan beberapa pertimbangan dan perjanjian untuk tidak mengganggu jalannya operasi.
Sebelum berbaring, Rachel dipasangkan kateter, infus dan monitor holter untuk merekam ritme jantung. Dokter segera memulai operasi, dokter anestesi menyuntikan obat bius epidural di saraf tulang punggung bagian bawah. Obat bius ini akan membuat setengah area tubuh Rachel mati rasa ketika proses persalinan.
Jasper terus berbisik menguatkan istrinya. Rachel mengangguk dan tetap tenang. Sementara para petugas medis yang ada di ruangan berusaha untuk mengeluarkan calon bayi mereka dengan sehat dan selamat. Beberapa menit berselang, terdengar suara tangisan bayi yang memecah keheningan. Air mata menitik di mata Rachel dan juga Jasper.
"Bayinya sangat sehat," beri tahu perawat yang menjadi bagian dari tim operasi. Sesaat kemudian, bayi itu di telungkupkan di dada Rachel untuk inisiasi meny*usui dini.
"Wajahnya mirip denganku," ucap Jasper dengan air matanya yang meleleh.
__ADS_1
"Aku namakan Emrick Abercio Allen yang berarti putra pertama yang akan menjadi pemimpin yang baik hati dari keluarga Allen," lanjutnya dengan perasaan haru.
Hallo semua, 2 Bab lagi novel ini akan tamat. Author ucapkan beribu terima kasih kepada kalian yang membersamai novel ini dari awal sampai akhir. Maafkan ya karena novel ini kurang greget, mungkin hal ini berbarengan dengan tidak fokusnya otor karena berbarengan dengan beberapa aktivitas yang penting di dunia nyata. author mau minta saran nih, setelah kisah Jasper tamat, author harus membuat novel apa? Apa kisah Kimberly si gadis angkuh dan dingin alias adik dari Jasper atau Aurora, atau kita buka tokoh yang ga berhubungan dengan mereka? Komen ya untuk sarannya 🤗