
Jika hari biasa aku sangat suka tidur, jika saat bloody moon aku akan menjadi pribadi yang rajin, mungkin karena aku tak bisa tidur sehingga aku memilih bangun pagi dan melakukan segala hal di pagi hari.
Aku menggerakkan tubuhku, dan berusaha meregangkannya, namun tubuhku seolah terhalangi sesuatu. Aku akhirnya memilih membuka mataku perlahan.
Dada bidang seorang pria adalah kali pertama yang kulihat. Itu adalah dada Arnold. Sepanjang malam pria itu tetap memelukku. Padahal aku yakin posisi ini membuatnya tak nyaman karena aku menindih lengannya. Sekali lagi aku hanya tersenyum dan mengecup pipinya lalu beranjak untuk membuat sarapan.
Setelah membersihkan tubuhku, aku melihat isi kulkas.
Hanya ada telur, cabai, gula merah, bawang merah dan bawang putih. Kurasa aku bisa merebusnya dan membuat masakan khas sholo dari telur rebus; telur balado! Nyam.
Pengganti tomat, kurasa aku bisa menggunakan mangga muda yang berbuah di halaman. Aku akan merebus telurnya sebentar sementara aku mencari mangga. Kurasa aku juga bisa sekalian menyiram tanaman.
Kurasa aku memang wanita mandiri, bahkan aku tak perlu bantuan seorang pria jika butuh mangga di halaman rumahku sendiri. Halaman rumahku bagai tambang emas- memang. Hampir semua isi nya di incar warga.
Tak heran, memiliki tanah yang subur hingga apapun yang di tanam tumbuh dengan subur dan besar.
Memiliki banyak tanaman buah, yang bahkan kita sebagai pemilik tanaman saja belum merasakannya namun tetangga sekitar rumahku sudah merasakannya dan yang paling menyebalkan memanennya tanpa mengatakan apapun kepada kita sebagai pemilik rumah. Bahkan sejujurnya air di rumah kita juga di bagi kepada tetangga ku- karena hanya rumahku dan masjid dekat rumahku saja yang memiliki sarana air bersih.
Okey, mengatai tetangga nya cukup! Sekarang, mangga- mangga ini bisa di masak untuk bumbu, sedangkan buah yang matang bisa di jus.
*
“ kau sudah bangun?” heran ku melihat muka bantal Arnold.
“ hem.” jawabnya.
“ wangi.” ucapnya.
“ ya, aku masak masakan khas solo, kakak mau?” tawarku.
“ aku bukan mengatakan makanannya, aku mengatakan soal kamu.” ucap Arnold memelukku dari belakang dan menciumi tengkuk ku.
“ kak. Aku masih bloody moon.” sergahku berusaha menghindar.
“ aku tahu, makanya biarkan aku seperti ini.” ucapnya masih memelukku dari belakang.
__ADS_1
“ nduk.” namun, sebuah sara mengagetkan kami. Nduk adalah panggilan untuk sebutan perempuan yang lebih muda dalam bahasa jawa.
“ kenapa pria itu bisa masuk?” heran Arnold.
“ aku ke depan untuk mengambil mangga dan lupa mengunci pintu.” ucapku panik. Arnold segera duduk di kursi pantry.
“ nduk? Lho kak Arnold?” panggil Dika.
“ kenapa kalian berdua disini?” ucap Dika curiga.
“ aku mengantuk dan meminta Ale membuatkan ku coffee hitam. namun dia malah memintaku mencicipi masakannya.” ucap Arnold sebagai alasan.
“ o..” ucap Dika sedikit ragu.
“ ya.., ya. Kau mau makan disini? Kebetulan aku masak telur Balado.” ucapku.
“ em.., ya.” antara ragu dan lapar.
“ kau kenapa kesini pagi- pagi sekali?” heran Arnold.
🌞
“ apa yang kau lakukan?” geramku saat Dika terus menciumiku bahkan memaksaku menciumi bibirnya.
Namun karena aku yang terlalu enggan padanya, memutuskan menghindari bibirnya.
“ apa yang salah dengan mencium kekasih sendiri?” geram Dika penuh nafsu.
“ aku sedang bloody moon, Dik!” geram ku.
“ bohong! Kau tidak pakai pembalut.” ucapnya meraba milikku.
“ aku sedang tidak kemana-mana, makanya aku malas pakai pembalut!” aku mulai berontak.
Yang benar saja! Di saat orang lain mengerti- aku sedang bloody moon, mengapa pria yang masih mengakui aku sebagai kekasihnya malah memaksaku!
__ADS_1
Tok! Tok! Suara ketukan pintu seolah
menyelematkanku. Tapi apa yang akan digunakan Arnold sebagai alasan? Kami baru saja makan- tak mungkin menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya.
“ ada apa?” geram Dika. Antara curiga atau kesal karena sedang ingin namun tak kunjung di lampiaskan.
“ aku sedang suntuk di rumah, kalian mau jalan- jalan denganku?” ucap Arnold santai.
“ jalan- jalan? Kau tidak bekerja?” heranku. Karena kemarin, ia bilang ia ada urusan dengan alasan pekerjaan yang membuatnya pergi seharian.
“ tidak! Anggap saja aku sedang libur.” jawab Anold santai. Sebenarnya, apa pekerjaan kakak tiriku itu hingga bisa sesantai itu bekerja? Heranku. Aku bahkan hanya sekali melihatnya berangkat untuk bekerja.
“ kau mau ikut? Kita naik mobil untuk ke kebun teh atau menyelusuri kota solo. Begitu tiba, kita sibuk membangun rumah hingga tak sempat berjalan- jalan.” ucap Arnold memutar kunci mobil.
“ aku mau jajanan khas solo.” ucapku. Nyam, aku sangat suka makanan khas solo.
“ apa? Apa saja makanan khas solo?” heran Arnold.
“Selat, sate buntel, cabuk rambak, nasi liwet, serabi, timlo. Sebenarnya dodol bukan khas solo, tapi itu selalu ada di daerah jajanan khas solo.” ungkapku.
“ hei! Hei! Kalau mau akan sebanyak itu bisa- bisa kau akan bulat!” ejek Arnold..
“terima kasih, kakak tiriku yang buruk rupa.” ini bukan bercanda. Aku benar- benar kesal jika ada yang mengatai ku gendut. Sebenarnya, aku bukannya tak bisa mengurusi tubuhku, bagaimana mau diet, jika setiap aku mencoba tak mau makan, setiap pria di sampingku akan memberiku makanan yang lebih enak dan berkata; tak usah diet segala! Entah itu Arnold atau Dika.
“ Bagai bola!”Dika ikut membalas mengatai ku. Karena kesal, aku meraih tangan Dika dan hendak menggigitnya.
“ aaa.” ucapnya berpura- pura teriak.
“ bagaimana? kalian mau ikut?” tawar Arnold lagi.
“ aku bawa motor.” ungkap Dika.
“ di tinggal disini saja, apa kau ada pekerjaan?” heran Arnold.
“ tidak sie.”
__ADS_1
“ ya sudah. Temani aku jalan- jalan, Ale tipe orang yang buta arah, bisa- bisa aku malah tersesat jika hanya mengajaknya.” ucap Arnold. Kali ini aku tak bisa membantah, aku memang tak mengerti jalan. Karena aku terbiasa tidur jika mengendarai mobil, sehingga aku tak pernah hapal jalan.