
Setelah makan, Dika benar- benar tertidur di kasurku.
“ masakanmu benar- benar Lezat.” ucapku, sementara, Dika tidur di kamarku, aku berbincang dengan Arnold di dapur.
“ aku suka kejujuranmu.” ucp Arnold memainkan handphone nya sambil duduk tak jauh dari aku mencuci.
“ tapi, aku sedikit terkejut karena kau sangat cepat sekali memasak, belum ada beberapa menit dari kau yang mengintip kamar ku saat pria tua itu hendak menyentuhku.” ucapku memelankan suaraku.
“ kau lupa jika semua bumbu sudah kau iris? Aku hanya tinggal memanaskan kompor, memasukkannya satu- satu, menambah telur, dan sedikit penyedap rasa.
“ ooo. Ide bagus bukan- mengiris semua bumbu- bumbu itu? Kita tak perlu repot saat akan memasaknya.” ucapku.
“ ya, kau benar.”
“ by the way. Kenapa ku menyebutku; Ale?” heranku.
“ itu panggilanku untukmu.” ucapnya.
“ooo.”
“ Aldista!” panggil Dika.
“ Hoi.” dari pada jawaban, lebih seperti ucapan reflek karena namaku di panggil.
“ ada apa?” jawabku lagi.
__ADS_1
“ aku harus pulang, ada pelangganku mau mampir kerumah untuk memesan sangkar.” jawab Dika.
“ Sangkar?” heran Arnold.
“ ya, kak. Aku pengrajin sangkar. Aku jual sangkar- sangkar ku di aplikasi daring.” ucap Dika.
“ o.” jawab Arnold sekenanya.
“ Aldista, kau mau ikut? “tawar Dika.
“ tidak! Kau tidak lihat semua cucian ini? Aku harus mencucinya, belum lagi cucian baju.” jawabku berusaha jujur.
“ ya sudah. Aku pergi dulu. Aku pergi, kak.” ucap Dika beramitan pada Arnold.
‘ come on! Rasanya aneh di panggil kakak oleh orang yang lebih tua dari ku.’ bisik Arnold.
“ hei adik tiri jelekku.” goda Arnold.
“ apa kakak tiri buruk rupa ku.” jawabku sambil melanjutkan mencuci baju.
“ apa calon mantan kekasihmu, benar- benar tak dapat memuaskanmu?”
“ ehem.” jawabku gampang.
“ berapa kira- kira ratio nya?” ucap Arnold terkekeh.
__ADS_1
“ antara 1000 dari 1001 ia hanya kuat bermain satu kali, ia bahkan selalu dapat pelepaannya dengan cepat. Berapa kali aku merayunya, ia selalu menghindar dengan berbagai alasan.”
“ tipe pria yang tak dapat memuaskan pasanganya, namun selalu memakai alasan agar tak mau di katai tak kuat ya.” kekeh Arnold.
“ tapi bukankah dari 1000 dari 1001 kali main, itu berarti ia pernah bisa bermain lebih dari satu kali?” ucap Arnold mengingat Ratio yang aku sebut.
“ tidak juga. Satu di antara seribu satu adalah aku yang meng*lum miliknya dua kali dalam satu hari.” ungapku.
“ aku yakin ia takkan bertahan meski di kedua kali, aku akui ******* mu sangat nikmat, kau juga pandai menggunakan lidahmu.” goda Arnold.
“ aku anggap itu pujian.” ucapku memberikan cucian yang sudah bersih kepada Arnold.
“ kenapa kau memberiku semua cucian ini?” heran Arnold.
“ untuk kau jemur tentu saja.”
“ APA?” ucap Arnold tak terima.
” haduh.., masa menjemur saja kau tidak mau. Ya sudah, bawa ke atas saja, aku yang akan menjemurnya.” geramku.
“ si.., siapa yang bilang tak mau. Aku hanya ingin kau mengulang apa yang kau perintahkan.” ungkap Arnold mengangkat rak cucian bersih untuk di bawa ke tempat menjemur
Aku hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan Arnold lalu memilih untuk kembali kekamar dan beristirahat.
Satu hari itu aku gunakan untuk istirahat karena sedang kedatangan dewi bulan merah tepat pada sore hari itu.
__ADS_1
Ya, lagi pula aku juga lelah seolah tak bertulang karena bermain semalaman.