
Setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari, Rachel diizinkan pulang dari rumah sakit. Jasper langsung menjemput Rachel dan membawanya ke bandar udara international kota Sapporo.
"Kita akan langsung pulang?" Tanya Rachel saat mengetahui tujuannya saat ini adalah bandara.
"Iya," jawab Jasper dengan pendek.
"Aku belum berpamitan kepada Kaori," Rachel berkata dengan sedih.
"Tenang saja. Aku sudah menyampaikan salam perpisahan darimu."
"Salam perpisahan? Salam perpisahan seperti apa?" Rachel menautkan alisnya.
"Tentu saja kata-kata selamat tinggal," Jasper tertawa melihat raut wajah Rachel yang kesal.
"Oh kupikir apa," Rachel bernafas lega.
"Kau cemburu?"
"Tentu saja. Kau kan suamiku. Bukankah kau bilang aku adalah istrimu?"
"Iya, gadis ceroboh. Kau istriku," Jasper mencubit pipi Rachel dengan gemas.
"Aku ingin segera pulang ke Inggris. Aku rindu rumah kita," ungkap Rachel ketika mereka tiba di bandara.
Setelah menghabiskan waktu perjalanan 20 jam dari Jepang ke Inggris, pasangan suami istri itu tiba di bandara internasional Birmingham. Mereka langsung pesan taksi dan pulang ke rumah.
"Kau lelah?" Tanya Jasper saat mereka sudah sampai di rumah.
"Iya. Aku lelah sekali," Rachel menguap.
"Kalau begitu kita istirahat," Jasper membawa koper ke dalam kamar.
Mereka pun membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Rachel, kita kan sudah mengakui satu sama lain. Atau kita ini sudah pasangan istri pada umumnya. Bolehkah?" Jasper bergumam. Kini mereka berbaring dengan saling berhadapan.
"Bo-boleh apa?" Rachel menjawab dengan terbata.
"Masa kau tidak mengerti," Jasper berdecak pelan.
"Jasper, ini masih terlalu dini. Kau belum melupakan Aurora," Rachel langsung memunggungi suaminya.
"Aku tidak bisa melupakan Aurora," Jasper masih bergumam.
"Mengapa?" Rachel langsung membalikan tubuhnya menghadap suaminya lagi.
"Kalau kau ingin aku melupakan Aurora, berarti kau harus membuatku amnesia," Jasper terkekeh.
"Bukan itu maksudku," Rachel memelototkan matanya.
"Kemarilah!" Jasper mendekap tubuh istrinya dengan lembut.
"Rasanya nyaman sekali!" Rachel menghirup dalam wangi khas tubuh suaminya.
*****
Hari baru telah Jasper dan Rachel mulai. Mereka berkomitmen untuk saling menerima kehadiran masing-masing. Perkuliahan pun sudah dimulai kembali. Jasper dan Rachel menikmati sarapan mereka dengan penuh canda dan tawa serta dengan obrolan yang cukup hangat.
__ADS_1
"Ayo!" Ucap Jasper saat ia sudah selesai dengan sarapannya.
"Ayo ke mana?" Rachel bertanya dengan bingung.
"Ayo kita pergi ke kampus bersama!" Jasper menadahkan tangannya.
"Tidak apa-apa jika aku ikut di mobilmu?" Rachel bertanya dengan ragu.
"Tentu saja. Kau istriku. Aku akan mengumumkan mengenai status hubungan kita yang sebenarnya," Jasper tersenyum.
"Benarkah kau akan melakukan itu?" Rachel terlihat terkejut.
"Tentu saja," Jasper mengangguk dengan mantap.
"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Rachel langsung menerima uluran tangan suaminya dengan bersemangat. Mereka pun berangkat ke kampus bersama-sama.
"Jasper, kau yakin akan membuka hubungan kita yang sebenarnya?" Rachel memastikan.
"Tentu saja. Aku akan mengatakan jika kita adalah sepasang suami istri," Jasper menjawab tanpa ada keraguan.
"Bisakah kau batalkan saja?" Rachel menoleh ke arah suaminya yang tengah menyetir.
"Batalkan?" Jasper langsung menepikan mobilnya.
"Mengapa kau ingin aku membatalkannya? Pasti kau tidak ingin Hans tahu mengenai hubungan kita?" Terlihat gurat kecewa di wajah pria itu.
"Bukan begitu. Aku hanya merasa ini terlalu cepat. Teman-teman akan sangat kaget bila mengetahui hal itu. Terutama Aurora," Rachel memberikan alasan.
"Ada apa dengan Aurora?"
"Aku tahu Aurora pasti akan sulit menerima. Kurasa dia sudah jatuh cinta padamu," Rachel tampak sesak mengatakan hal itu.
"Percayalah padaku! Aurora sudah jatuh cinta padamu. Lebih baik kita teruskan saja. Rahasiakan pernikahan kita! Aku juga bingung bagaimana harus bersikap, bila orang-orang tahu kita menikah apalagi kita ini masih sangat muda."
Jasper pun tampak terdiam cukup lama.
"Baiklah jika itu maumu," Jasper berkata dengan kecewa. Kemudian ia melajukan mobilnya lagi menuju kampus.
"Aku masuk ke kelas lebih dulu ya?" Rachel dengan cepat keluar dari mobil suaminya.
Rachel berjalan dengan cepat, ia takut ada orang lain yang melihat dirinya turun dari mobil Jasper.
"Rachel?" Teriak seseorang.
Rachel menoleh. Ia melihat Hans tengah berlari ke arahnya.
"Rachel, kau ke mana saja?" Hans bertanya dengan terengah-engah.
"Aku?" Rachel menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kau kira aku berbicara dengan Rachel yang mana?" Hans menjawab dengan tersenyum.
"Aku hanya pergi berlibur sebentar," Rachel tidak berbohong.
"Pantas saja. Aku tidak bisa menghubungimu."
"Ayo kita masuk ke kelas!" Hans hendak menggenggam tangan gadis blonde itu.
__ADS_1
Jasper datang dan menabrak tangan Hans.
"Sorry!" Ucap Jasper dengan ketus.
"Kau lagi!" Hans berdecak pelan. Sementara Rachel hanya diam menatap wajah kesal suaminya.
"Rachel, jangan dekat dengan pria ini!" Jasper menarik tangan Rachel dan berlalu dari sana.
"Sebenarnya apa hubungan mereka? Mengapa Jasper sangat protektif sekali dengan Rachel?" Hans melihat Jasper dan Rachel yang kini bayangannya semakin mengecil.
"Jasper, lepaskan!" Rachel melepaskan cengkraman suaminya.
"Kenapa?" Jasper terlihat kesal.
"Aku takut ada yang melihat kita."
"Alasan itu lagi," Jasper tersenyum sinis. Ia sungguh tidak bisa membaca sikap istrinya. Bukankah Rachel sendiri butuh pengakuan sebagai seorang istrinya?
"Biar saja biar mereka tahu kita adalah pasangan suami istri," jawab Jasper dengan enteng.
"J, aku hanya ingin memastikan dahulu bagaimana perasaanmu terhadap Aurora."
"Tapi tidak sekarang. Ini terlalu mendadak," tolak Rachel.
"Kalau begitu terserah kau saja!" Jasper masuk ke kelasnya meninggalkan Rachel sendirian.
"J!" Sapa Aurora yang hari ini terlihat sangat cantik.
"Ke mana saja?" Tanya Aurora seraya mendudukan dirinya di samping pria yang diam-diam sudah beristri itu.
"Aku pergi ke Jepang dan berlibur di sana," jawab Jasper sembari menatap Rachel yang masuk ke dalam kelas.
"Ke Jepang? Mengapa kau tidak mengajak kami?" Tanya Archie yang berdiri di belakang Aurora.
"Iya. Mengapa kau tidak mengajakku? Padahal aku ingin ke Gunung Fuji dan Hutan Aokigahara," timpal Aurora.
"Hutan Aokigahara? Kau ingin mengakhiri hidupmu di sana?" Jasper tertawa mendengar ucapan Aurora. Hutan Aokigahara memang hutan menyeramkan yang ada di Jepang. Hutan itu dijadikan tempat orang-orang di sana untuk mengakhiri hidup.
"Tidak. Aku hanya ingin membuat konten di sana. Siapa tahu followers media sosialku naik dengan cepat," Aurora tertawa.
"Kau kan cantik. Kau bisa mendapatkan popularitas tanpa harus membuat konten," Archie menimpali.
"Benarkah? J, benarkah aku cantik?" Aurora merapikan rambutnya dan meminta pendapat Jasper.
Rachel yang duduk di belakang mereka diam-diam ingin mengetahui jawaban dari suaminya.
"Tentu saja kau cantik. Semua wanita di dunia ini cantik dengan dirinya masing-masing," Jasper menjawab dengan tenang.
"Itu kan secara umum. Menurutmu, apa yang menarik dari dalam diriku?" Aurora tak menyerah meminta pendapat pria yang sudah mulai ia cintai.
"Menarik dari dirimu? Kau baik," Jasper menoleh ke arah Rachel. Ia ingin melihat ekspresi istrinya.
"Selain itu rambutmu sangat cantik!" Jasper tampak sengaja memuji Aurora.
Rachel pun mendelik kesal. Bahkan tanpa sengaja ia membanting ponselnya ke atas meja.
"Satu sama!" Batin Jasper yang melihat Rachel kesal.
__ADS_1
"Oh iya, J. Kami hari ini ingin main ke rumahmu. Bolehkan?" Pinta Aurora.