Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Pulang?


__ADS_3

Masih POV Author


Mereka asyik berbincang, hingga tak sadar jika ada seorang wanita yang berusaha mendekati Arnold.


Mungkin karena menyukai wajah tampan pria bule yang fasih berbahasa indonesia itu.


“ sir, permainan anda hebat sekali.” ucap wanita yang sok kenal dan sok dekat itu.


“ terima kasih.” ucap Arnold tersenyum.


“ anu..” ucap wanita itu dengan tingkah malu- malu.


“ boleh saya minta nomor anda, anda tampan sekali dan saya rasa saya menyukai anda.” ungkap wanita itu blak- blakkan. Melihatnya membuat Nathan dan Dika cekikian sementara Damien dan Brian hanya diam melihat saudara jauhnya ini di dekati seorang wanita.


“ nomor ku cuma satu, nona. Jika kau memintanya- nanti aku menggunakan nomor apa.” ucapan Arnold membuat teman wanita itu menertawakan wanita itu.


Dan Damien sendiri tampak biasa menghadapi situasi di hadapannya. Brian sendiri hanya menatap apa yang akan di lakukan saudara jauhnya tersebut sambil meminum minumannya.


“ bu.., bukan itu maksud saya. Boleh saya minta nomor chat anda?” ucap wanita itu berusaha.


“ kalau nomor chat saya anda gunakan, bagaimana jika saya di hubungi orang, nanti.” jawaban yang masih sama- keluar dari mulut Arnold.


“ kalau kau tak mau memberi nomormu katakan saja terus terang, Bro.” ucap Damien akhirnya.


“ kasihan wanita kekurangan bahan pakaian ini, ia nanti akan semakin kedinginan menunggu nomormu.” ucapan Brian membuat Nath juga Dika menahan tawanya.


“ kalau aku mengatakan terus terang- kasihan wanita ini, bukan? Nanti harga dirinya terluka.” ucap Arnold kepada Brian juga Damien.


“ nona, kau sudah dengar, bukan? aku tak mau memberi nomorku dan tak ingin kau ganggu, bagaimana jika kau menyingkir saja dari sini.” ucap Arnold beralih ke wanita yang menggodanya dengan nada bicara dingin meski wajahnya tersenyum.


‘ bukankah itu lebih menghancurkan harga diri wanita itu’ tanya Brian. Damien hanya mengangkat kedua bahunya.


“ a.., ayolah, sir. Jangan sombong begitu.” ucap wanita itu menempelkan buah dadanya ke dada bidang Arnold bahkan tanpa tahu malu merangkul lengan Arnold.


‘ menang banyak tu, mas Arnold.’ bisik Nath.


Mereka pikir Arnold akan senang, namun suara makian Arnold membuat mereka terkejut.


“ KAU INI T**I, HAH? AKU BILANG JIKA AKU TAK MAU MEMBERI NOMORKU ITU BERARTI; TIDAK!” umpat Arnold akhirnya. Bahkan air muka Arnold berubah menjadi gelap.


“ kau ini tak memiliki harga diri ya? Sebagai wanita kau harusnya menjaga tubuhmu seperti permata, bukan merendahkan harga dirimu seperti samp*h!” umpat Arnold bahkan tampak jika ia menghempaskan wanita yang mencoba merayunya itu hingga wanita itu terjatuh karenanya. Setelahnya, tampak jika ia mengibaskan tangannya di jacket yang tersentuh wanita yang menggoda nya tadi- seolah habis menyentuh benda kotor.


“ aku pulang! Moodku berubah menjadi jelek. aku menjadi mual dan mau muntah!” ucap Arnold meninggalkan tempat Billiard itu. Bahkan tampak jika Arnold membuang jacket yang di pakainya ketempat sampah lantaran tersentuh tubuh wanita itu.


“ a~h, akhirnya terjadi juga.” ucap Damien yang seolah tahu akan terjadi seperti ini.


“ kenapa ia bertingkah seperti itu?” heran Dika, sementara wanita itu tengah di bantu bangun oleh temannya.


“ dia itu benci wanita.” ucap Brian.


“ terutama wanita yang menempelkan tubuhnya seperti wanita tadi.” jelas Damien menatap wanita yang tengah menahan malu dan sakit tersebut- lantaran di hempaskan oleh saudara jauhnya- cukup kuat.


“ apa? Apa ia Guy?” tanya Dika.


“ tidak bisa di bilang guy juga.” ucap Brian mengenang..


“ kalian tahu, dalam hidup itu kadang nasib kita itu ibarat roda. Kadang di atas, kadang di bawah.” ucap Damien.


” iya, aku tahu.” jawab Dika karena ia juga pernah merasakannya. Meski banyak di bawahnya.


“ ada masanya keluarga Arnold itu di atas. Dan saat ia di atas, banyak orang yang mengaku temannya, mendekatinya karena ia sedang berada di masa jaya- jaya nya.” ucap Damien mengenang kisah saudara jauhnya itu sambil menyesap minuman dengan alcohol berkadar rendah tersebut.


“ dan ada kalanya ia berada di bawah. Dan saat ia di bawah, orang yang mengaku temannya seolah menghilang bagai di telan bumi. Padahal saat itu Arnold itu percaya pada orang yang mengaku teman nya mau membantunya di saat ia membutuhkan.


Akhirnya, Arnold meminta bantuan pada wanita yang mengatakan menyukai Arnold apa adanya. Wanita yang selalu menggandeng Arnold kemana saudara jauh kami itu, pergi.” lanjutnya.


“ kalian tahu apa yang wanita itu lakukan?” tanya Damien.


“ menusuknya dari belakang” tanya Dika.


“ ia bukan saja menusuk dari belakang, bahkan terang- terangan menunjukkan wajah jijik kepada Arnold. Itu yang membuat saudara kami itu membenci wanita, terutama yang sampai menempelkan tubuhnya ke tubuh Arnold.” ucap Damien menyesap beer nya lagi.


“ karena baginya, wanita seperti itu adalah wanita munafik, yang merayu seorang pria dan meyakinkan jika mereka menyukai pria apa adanya, padahal mereka melakukannya hanya sekedar merayu tanpa cinta di dalamnya.” ungkap Damien. Brian hanya menegak ice coklatnya, baginya yang di katakan kakak nya tersebut adalah masalah dewasa yang belum ia mengerti.

__ADS_1


“Kalian takkan percaya jika dulu Arnold pernah memasuki masa menjadi berandalan.” tanya Damien.


“ moso tho, mas?” benarkah itu, mas? tanya Nath tak percaya, setahu pria itu, Arnold adalah pria yang murah senyum dan supel bahkan suka bercanda. Tak akan ada yang menduga jika kakak tiri dari Aldista itu adalah berandalan.


“ ya. Berkelahi bukan saja menjadi makanannya setiap hari, ia bahkan seolah berteman dengan luka. Tiada hari tanpa terluka karena perkelahian.


Wajah gelap yang kalian lihat tadi adalah pemandangan biasa yang menghiasi wajah Arnold kala itu. Hal itu di sebabkan Arnold kecewa. Ia bukan saja kecewa pada orang yang di anggap temannya, ia kecewa pada orang tuanya.” ungkap Damien.


“ orang tuanya? Pada bibi Berta?” heran Dika.


“ bukan hanya pada Aunt Berta saja, tapi juga pada Uncle Lucas- ayah kandung Arnold. Tak heran, mereka selalu berangkat saat Arnold masih tidur dan selalu pulang saat Arnold sudah terlelap dalam mimpi.


Arnold kala itu masih memiliki keluarga lengkap, namun ia seolah sendirian.”


“ bukankah saat itu ia keluarganya berada di bawah, berangkat pagi- pagi itu bekerja.., atau..?” tanya Dika tak bisa melanjutkan kata- katanya.


“ karena uncle Lucas menyembunyikan sakitnya dari Arnold. Sampai tubuh uncle Lucas tak bisa lagi menutupi sakitnya dan di nyatakan tiada.”


“ lalu mas Arnold menyesal?” tanya Nath.


“ tidak, atau lebih tepatnya belum, ia memang merasa bersalah. Namun melihat aunt Berta yang tak menangis di pemakan suaminya itu membuat Arnold berpikir jika Aunt Berta tak mencintai ayah kandung dari Arnold tersebut. Dan hanya menikahi ayah kandungnya karena harta yang d miliki uncle Lucas.


Sampai Arnold menemukan Aunt Berta di malam hari- yang tertidur karena kelelahan dalam tangisnya- bahkan saat itu, Aunt Berta memeluk foto Uncle Lucas.


Dari sana Arnold menyadari jika sesungguhnya; aunt Berta sangat mencintai uncle Lucas. Aunt hanya berusaha kuat, ia tak ingin menjadi wanita lemah dan menangis di hadapan Arnold.


Karena jika ia sampai lemah dan menangis- siapa yang akan menguatkan Arnold?


Di sepertiga malam Arnold menangis. Ia menyesal. Ia terlalu mementingkan egonya hingga bahkan tak menyadari jika ayah kandungnya juga menanggung beban yang begitu berat karena tiba- tiba terjatuh hingga beban itu membuat tubuh ayah kandungnya tak lagi kuat menahannya dan membuat uncle Lucas sakit hingga tiada karenanya. Ia juga menyesal karena tak mengerti kesedihan yang di tanggung ibunya dan malah mencurigai ibu kandungnya tersebut.


Paginya Arnold memeluk Aunt Berta, ia meminta maaf dan menangis, ia berjanji akan berubah juga takkan lagi mengecewakan Aunt Berta apalagi membuatnya mengeluarkan air mata lagi.


Setelah itu, Arnold berubah seratus delapan puluh derajat. Arnold yang dulu merupakan berandalan yan tak kenal lelah berkelahi- kini berubah menjadi seorang anak yang menyayangi ibunya dan takut kepada ibu nya.


Namun, hanya satu yang tak berubah, yaitu:


kebenciannya pada wanita, terutama pada wanita yang tidak menyayangi tubuhnya.” ungkap Damien.


Suasana sempat hening hingga beberapa saat, namun ada seorang wanita yang tak belajar dari kesalahan temannya dan berusaha mendekati Damien.


“ aku memang tidak membenci wanita, tapi bukan berarti aku menyukai wanita murahan seperti kalian.” ucap Damien beranjak dari duduknya.


“ ayo kita pulang, Bri. Berlama- lama di sini akan merusak otakmu.” ucap Damien. Tanpa banyak kata, Brian mengikuti kakak kandungnya tersebut meninggalkan Nathan juga Dika yang saling berpandangan.


*???*


“ apa kita akan pulang ke rumah Aldista?” tanya Brian.


“ tidak, saat ini ia pasti sedang menenangkan diri dengan memeluk Aunty Berta.” ucapnya. Karena memang begitulah saat Arnold sedang kesal atau memiliki beban di hatinya. Ia akan langsung memeluk ibu kandungnya tersebut.


“ Aunt Berta? Tapi sekarang ia telah menikah lagi bukan? Apakah Arnold tetap akan memeluknya?” tanya Brian.


“ pasti sekarang ia ganti memeluk Ale. Makanya kita jangan sampai mengganggunya dan memperlihatkan- jika kita tahu hubungan mereka.” ungkap Damien yang tahu hubungan saudara jauhnya tersebut dengan adik tirinya.


Brian hanya mengangguk, lalu Damien memakai helm nya dan melajukan motor sport nya, ke sebuah penginapan.


*** rumah ***


“ apa kau lagi ada masalah?” tanya Aldista saat Arnold memeluknya tanpa banyak kata.


“ aku hanya membutuhkan pelukan, tidak lebih.” jawab Arnold sekenanya.


“ apa yang terjadi di tempat billiard?” tanya Aldista mengelus rambut pirang Arnold. Namun pria itu memilih diam, Aldista memilih mengelus punggung pria itu. Tanpa banyak kata, wanita itu tahu jika kakak tirinya itu sedang ada beban berat di hatinya, mungkin...,


teringat akan ayah kandungnya? Biasanya Aldista akan seperti ini juga ketika merindukan mendiang mama nya.


Namun, karena Aldista adalah orang yang tertutup, Aldista jarang bertingkah seperti seorang Arnold.


*** keesokan harinya ***


"papa.” panggil Arnold suatu hari. Bukan keesokan hari dari Arnold pulang ke tempat billiard. Karena, esoknya- matanya membengkak dan memerah, mungkin habis menangis.


Awalnya, Arnold malu keluar dari kamar, namun- Aldista tanpa banyak mengeluh mengompres mata bengkak Arnold. Bagi wanita itu, wajar jika manusia itu terkadang menangis. Tak peduli ia perempuan atau lelaki.

__ADS_1


‘ tak ada manusia yang tak bisa merasakan sedih, jadi wajar jika menangis. Bahkan orang dewasa sekalipun.’ ucap Aldista kala itu.


“ ya?” jawab papa yang sedang berada di kamarnya bersama dengan mommy Berta.


“Aku mau ijin dulu.” jawab Arnold. Tampak jika mommy Berta terdiam, mungkin karena tahu alasan Arnold akan ijin.


“Ijin?” heran papa.


“Ya, aku mau pulang ke Belanda. Aku hanya akan mengunjungi rumah mendiang ayah kandung ku di sana juga rumah keluarga besarku. Takkan lama, mungkin 2- 3 minggu, setelah itu aku akan kembali.” ungkap Arnold.


“ pulang?” tanya papa.


“ ya, entah bagaimana- aku sedikit merindukan mendiang ayahku, papa.” ungkap Arnold.


“ apa bersama dengan mommy Berta?” tanya papa.


“ tidak, sayang. Aku bukanlah bagian dari keluarga Holland. Aku memang masih menyandang nama Holland di belakang nama ku karena aku tak memiliki orang tua lagi, namun saat aku memutuskan menikahimu, aku bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Lagi pula aku istrimu sekarang. Jika aku ingin mengunjuni makam mendiang suamiku yang pertama, aku tetap harus bersama denganmu, bukan?” tanya Mommy Berta.


“ iya, papa. Mommy benar. Aku memang merindukan ayah kandungku, namun papa adalah papa sambungku sekarang, aku cuma akan pulang sebentar dan berziarah ke makam ayahku. Dan mungkin membersihkan rumah lama ayah ku.” ungkap Arnold. Ia tahu jika papa sambungnya ini sedang cemburu sekarang.


“ baiklah, hati- hati selama di perjalanan.” ucap papa.


“ tentu.” ucap Arnold.


*🌸* Kembali ke Pov Aldista *🌸*


“Kau akan kemana?” Tanyaku ketika Arnold mengemasi barangnya.


“Pulang.” ucap Arnold tetap mengemasi pakaiannya ke koper.


“Pulang? Rumah kita di sini. Atau kau mau ke Bali?” heranku.


“Aku akan pulang ke Belanda, Ale. Ada beberapa hal yang harus aku urus di sana.” ucap Arnold.


‘ jadi dia benar- benar menangis karena merindukan ayah nya?’ batinku.


“Begitu?” Entah mengapa, ia bahkan belum pergi, namun aku akan merasa kesepian karenanya.


“Kau mau ikut?” Tanya Arnold.


“ ikut?” tanyaku. Arnold menangguk.


“ memang boleh?” tanyaku.


“ memang tidak boleh.” tanya Arnold. Aku paling kesal saat pria ini membalikkan pertanyaanku seperti ini.


“ aku bukan bagian dari keluarga ayahmu, Ar. Apa boleh aku ikut?” tanyaku.


Arnold hanya tersenyum. Lalu mendekat padaku.


“ aku hanya takut ketika aku tinggal pergi, kau akan kesusahan menahan g*irah mu, Ale. Bagaimana jika kejadian di hotel terjadi? Kau sedang bergairah dan aku belum datang?” bisik Arnold mengingatkan kejadian dimana aku meraba tubuhku sendiri.


“ ih.” ucapku kesal lalu mendorong wajahnya, Arnold hanya terkekeh.


Sejujurnya, sebelum dia datang- aku memang selalu meraba tubuhku sendiri, namun, malu juga sampai ia tahu kebiasaan ku. Menjadi wanita dewasa dengan kebutuhan dewasa kadang memang membuatku tak bisa menahan diri.


“ jika kau mau ikut, segera bersiap, Damien dan Brian sebentar lagi datang.” ucap Arnold.


“ mereka akan ikut?” heran, dimana ada Arnold maka kedua saudaranya juga akan ada. Batinku lucu.


“ tentu, mereka juga bagian dari keluarga ku di Belanda.” ucap Arnold.


‘ ya, benar juga sie.’


“ apa papa akan membolehkan?” tanya ku.


“ bersiaplah dulu, nanti aku ijinkan.”


“ aku tidak mempunyai tas yang besar.” ucapku.


“ beli saja.” ucap Arnold gampang.


“ bukankah kau sedang bersiap?”

__ADS_1


“ baiklah, aku akan meminta Damien dan Brian membelikanmu koper juga.” ungkap Arnold mengetik di handphone layar sentuhnya.


...Bentar lagi POV versi Arnold jauh sblm ktmu Aldista😊...


__ADS_2