
β dia memang begitu, paling benci dengan orang yang seenaknya bermain dengan hukum.β ucap Arnold.
πΈ
Setelah kejadian itu, aku memilih pulang. Aku lelah, dan Dika sendiri harus membuatkan pesanan sangkar lainnya hingga tak bisa mampir lagi ke rumah ku, Damien sendiri memilih kembali untuk Apel. Mungkin sedikit memberi pelajaran Police yang tadi.
β begitu?β jawabku seadanya. Setelahnya, aku memilih diam, entah harus bertanya apa lagi.
β wajah mu tampak kusut begitu. Apa kau takut lihat wajah Damien sebenarnya?β tanya Arnold.
β tidak..β ucapku jujur. Aku kembali diam. Menatap berulang kali wajah Arnold lalu menatap kembali tanganku yang berada di pangkuanku.
β Arnold..β panggilku.
β hem?β tanya Arnold.
β apa kau juga seorang Police?β tanya ku.
β menurutmu?β kenapa ia malah membalas pertanyaanku dengan pertanyaan juga?
β menurutku..., kau bukan Police.β ungkapku.
β hem?β tanya Arnold menampilkan senyumnya.
β karena jika kau itu Police, kau pasti lebih memilih maju sendiri dari pada meminta bantuan Damien.β ucapku mencoba menelaah segala kmungkinan.
β 100 untuk adik tiriku.β ucap Arnold menguyel pipiku.
β Damien dapat membedakan orang berbohong hanya dari pupil mata orang lain. Itulah ke ististimewaan yang di dapat dari pelajaran psychology nya. Dan karena keistimewaan itulah pasukan khusus intel tertarik pada kemampuannya.β ucap Arnold menjelaskan.
β dia seorang psycholoq?β heranku.
β ya. Sejujurnya, hampir semua psychology pasti mempelajari tentang perilaku seseorang, namun tak semua dapat melihat reaksi awal orang hingga sepersekian detik.β ucap Arnold di depan layar laptopnya.
β Apa hubungannya dengan sepersekian detik?β heranku.
β ada yang bilang, seseorang akan menunjukkan wajah aslinya sebelum menggunakan wajah yang di buat- buat. Dan waktu wajah seseorang menunjukkan apa isi hatinya adalah 0,25 detik sebelum menggunakan topeng di buat-buatnya.β ungkap Arnold.
β apa semua orang secepat itu?β heranku.
βTidak juga, terkadang jika orang itu lemot, bisa jadi sangat terbaca.β ungkap Arnold.
β maka karena Damien bisa melihat itu, ia memiliki sebutan Eye Wolf? Mata serigala?β heranku.
β ya, tak semua orang bisa memiliki kemampuan seperti itu. Kalaupun ada- perlu latihan bertahun- tahun hingga bisa menguasainya. Dan Damien- di umurnya yang tergolong masih muda bisa memiliki kemampuan itu.β
β kalau kau sadar, saat berbicara dengan seseorang, ia tak pernah melihat wajah seseorang kan? Terkadang ia memilih mengalihkan pandangannya atau mungkin malah berbicara sambil melihat gadget nya.β
Benar, setelah di ingat- ingat lagi, Damien memang selalu berbicara sambil menatap gadget nya atau malah menatap orang lain. Aku kemudian mengingat- ingat lagi, kapan saat Damien menatap lawan bicaranya.
β jadi itu karena ia bisa melihat apakah seseorang berbohong atau tidak?β heranku.
β yap. Kalau ia sampai ia menatap lawan bicaranya itu tandanya, ia memang ingin tahu apakah yang di ajak bicara itu sedang berbohong atau membesarkan ceritanya.β ungkap Arnold.
β selain karena kemampuan melihat seseorang berbohong, ia dapat dengan cepat mengatur strategi saat melihat situasi di depan mata.β lanjut Arnold.
β kenapa sadara mu bisa di rekrut Intel, kau tidak?β heranku.
__ADS_1
β aku tak memiliki keistimewaan, kecuali memuaskan seorang Aldista di ranjang.β goda Arnold mulai mengukungku meski aku masih dalam keadaan duduk di kasurnya.
β he.., Hei! Ma.., masih ada Mommy Berta di rumah!β ucapku gugup.
β mommy sedang tidur dan Damien belum pulang.β ucap Arnold mulai menciumi tulang belikat ku.
Sejujurnya, aku juga merindukan saat moment seperti ini.
Tapi semua itu terhalang karena aku yang sedang bloody moon dan saat bloody moon ku selesai kami malah kedatangan mommy Berta. Biar bagaimana pun, ia tak tahu hubungan kami. Dan aku tak ingin mengecawakan mommy Berta yang sudah menyayangi ku layaknya putri kandungnya sendiri.
Arnold mulai menjatuhkan tubuhku ke kasur di kamarnya. Ini kali kedua aku tidur di kasur kakak tiriku itu. Arnold kembali mengukungku, namun tak kunjung menciumi ku. Aku menatap pada pria itu. Tampak, jika ia juga dengan intens menatapku. Aku tahu, itu bukan tatapan penuh nafsu akan tubuhku. Tatapan itu lebih seperti tatapan hangat akan seorang pria kepada seorang wanita.
Ia mengelus pipi ku sebentar. Sebelum akhirnya menciumi ku. Dari ciumannya aku juga tahu, jika ciuman yang di berikannya bukanlah ciuman nafsu yang menuntut. Aku dapat merasakan bibirnya dengan lembut saling memanjakan bibirku, membuatku secara otomatis ingin membalas apa yang di lakukannya, meneguk saliva nya dan merasakan nafas kami yang menjadi satu.
Saling berperang lidah dan sama- sama mengabsen setiap rongga di mulut kami. Setelahnya, sekali lagi Arnold melepas bibir kami. Aku kembali menatap ke arah mata Arnold yang juga sedang menatapku.
Tatapan yang membuatku terbius bukan lagi karena ke tampannya. Sesuatu yang tak lagi dapat di jelaskan.
Sesuatu yang membawa perasaan hangat memenuhi hatiku- entah jika hatinya. Perasaan yang aku tahu jika seharusnya itu tak boleh ada di hatiku.
β TA.β hingga suara ketukan pintu mengagetkan kami.
Aku sedikit terkejut karenanya, setelah mengelap wajahku dan membetulkan rambutku, aku bergegas meninggalkan kamar Arnold dan membukakan pintu.
β papa? Kau sudah pulang?β ucapku menyapa papaku.
β tentu saja, kau sudah siap?β heran papa.
β siap kemana?β heranku.
Maksudnya menengok anak dari kak Edward. Kakak kandungku.
β sayang, kau bahkan baru pulang.β ucap mommy Berta yang baru saja turun untuk menyambut papa.
β papa, mau aku bawakan tas mu?β tanya Arnold mengambil tas besar yang papa bawa.
β tapi papa sudah memesan tiket untuk ke ibu kota.β ucap Papa.
β di batalkan saja, papa baru saja pulang, lebih baik istirahat dulu, nanti kita kesana bersama- sama dengan Damien menggunakan mobil.β ucap Arnold membawa tas besar papa ke dalam.
β dia akan ikut?β tanya papa.
β dia tidak boleh ikut?β tanya Arnold.
β tidak.., hanya saja, Nikolas bilang sudah perjalanan ke Ibu kota.β ucap papa.
β Nikolas?β heran Arnold.
β dia juga adik tirimu, adik laki- laki Aldista.β ucap papa.
β dia sudah dewasa, sayang. Biarkan dia langsung ke ibu kota, dan suruh dia ke rumah Edward, jika tak mau ya menginap di hotel, bukankah dia sudah bekerja.β ucap Mommy Berta menggandeng suaminya.
Aku hanya melihat interaksi antara keluargaku dengan keluarga baruku. Entah mengapa aku seperti merasa terasing. Mungkin karena kebiasaan tak suka dengan keramaian membuatku bahkan tak dekat dengan keluargaku sendiri. Tak heran, setiap berkumpul- yang di bicarakan keluargaku adalah menyombongkan milik keluarga mereka. Sedangkan aku yang bahkan belum menyelesaikan kuliahku, entah mengapa malah menjadi momok memalukan keluarga.
β hei, kenapa kamu melamun anak manis?β tanya Mommy Berta.
β ah.., tidak.β jawabku seadanya.
__ADS_1
Arnold yang baru saja turun hanya tersenyum setelah membawakan tas papa ke kamar di lantai dua lalu berbisik padaku.
β apa karena hal yang tadi belum terselesaikan? Tenang saja, di Ibu kota aku akan memuaskanmu.β
β ap?β geramku.
β ada apaβ heran papa.
β tidak!β ucap Arnold.
β ayo kita makan, aku sudah memasak untuk suami dan anak- anakku tersayang.β ucap Mommy membuka tutup saji.
Apa? Kapan mommy Berta masak.
β yang masak adalah aku.β bisik Arnold.
β kau?β heranku.
β ya, mommy tak bisa masak, sebenarnya, ia juga mengatakan ingin memasak, tapi dari pada memakan racun, aku memilih memasak untuk kita semua.β ucap Arnold.
Benar juga, selama ini saat mommy Berta di rumah, aku tak pernah sekalipun melihat ia memasak, kami bahkan memilih wisata kuliner, kalau sudah kenyang- belanja.
Kalau lelah- pulang. Kalau lapar lagi- beli lagi, kadang aku yang memasak, kala aku Belanja kebutuhan sehari- hari dan ingin memasak sesuatu.
Nyam, ini bukan masakan khas solo, hanya masakan modern, tapi aku menyukai masakan Arnold. Tak heran jika hanya sekedar fried rice saja sudah enak- kurasa ia memang pandai memasak.
β ternyata aku sedang berhadapan dengan seorang Chef. Chef Arnold.β candaku.
β apa sangat enak?β tanya Arnold.
β siap itu chef Arnold, sayang?β tanya mommy Berta.
β itu salah satu chef di salah satu tayangan TV , mom.β ungkapku.
β bukankah yang masak itu mommy mu, Aldista? Kenapa yang kau beri pangkat malah Arnold?β tanya Papa.
β ti.., tidak. Saat mendegar nama Arnold aku jadi ingat nama Chef saja papa.β ucapku.
β kau dekat dengan kakak tiri mu, ya? Syukurlah, papa pikir kalian akan selalu bertengkar.β ucap papa.
β tentu saja tidak, papa. Ale adalah anak yang baik.β ucap Arnold memeluk pundakku. Secara reflek aku menyikut perutnya.
Hari itu, entah mengapa, aku malah mendapat suasana keluarga sesungguhnya dan aku menikmati hari ini.
...N. B; kalau ada yang protes koq siklus period Aldista sangat cpt?π...
... Setiap siklus period wanita beda2π³...
...Normalnya satu minggu.π...
...Namun ada yang kurang dari satu minggu atau bahkan lbh dari saru minggu....
...Author sendiri type yang tidak pernah terartur sesuai jadwal dengan masa peroriod berbeda2 ...
...Tergantung kondisi badan authorπ ...
kdg klo fit krg dr 1minggu klo kcpean bru pas 1minggu
__ADS_1