Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Pertemuan pertama dengan Aldista


__ADS_3

Aku telah berjanji akan melindungi ibuku, namun aku tidak bisa sepenuhnya bisa menggantikan sosok ayahku.


Akhirnya, kami- aku dan Ibu kembali ke Bali, kampung halaman ibu. Bertujuan agar melupakan sejenak suasana dimana ada ayah di dalamnya. Sekaligus membangun hidup baru di sana.


Saat itu.., aku berumur 24 tahun saat belajar bahasa Indonesia. Saat itu, perbedaan rasis terlihat dengan ketara. Aku merasakan aku di kucilkan di lingkungan penuh religi itu. Tak heran, meski aku memiliki darah indonesia- gen dari ayahku lebih banyak berada di tubuhku dari pada ibuku. Bahkan rambut pirangku saja berasal dari ayahku. Apa lagi aku memiliki kepercayaan yang cukup berbeda.


“ excuse me.” ada yang menyapaku. Aku pikir ia mau menertawakan aku, namun..., ternyata karena ia ingin berteduh di pohon yang sama dengan aku duduk di bawah pohon itu.


Wajah asia yang ketara, namun terlihat canggung dan tak terlihat akrab dengan keluarga besarnya yang berada di hadapannya. Ia bahkan memilih menyendiri.


“ kau tak akrab dengan keluarga besarmu?” tanyaku.


“ kau bisa bahasa indonesia, sir?” tanya wanita itu.


“ erm? Ya? Ibuku orang indonesia meski wajahku mewarisi gen ayahku.” ungkapku.


“ oh? Aku kemari karena ingin menyapamu, namun aku tidak fasih berbahasa ingrish sehingga aku hanya bisa berkata permisi padamu.” ucap gadis muda itu.


“ menyapa?” heranku.


“ ya, ini kali pertama aku melihat wajah eropa sepertimu menggenakan baju adat bali, terlihat keren dan namaku Aldista.” ucap gadis itu.

__ADS_1


“ Ale?” ucapku karena ia terlalu cepat menyebut namanya.


“ Aldista! Tapi kau bisa menyebutku Ale.” ucap gadis itu tersenyum.


“ aku tak memiliki uang!” ucapku entah mengapa. Aku tertunduk karena takut reaksinya.


“ uang? Untuk apa?” heran gadis itu.


“ kau mendekatiku karena uang bukan?” heranku.


“ aku bahkan tak mengenalmu. Sungguh tidak sopan bukan- langsung meminta uang dari orang yang tidak di kenal.” ucap gadis itu jujur. Karena itulah yang aku lihat.


Gadis itu terdiam. Aku menduga gadis itu syok karena aku telah mengetahui rencananya.


“ apa aku terlihat cantik tuan?” ucapan gadis itu membuatku bingung.


“ eh? Er..” cukup cantik, lebih tepatnya manis.


“ aku bahkan tak memiliki apapun yang bisa di banggakan untuk menggoda anda. Aku gendut, aku jelek, aku ceroboh, aku kikkuk dan er.. “ ia menatap ke arah kakinya yang kekurangan.


“Ya pokoknya aku bahkan tak memiliki apapun yang bisa di banggakan, mungkin itu sebabnya, tak ada orang yang mau dekat denganku. Dan ya, aku pikir akan keren rasanya bisa berteman dengan anda. Dengan begitu, setidaknya aku bisa mematahkan perkataan adikku yang mengatakan aku ini bodoh dan takkan ada yang mau berteman denganku.” ucap gadis itu berlinang.

__ADS_1


“ what? Your little brother say that?” tanpa sadar aku berkata dengan bahasa international tersebut.


“ yah, begitulah.” balasnya.


‘ ia mengerti yang kuucapkan?’ Batinku. Aku merasa ia cukup pintar, ia mengerti apa yang kuucapkan meski tak bisa pengucapannya.


Aku menatap ke arah pandang gadis itu. Itu keluarganya? Dan mereka asik melakukan segala sesuatu tanpa gadis ini di dalamnya? Aku membuat kesimpulan jika apa yang kuucapkan saat menyapanya adalah; benar. Ia tidak dekat dengan keluarganya. Ia tidak percaya diri dengan kekurangannya dan keluarganya tak berusaha membuat gadis ini bangkit.


Aku jadi ingat saat aku terpuruk, mungkin jika bukan karena keluarga besarku, aku tetap akan berada di dasar jurang penyesalan sekarang. Ternyata ia juga kesepian karena keluarganya tak berusaha mengertinya.


Bahkan adiknya secara terang- terangan mengatakan dia; bodoh? Apa selama ini keluarga besarnya ini selalu mengatainya di belakang gadis ini? hingga adiknya meremehkannya.


Aku jadi ingin melindungi gadis ini. Tanganku terulur, hendak mengelus rambut panjang wanita itu.


“ Ta.” namun belum sempat aku mengelusnya, sudah ada yang memangginya. Ibunya? Tantenya? Melihat rupa mereka yang tidak mirip aku mengambil kesimpulan kedua. Aku melihat ia menuju ke arah orang yang memanggilnya.


“ kau tinggal dimana?” tanyaku sebelum gadis itu pergi meninggalkanku.


“ aduh, aku tidak hapal. Jika takdir mempertemukan kita, kita pasti bertemu.” ucap gadis itu asal.


Aku tahu kata- katanya asal. Namun itu tetap membekas di hatiku. Seolah menyalakan api semangat lagi di hatiku. Sayangnya, aku tak pernah bertemu dengannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2