Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Ale?


__ADS_3

Dika membulatkan matanya kala melihat bagaimana rupa rumahku sekarang saat pria itu kerumahku pada siang harinya. Sesuai yang aku katakan, pria tua itu baru akan mengunjungiku keesokan paginya. Dan itulah yang terjadi, Dika bukan saja datang pada esok harinya, pria yang tak lagi muda itu bahkan dengan santainya datang di siang hari di saat pria itu mengatakan akan mengunjungi rumahku saat bertemu kemarin.


Sesungguhnya aku tahu, mengolok seseorang itu salah dan tak di benarkan- meski hanya dalam hati sekalipun.


Dan, apa yang kami lakukan bahkan tak dapat di benarkan lagi. Apa boleh buat, aku terpaksa melakukannya, maksudku tetap jadian dengannya; Dika lah yang memaksaku agar tetap mau jadian dengannya, meski aku sendiri telah jengah dengannya. aku sendiri menyanggupi masih jadian dengannya di karenakan tak mau mencari ribut dengannya. Akhirnya yang bisa kulakukan adalah menunjukkan ketidak sukaanku di dalam hati.


Rasa suka dan sayang yang seolah menguap karena di kecewakan berkali- kali itu ibarat sebuah kaca yang telah pecah, mau di perbaiki sebaik apapun tetap akan ada bekas yang tak dapat di tutupi, dan sepihan kaca yang tak bisa ikut di satukan itu ibarat rasa suka yang telah menghilang ikut terjatuh karena rasa kecewa tersebut. Bahkan sejujurnya aku sendiri mulai enggan berdekatan dengan pria yang masih mengaku sebagai kekasihku tersebut.


Dan Arnold yang tahu rasa enggan itu, benar- benar membantu ku agar aku sedikit menghindar dari pria yang tak lagi muda itu.


*

__ADS_1


“ aku memasak makan siang, kalian mau mencicipinya? Dan mungkin makan bersama?” tawar Arnold.


Tampak wajah kecewa Dika karena tak berhasil menyentuhku. Sekarang aku tahu apa alasan mengapa dari semua tempat di rumahku hanya pada pintu kamarku saja tak Arnold Rombak. Padahal kunci kamarku rusak dan tak bisa di kunci, bahkan kunci Slot sengaja pria itu lepas. Hal itu ternyata bertujuan agar Arnold dapat mengawasi ku saat Dika bermain kerumah dan hendak menyentuhku.


Dan tepat saat pria itu tahu jika Dika hendak menyentuhku, ia bergegas menuju dapur, memasak masakan sederhana dan mengetuk pintu kamarku secara sengaja lalu menawari kami masakannya.


Seperti yang aku katakan sebelumnya, Dika adalah tipe pengecut yang tak berani mengumbar di depan seseorang, ia takkan berani menyentuhku saat ada orang lain di rumah kita. Ia juga takkan berani menyentuhku di rumahnya, ia tak memiliki kamar di rumahnya karena rumahnya masih dibagi 2 dengan saudara jauhnya, lalu di bagi 2 lagi dengan kakak laki- lakinya yang telah berkeluarga.


Aku masih ingat kala Dika mengatakan kan mengontrak rumah jika sudah menikah denganku. Dulu aku yakin, ia akan menepati apa yang di ucapkannya. Sekarang, hanya ada keraguan ketika dia berucap.


“ ini.., kak Arnold yang buat?” heran Dika.

__ADS_1


Aku tahu ini adalah masakan sederhana dan di buat secepat kilat. Untuk menggagalkan apa yang akan di lakukan Dika, tapi siapa yang menyangka jika fried rice buatannya sangat lezat.


“ ya, biasanya- Ale lah yang memasak untukku, namun aku sudah lapar dan kalian tak kunjung keluar dari kamar, sehingga aku memasak fried rice ini sekalian aku menambah sedikit porsi nya untuk kalian.” ucap Arnold.


‘ Ale?’ heranku.


“e.., ehm, soal nya, dirumah aku tak bisa tidur kak, hanya di rumah Aldista saja aku bisa tidur.” ucap Dika sebagai alasan.


“ kenapa tidak bisa tidur?” heran Arnold.


“ aku kerja di rumah soalnya.” ucap Dika .

__ADS_1


“ oh, ya? Kerja apa?” ucap Arnold berbasa- basi. Aku memilih menyantap masakannya yang memang kuakui lezat.


*


__ADS_2