
Ini kali pertama aku melihat keluarga besar Arnold. Satu hal yang tak kukira adalah; mereka menyambutku dengan hangat. Bahkan aku bisa melihat jika akulah yang pertama kali di sambut hingga Damien berkata;
“ mom, anakmu itu kami atau dia?” ucap nya dalam bahasa Belanda.
“ kau siapa?” tanya ibu dari Damien dan Brian yang aku tahu namanya mommy Karen.
Ibu dari Damien dan Brian ini bahkan lebih extream dari pada mommy Berta. Jika ia mengatakan jika Arnold adalah anaknya namun, mengatakan ia lebih menyayangiku- mommy Karen bahkan tak mengakui Damien anaknya.
“ sekarang kau merasakan yang kurasakan bukan?” kekeh Arnold.
“ astaga, aku sudah dengar soal dirimu dari Berta namun aku tak menyangka jika kau semanis ini.” ucap Mommy Karen menangkup kedua pipi ku lalu sejurus kemudian menciumku.
‘ mereka benar- benar mendambakan anak perempuan ya?’ batinku.
Aku menatap ke arah Mommy Karen. Rambutnya pirang, sementara warna matanya semu bewarna hijau Emerald. Lalu aku menatap ke arah Damien dan Brian. Dari ke dua anaknya, semua warna rambutnya bahkan hitam legam. Mengapa tidak ada yang mewarisi ciri khas Mommy Karen? Mereka anak kandung mommy kan?
“ sudahlah, honey! Kasihan Aldista jika kau terus menciuminya. Nanti pipinya habis.” ucap sebuah suara.
“ ia sangat imut, honey.” ucap mommy Karen kepada suaminya- daddy Morgan.
Melihat penampilan daddy Morgan saja aku bisa tahu dari mana wajah Damien berasal.
Lalu datanglah pria yang memasuki halaman keluarga besar Holand bersama seorang wanita dan menggendong ke tiga anak kembar mereka. Satu di gendong oleh sang suami dan keduanya di gendong sang wanita.
__ADS_1
‘ dia Christ?’ batinku.
Seorang pria berwajah dingin dengan rambut yang sama dengan Mommy Karen dan mata blue shapire sama seperti Brian.
“ Namaku Gabriela. Putri kami yang di gendong kakaknya Damien bernama Olivia. Yang berada di gendonganku adalah Lucifer dan Oliver.” ucap wanita yang aku yakini istri dari kakak Damien.
Wow! Mereka menamai anak mereka dengan nama yang cukup.., Er..
Entahlah aku tak bisa berkata- kata.
“ kau pulang Christ?” tanya Daddy Morgan.
“ hem.” ucap Christ tanpa basa basi. Kemudian langsung memasuki rumah.
“ mama, Christ sedang lelah dalam perjalanan hingga langsung masuk ke kamar.” ucap Gabriela.
“ ya sudah, susul suami mu.” ucap Mommy Karen.
**
Saat ini, kami tengah melihat- lihat album keluarga Arnold- setelah sebelumnya melihat- lihat rumah.
“ bukankah kalian tak memiliki saudara perempuan?” tanyaku.
__ADS_1
“ ehem.” jawab para pria sambil meminum soda kalengan.
“ lalu ini? Kenapa ada perempuan? mereka bahkan sangat manis.” tanyaku.
“ erm.” jawab Arnold dan Damien bingung mau jawab apa.
“ itu para laki- laki di hadapanmu, Al.” jawab Gabriela sambil memangku anak perempuannya yang sudah mengantuk. Kurasa ia masih berumur 10 tahun?
“ ha?” heranku.
“ para Mommy kadang mendadani kami dengan pakaian wanita. Ya, begitulah.” ucap Arnold malu.
Mendengarnya aku hampir saja kelepasan tertawa dengan keras.
“ eh, kak Gabriela koq bisa tahu?” tanyaku.
“ Gabriela itu adalah teman Christ semasa kecil itu sebabnya ia tahu bagaimana keluarga kami.” ucap Damien dengan bersemu merah.
“ lalu? Apa ada kak Christ dalam pakaian wanita disini?” tanyaku.
“ tentu saja tidak ada.” ucap Arnold.
“ wajah kakak kami sedari dulu sudah kaku bagai Kanebo kering. Mommy pernah memakaikannya pakaian wanita dan ia malah menyesal karena ia tak ada imut- imutnya sama sekali.” ucap Damien dengan wajah konyolnya. Mungkin ngeri membayangkan wajah kakak nya yang dingin pakai pakaian wanita.
__ADS_1