
Aku terbangun saat kekasih tuanya datang kerumah.
Mataku lelah, kurasa aku terjaga semalaman karena mengobrol dengan saudara jauhku yang satu itu. Ia begitu senang karena aku hampir memiliki kekasih hatiku dan ia bercerita jika adiknya itu sudah lulus S2 nya dan akan menyusul kami ke Indonesia.
adiknya memang jenius. Tak ada dari keluarga kami yang tak genius. Bahkan Damien sekalipun memang genius- jika tidak, ia takkan di pilih menjadi IP.
Kurasa dengan adanya kekasih tuanya, aku terpaksa tetap terjaga. Dan keputusanku tepat.
Aku melihat pria tua itu hendak menyentuh Ale. Dan aku melihat adik tiriku itu enggan melakukannya dengan kekasih tuanya. Tak heran, antara; masih lelah akan percintaan semalam atau ia tak lagi mau merasakan permaianan cinta dengan kekasih tuanya setelah merasakan kehebatan permaiananku.
Kesampingkan soal itu!
Aku harus bergegas ke dapur, masak sederhana dan mengalihkan perhatian pria tua itu.
Aku bangga akan kemampuan memasakku. Dari dulu, ibu tak bisa memasak, ia bahkan tak bisa membedakan mana garam dengan gula, jahe dengan laos, penyedap rasa dengan merica. Saat ayah masih ada, ayahlah yang sering memasak untuk kami sekeluarga, saat ayah sakit, aku membeli fast food. Dan saat ayah tiada, aku hampir saja ikut menyusul ayahku. Ibu mencoba memasak, dan aku merasa ibu hampir membunuhku.
Akhirnya, aku belajar masak dengan Damien. Pria itu berjaga jika mengalami hal yang sama denganku.
__ADS_1
Ibunya adalah seorang dokter, dari pada peralatan dapur ia bahkan lebih hapal peralatan operasi.
Dan beberapa tahun terakhir, akulah yang sering memasak. Atau akulah yang memilih memasak dari pada keracunan.
Yak. Lupakan soal mengenang masa lalu.
3 porsi fried rice telah jadi. Sederhana, namun aku yakin ini menggugah selera.
Aku kembali ke kamar Ale, setelah mengetuk pintu aku menawari makanan kepada mereka semua.
Tampak wajah gugup dari kekasih tua Ale. Dan adik tiriku menghembuskan nafas lega.
Pria tua itu memuji masakanku. Ale tak memuji masakanku, tapi memakan masakanku dengan lahap. Aku rasa ia memang masih lelah.
Aku bercerita jika yang biasanya memasak adalah Ale. Dan aku memaksa diriku yang masih mengantuk ini karena pria tua dan adik tiriku tak kunjung keluar dari kamar. Kekasih tua Ale tampak gugup. Ia beralasan tidur d ruangan Ale, karena ia tidak bisa tidur d rumahnya dengan alasan bekerja.
Dan setelah makan, aku mendapati jika, ia memang benar- benar tertidur di kamar Ale.
__ADS_1
‘ antara kasurnya. yang terasa tidak enak atau,..?’ batinku bertanya. Aku memilih menemani Ale. Aku melihatnya mencuci piring dan peralatan memasak yang aku pakai. Setelah kekasih tuanya ke kamar Ale- aadik tiriku memuji masakanku.
Sudah kubilang, aku bangga akan masakanku. Dia bertanya kenapa aku sangat cepat memasak, tentu karena kebiasaan memasak. Namun aku menjawab karena ia yang sudah memotong semua bumbu itu. Idenya pintar, selain praktis, itu membuat bumbu itu awet dan tak gampang busuk.
“ kenapa kau menyebutku, Ale.” tanyanya. Selama ini aku tak pernah menyebut namanya dan selalu menyebut nama panggilan menggoda dan mengejek- bisa di bilang itu adalah kali pertama aku menyebut namanya.
‘ tentu karena kau yang memintaku menyebut begitu,’ namun aku beralasan jika itu panggilanku untuknya. Ia takkan ingat kejadian yang sudah sangat lama itukan?
Itu sudah berlangsung 10 tahun yang lalu dan mungkin, tak ada kesan untuknya, ia di jauhi keluarga besarnya, ia ingin berkenalan denganku namun aku tolak.
Setelahnya, kekasih tuanya pulang. Dan ia mengajak Ale? Ingin melanjutkan yang tertunda?
Beruntung Ale beralasan sedang mencuci.
Ralat.
Bukan beralasan. Ia memang sedang mencuci.
__ADS_1
Kekasih tuanya akhirnya benar- benar pulang setelah memanggilku; kak.
Oke! Namaku memang memiliki nama yang berarti; Tua- namun ia bahkan 6 tahun lebih tua dariku.