Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Alasan


__ADS_3

Sesekali, kurasa aku harus ikut ke tempat Dika agar pria tua itu tak curiga. Lagi pula, kebetulan Arnold sedang pergi untuk bekerja. Dari pada di rumah sendiri, mungkin sesekali aku harus keluar.


Aku menatap ke suasana keluarga Dika. Kurasa, salah satu penyebab alasan mengapa aku tak kunjung mengakhiri hubunganku juga karena keluarganya. Aku telah mengenal keluarganya tidak cuma selama setahun- dua tahun yang membuat ku akan gampang melupakan mereka. Sebagian sudah kuanggap keluargaku sendiri, bahkan seperti kakak ku sendiri.


Ada yang juga kuanggap sebagai teman atau sahabat, ada beberapa yang aku sukai sifatnya- hanya sifatnya. Ada juga yang tak kusukai sifatnya. Hal yang paling akan membuatku merindu adalah para keponakan yang setiap aku bermain ke rumah Dika pasti lebih memilih memelukku dari pada uncle nya sendiri.


*


“ kak..” panggilku ke kamar Arnold.


“ hem?” jawab Arnold dengan mata terpejam. Tampak pria itu sudah akan tertidur.


“ boleh aku tidur disini?” tanyaku.

__ADS_1


“ hem?” tanya Arnold mulai membuka matanya yang terasa berat.


“ aku tidak bisa tidur.” ucapku ragu. Ini akan jadi kali pertama aku tidur di kamar kakak tiriku itu.


“ hem.” ucapnya sekenanya sambil membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Aku hanya tersenyum.


Lalu beranjak naik ke kasurnya. Melihat dada bidangnya, aku ingin sekali tidur di dada itu, sambil mendengar detak jantung pria yang menjadi kakak tiriku itu.


“ bagaimana harimu di rumah calon mantan kekasihmu?” ucap Arnold masih dengan memejamkan matanya. Mungkin hari- harinya melelahkan sampai ia langsung tertidur begitu sampai di rumah.


“ kau takkan merindukan pria yang akan menjadi calon kekasihmu?”


“ apa yang bisa dirindukan dari pria obsesif macam dia?” geramku.

__ADS_1


“ emm..? mungkin permainannya yang membosankan.” kekeh Arnold. Aku hanya terdiam, sambil mengelus dada bidang pria itu.


“ jangan jahil, Ale!” geram Arnold.


“ jangan membuatku lupa diri! Kau lupa jika kau sedang bloody moon?” geram Arnold. Sekali lagi aku hanya terdiam. Aku tersenyum merasakan perasaan hangat yang mengaliri dadaku. Jika kekasihku sendiri hanya bisa memaksaku, kakak tiriku bukan hanya tidak memaksaku bahkan mengertiku. Ia lebih memikirkan aku dari pada dirinya sendiri. Seandainya itu seorang Dika- apakah pria itu juga akan melakukan hal yang sama? Mungkin.., meski aku sudah mengatakan jka aku sedang bloody moon- ia tetap akan memaksaku melakukannya.


Aku tertawa kecil kala mengingat saat aku pernah mengatakan aku sedang bloody moon namun aku tak memakai pembalut karena sedang malas membelinya.


Dan saat itu, bloody moon ku sudah mau habis sehingga tak terlalu banyak. Dika yang sedang sangat ingin sampai memaksa ku yang setengah tertidur dan tak mempedulikan saat aku mengatakan jika aku masih dalam keadaan bloody moon. Alhasil saat ia sedang menciumi milikku, ia mengaku jika rasanya sangat pait.


Ia begitu terkejut karena ternyata yang ia jilat adalah darah bloody moon ku.


‘ itu bukan salahku kan? Aku sudah memperingatinya saat itu.’ batinku tertawa kecil.

__ADS_1


Sekali lagi aku melihat wajah Arnold karena tak mendengar suara kakak tiriku itu. Aku kembali tersenyum melihat wajah tampannya. Dalam hati aku bersyukur bisa bertemu dengan pria itu meski hanya sebagai saudara tiri.


Aku mengangkat wajahku untuk mencium pipinya lalu sekali lagi berbaring di dada nya.


__ADS_2