Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Flashback


__ADS_3

Masih POV author


“ dia itu benci wanita.” ucap Brian.


“ terutama wanita yang menempelkan tubuhnya seperti wanita tadi.” jelas Damien menatap wanita yang tengah menahan malu dan sakit tersebut- lantaran di hempaskan oleh saudara jauhnya- cukup kuat.


“ apa? Apa ia Guy?” tanya Dika.


“ tidak bisa di bilang guy juga.” ucap Brian.


“ kalian tahu, dalam hidup itu kadang nasib kita itu ibarat roda. Kadang di atas, kadang di bawah.” ucap Damien.


” iya, aku tahu.” jawab Dika karena ia juga pernah merasakannya. Meski banyak di bawahnya.


“ ada masanya keluarga Arnold itu di atas. Dan saat ia di atas, banyak orang yang mengaku temannya, mendekatinya karena ia sedang berada di masa jaya- jaya nya.” ucap Damien mengenang kisah saudara jauhnya itu sambil menyesap minuman dengan alcohol berkadar rendah tersebut.


“ dan ada kalanya ia berada di bawah. Dan saat ia di bawah, orang yang mengaku temannya seolah menghilang bagai di telan bumi. Padahal saat itu Arnold itu percaya pada orang yang mengaku teman nya mau membantunya di saat ia membutuhkan.


Akhirnya, Arnold meminta bantuan pada wanita yang mengatakan menyukai Arnold apa adanya. Wanita yang selalu menggandeng Arnold kemana saudara jauh kami itu, pergi.” lanjutnya.


“ kalian tahu apa yang wanita itu lakukan?” tanya Damien.


“ menusuknya dari belakang” tanya Dika.


“ ia bukan saja menusuk dari belakang, bahkan terang- terangan menunjukkan wajah jijik kepada Arnold. Itu yang membuat saudara kami itu membenci wanita, terutama yang sampai menempelkan tubuhnya ke tubuh Arnold.” ucap Damien menyesap beer nya lagi.


“ karena baginya, wanita seperti itu adalah wanita munafik, yang merayu seorang pria dan meyakinkan jika mereka menyukai pria apa adanya, padahal mereka melakukannya hanya sekedar merayu tanpa cinta di dalamnya.” ungkap Damien. Brian hanya menegak ice coklatnya, baginya yang di katakan kakak nya tersebut adalah masalah dewasa yang belum ia mengerti.


“Kalian takkan percaya jika dulu Arnold pernah memasuki masa menjadi berandalan.” tanya Damien.


“ moso tho, mas?” benarkah itu, mas? tanya Nath tak percaya, setahu pria itu, Arnold adalah pria yang murah senyum dan supel bahkan suka bercanda. Tak akan ada yang menduga jika kakak tiri dari Aldista itu adalah berandalan.

__ADS_1


“ ya. Berkelahi bukan saja menjadi makanannya setiap hari, ia bahkan seolah berteman dengan luka. Tiada hari tanpa terluka karena perkelahian.


Wajah gelap yang kalian lihat tadi adalah pemandangan biasa yang menghiasi wajah Arnold kala itu. Hal itu di sebabkan Arnold kecewa. Ia bukan saja kecewa pada orang yang di anggap temannya, ia kecewa pada orang tuanya.” ungkap Damien.


“ orang tuanya? Pada bibi Berta?” heran Dika.


“ bukan hanya pada Aunt Berta saja, tapi juga pada Uncle Lucas- ayah kandung Arnold. Tak heran, mereka selalu berangkat saat Arnold masih tidur dan selalu pulang saat Arnold sudah terlelap dalam mimpi.


Arnold kala itu masih memiliki keluarga lengkap, namun ia seolah sendirian.”


“ bukankah saat itu ia keluarganya berada di bawah, berangkat pagi- pagi itu bekerja.., atau..?” tanya Dika tak bisa melanjutkan kata- katanya.


“ karena uncle Lucas menyembunyikan sakitnya dari Arnold. Sampai tubuh uncle Lucas tak bisa lagi menutupi sakitnya dan di nyatakan tiada.”


“ lalu mas Arnold menyesal?” tanya Nath.


“ tidak, atau lebih tepatnya belum, ia memang merasa bersalah. Namun melihat aunt Berta yang tak menangis di pemakan suaminya itu membuat Arnold berpikir jika Aunt Berta tak mencintai ayah kandung dari Arnold tersebut. Dan hanya menikahi ayah kandungnya karena harta yang d miliki uncle Lucas.


Dari sana Arnold menyadari jika sesungguhnya; aunt Berta sangat mencintai uncle Lucas. Aunt hanya berusaha kuat, ia tak ingin menjadi wanita lemah dan menangis di hadapan Arnold.


Karena jika ia sampai lemah dan menangis- siapa yang akan menguatkan Arnold?


Di sepertiga malam Arnold menangis. Ia menyesal. Ia terlalu mementingkan egonya hingga bahkan tak menyadari jika ayah kandungnya juga menanggung beban yang begitu berat karena tiba- tiba terjatuh hingga beban itu membuat tubuh ayah kandungnya tak lagi kuat menahannya dan membuat uncle Lucas sakit hingga tiada karenanya. Ia juga menyesal karena tak mengerti kesedihan yang di tanggung ibunya dan malah mencurigai ibu kandungnya tersebut.


Paginya Arnold memeluk Aunt Berta, ia meminta maaf dan menangis, ia berjanji akan berubah juga takkan lagi mengecewakan Aunt Berta apalagi membuatnya mengeluarkan air mata lagi.


Setelah itu, Arnold berubah seratus delapan puluh derajat. Arnold yang dulu merupakan berandalan yan tak kenal lelah berkelahi- kini berubah menjadi seorang anak yang menyayangi ibunya dan takut kepada ibu nya.


Namun, hanya satu yang tak berubah, yaitu:


kebenciannya pada wanita, terutama pada wanita yang tidak menyayangi tubuhnya.” ungkap Damien.

__ADS_1


Suasana sempat hening hingga beberapa saat, namun ada seorang wanita yang tak belajar dari kesalahan temannya dan berusaha mendekati Damien.


“ begutukah, sir. Aku turut prihatin pada saudara anda.” ucap wanita yang lain dengan nada sensual. Namun tanpa aba- aba, Damien menyiram wanita yang berusaha menggodanya.


“ aku memang tidak membenci wanita, tapi bukan berarti aku menyukai wanita murahan seperti kalian.” ucap Damien beranjak dari duduknya.


“ ayo kita pulang, Bri. Berlama- lama di sini akan merusak otakmu.” ucap Damien. Tanpa banyak kata, Brian mengikuti kakak kandungnya tersebut meninggalkan Nathan juga Dika yang saling berpandangan.


*🌜🌜🌜*


“ apa kita akan pulang ke rumah Aldista?” tanya Brian.


“ tidak, saat ini ia pasti sedang menenangkan diri dengan memeluk Aunty Berta.” ucapnya. Karena memang begitulah saat Arnold sedang kesal atau memiliki beban di hatinya. Ia akan langsung memeluk ibu kandungnya tersebut.


“ Aunt Berta? Tapi sekarang ia telah menikah lagi bukan? Apakah Arnold tetap akan memeluknya?” tanya Brian.


“ pasti sekarang ia ganti memeluk Ale. Makanya kita jangan sampai mengganggunya dan memperlihatkan- jika kita tahu hubungan mereka.” ungkap Damien yang tahu hubungan saudara jauhnya tersebut dengan adik tirinya.


Brian hanya mengangguk, lalu Damien memakai helm nya dan melajukan motor sport nya, ke sebuah penginapan.


*** rumah ***


“ apa kau lagi ada masalah?” tanya Aldista saat Arnold memeluknya tanpa banyak kata.


“ aku hanya membutuhkan pelukan, tidak lebih.” jawab Arnold sekenanya.


“ apa yang terjadi di tempat billiard?” tanya Aldista mengelus rambut pirang Arnold. Namun pria itu memilih diam, Aldista memilih mengelus punggung pria itu. Tanpa banyak kata, wanita itu tahu jika kakak tirinya itu sedang ada beban berat di hatinya, mungkin...,


teringat akan ayah kandungnya? Biasanya Aldista akan seperti ini juga ketika merindukan mendiang mama nya.


Namun, karena Aldista adalah orang yang tertutup, Aldista jarang bertingkah seperti seorang Arnold.

__ADS_1


__ADS_2