Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
gerah


__ADS_3

Aku teringat kembali akan perkataan saudara jauhku itu.


Sial! Membuat gerah saja!


aku memutuskan keluar mengambil minuman di kulkas.


Sial! Mengapa tambah panas?


Ale keluar dari kamar mandi hanya menggenakan handuk!


Sial! Setelah Damien, bahkan Ale juga mengujiku!


“ kenapa kau hanya menggenakan handuk?” aku tersenyum- sekedar menutupi kecanggunganku.


“ aku tidak sengaja menjatuhkan bajuku, beruntung aku membawa handuk. Aku ingat jika aku tidak tinggal sendiri lagi.” ucapnya meninggalkanku kekamarnya.


‘ apakah selama ini ia kemana- mana tidak pakai apa- apa jika tidak ada orang?’ batinku.


Aku melihat ke bawah pusarku.


Sial! Bahkan training longgarku tampak terlihat sesak karenanya.


***


Malam hari, gara- gara Damien aku mengalami blue-ball hebat!


Sial! ini akan menyakitkan jika tak segera di tuntaskan, namun aku akan di benci Ale jika menuntaskannya padanya.


Aku berniat menuntaskannya di kamar mandi, sekalian mengguyur kepalaku. Namun, aku mendapati jika kamar Ale dalam keadaan terang.


Ia belum tidur? Batinku, seingatku- ia selalu tertidur dalam keadaan lampu yang mati. Aku berusaha mengintip dari sela pintunya. Ia tak pernah mengunci pintunya, mungkin karena phobia nya.


Sial! Milikku semakin meronta.


Ale hanya menggenakan tanktop nya dengan celana pendek.


Wanita yang menjadi adik tiriku ini memang tak terlalu suka menggunakan baju tidur seperti daster atau piyama.


Dan itu berhasil membuatku semakin gerah!


Akhirnya aku memilih mengikuti naluriku dari pada logika ku.


Aku menunggu Ale tertidur.


Setelah menunggu berapa lama, aku mendapati jika lampu kamarnya mati dan itu berarti ia tengah tertidur sekarang.


Dengan hati- hati aku memasuki kamarnya.


Aku menggunakan selimut tipis untuk mengikat tangannya. Dan membangunkannya dengan membekap mulutnya.


Saat terbangun, ia menatapku dengan raut wajah yang terkejut.


‘ ah.., aku akan di benci Ale sekarang.'


Jika akan di benci, aku sekalian saja membuatnya menjadi sangat membenciku. Jadi aku mengatakan akan memberi kepuasan soal dunia dewasa dengan kebutuhan orang dewasa. Aku berlagak menjadi bad- boy dan sekalian menjadi pria brengsek. Lalu membuat sosok saudara tiri yang jahat menjadi nyata. Meski begitu, aku berniat untuk tetap akan melindunginya dan memilih melindunginya di balik layar.


Dan..


Ternyata hal yang sudah aku rencanakan hanya menjadi angan.


Aku yang berpikir ia akan membenciku. Dan pikiranku sama sekali salah.


siapa yang menyangka jika ia malah menyuruhku menutup pintu depan saat mulutnya bebas dari tanganku- ia takut kekasih tuanya datang dan memergoki jika kita sedang bercumbu.


Yang awalnya bersikap sok kesal karena ia menggigit tanganku menjadi keterkejutan.


Ia meminta aku menutup pintu? Agar tak ada yang tahu jika kita bercumbu?


Otakku bekerja sepersekian detik! Dan aku dapat melihat bayangan lampu menyala dari kepalaku-seolah mendapat titik terang. Arti dari semua jawaban ini....


Ale juga ingin bercumbu denganku?


Apakah itu artinya ia juga menyukaiku? Sial aku tak bisa menahan debaran hatiku! aku terlalu senang.

__ADS_1


Aku memilih keluar dari kamar Ale, berpura- pura mengunci pintu yang sedari tadi aku kunci hanya agar ia tak dapat mendengar debaran hatiku. Senyumku yang tak mau hilang- aku rubah menjadi smirk smile.


Sekali lagi aku bertanya; apakah ia juga berharap aku cumbu?


Dan ia menjawab; jika ia juga berharap!


Sial! Seandainya aku tak memiliki hubungan ini!


Setelah aku melepas ikatan di tangannya- Aku menciuminya.


Merasai bibir tipisnya.


‘ sial! Bibir ini lebih manis dari pada yang aku bayangkan.’


Ia tak menolak dan malah membalasku. Aku tak pernah berciuman namun aku tak mau terlihat memalukan, sehingga aku memilih mengikuti instingku.


Setelah menciumi bibir tipisnya dan membuat bibir itu menjadi basah dan bengkak, aku mulai menciumi kulitnya. Ia meremang. Aku rasa ia sensitive.


Namun aku tetap merasa aneh hingga akhinya aku memilih menatapnya.


Ia menahan des**han? Aku bertanya. Dan ia menjawab; tak ingin mend*sah karena takut di ketahui warga soal desahannya.


Aku membongkar kartuku sendiri. Ia tidak terlihat kesal dan malah bertanya; sejak kapan aku mulai menjadikan rumah ini di jadikan kedap suara.


Dan aku membongkar semua rahasiaku agar ia dan rasa keingin- tahuannya terpuaskan. Akhirnya aku dapat melihat jika ia tak lagi menahan suara sexy nya . Hanya dengan mendengarnya saja sudah membuat milikku meronta.


Tak heran jika saat aku membuka sisa kain di tubuhku, milikku langsung tegak sempurna.


Ia menatapku karena aku tak lagi memanjakan kulitnya. Aku rasa ia menyukai milikku. Aku memang bangga akan milikku.


Aku menawarinya untuk menyentuhnya. Dan aku dapat merasakan tangan hangatnya menyentuh milikku. Sial!


Dari tangannya saja, sudah terasa nikmat!


Aku mulai membandingkan antara milikku dan kekasihnya. Dan ia malah bertanya soal milikku yang besar akibat obat. Karena kesal, aku memilih langsung memasukinya setelah sebelumnya melicinkannya dengan air liurku.


Ah.., miliknya yang hangat dan berkedut. Miliknya bahkan masih sangat sempit. Jadi aku bisa meyakinkan diriku sendiri jika milik kekasih tuanya sangat kecil.


Aku mulai mendengar suara sexy nya kala aku mulai memacu pinggulku.


Aku teringat jika aku harus menunjukkan permainan yang membuatnya tak dapat melupakanku, sehingga aku tak mau mengakhiri nya dengan cepat. Aku harus menunjukkan jika aku bisa membuatnya mendapatkan pelepasannya.


Matanya mulai tertutup kabut gairah. Aku dapat melihat jika ia mulai mengigit bibir bawahnya seolah mempertahankan logikanya.


Aku memilih kembali menciuminya. Memainkan lidahku di mulutnya. Sesekali turun menciumi kulitnya sambil terus memacu pinggulku.


Ia memegangi lenganku. Dan aku dapat melihat jika tubuhnya menegang dan melengkung ke belakang. Setelahnya aku mendapatkan jika ia menggeram panjang.


Ia mendapatkan pelepasan pertamanya? Aku tak ingin mengakhiri dengan cepat dan membuatku tampak terlihat seperti pecundang. Sehingga, aku memilih menciumi kembali bibirnya, sedikit memberi jeda agar ia bisa beristirahat.


Setelah tubuhnya tenang, aku kembali memacu pinggulku lagi.


Ini benar- benar nikmat! Antara bermain cinta yang memang nikmat atau karena milik Ale yang masih sempit, hangat dan melekat sempurna di milikku- seolah miliknya di takdirkan untukku, yang membuatnya menjadi nikmat.


Miliknya yang hangat.


Miliknya yang berdenyut seolah memijat milikku.


Semuanya sangat nikmat.


Tubuhnya bergetar lagi dan lagi. Aku mulai bangga dengan permainanku. Hingga aku merasakan tangannya mulai menjelajahi tubuhku. Dan akhirnya menemukan dua titik tersensitive ku.


Sial! Aku tak dapat lagi menahan puncak dari pelepasanku, aku ingin menumpahkannya di dalam tubuh Ale dan menjadikannya sepenuhnya milikku.


Aku.


Ingin


Mengikatnya.


Namun Ale malah menghentikanku, meyakinkan aku. Karena ia tak ingin hamil dan membuat kekasih tuanya mengira hasil perbuatanku adalah perbuatan pria tua itu?


Oke!

__ADS_1


Satu- satunya yang harus kusingkirkan sekarang adalah pria tua itu agar bisa menjadikannya milikku sepenuhnya


Aku memilih mengalah, dan memisahkan tubuhku dan tubuhnya yang tadinya bersatu. Aku cukup terkejut kaena ia langsung menciumku. Menuntunku untuk berbaring di kasurnya, ia menciumiku, menciumi tubuhku. Tubuh basahku merasakan nikmat. Namun sekali lagi aku tak ingin terlihat lemah, sehingga aku memilih menahan pelepasanku lebih lama lagi.


Namun pertahanku kalah kala aku merasakan sensasi yang sama saat aku memasuki miliknya. Namun itu bukan miliknya.


Itu mulutnya!


Sial ia sangat pandai.


Tanpa sadar aku mengumpat saat aku merasa jika aku akan kalah. Dan memang itulah yang terjadi.


Aku kalah dan mendapatkan pelepasanku di mulutnya.


Ia bergegas memuntahkannya di wastafel dan aku memilih mengikutinya. Aku bahkan lupa jika aku belum mengenakan sehelai kainpun sekarang.


Aku berbasa- basi, memuji permainannya karena aku juga ingin tahu soal permainanku. Dan ia juga memuji permainanku.


Aku mulai menyombongkan permaiananku dan ia malah melenggokkan tubuhnya. Sial! Itu membangunkan milikku.


Milikku telah lama ber hibernasi karena tak pernah menyentuh wanita. Melihat tubuh wanita sedikit saja membuat milikku terbangun.


Aku memeluknya dari belakang, berharap, ia tak melihat milikku yang tengah siap ingin memasukinya- lagi.


Aku menawarinya satu ronde lagi di kamar mandi. Dan ia menyutujuinya.


Ini sedikit basah dan dingin.


Aku mendudukinya di bak mandi. Karena kamar mandi yang di design Ale memilikhi shower juga bak mandi.


Aku mulai menciuminya lagi, karena ia masih basah- aku tak perlu merangsangnya lagi. Aku langsung memasukinya.


Ia menggeram. Sekali lagi tubuhnya melengkung.


Bukan karena pelepasan- namun karena menikmati milikku ditubuhnya. Aku mulai memacu pinggulku lagi. Tangannya mulai bermain di rambutku. Mungkin itu satu- satunya yang tak basah di sini.


Ini kali ke dua hari ini dan karena itulah aku bisa lebih lama menguasai ritme permainan ku.


Tubuhnya yang aku tahu jarang berkeringat telah basah oleh keringat. Tubuhnya melemas karena pelepasan nya yang berkali- kali. Aku merasakan pegangan tangannya yang mulai melemah.


Kasihan juga jika aku terus mempertahankan pelepasanku. Bisa- bisa tulangnya rontok. Aku memilih menyudahi semuanya, melepaskan pelepasanku di perutnya yang telah basah oleh keringat.


Aku membilas pelepasanku di tubuhnya. Ia ingin berdiri, namun aku melihat kakinya yang bergetar karena lemas. Aku memilih menggendong tubuhnya dan meletakkan tubuhnya di bath- up lalu menyalakan kran air hangat dan memenuhi bath-up hingga menutupi dadanya.


Aku sudah membeli gelembung sabun untuk mandi di bath-up seperti ini. Setelah melarutkannya dan memastikan itu menjadi gelembung sabun, aku memilih ikut bergabung di belakang Ale, beruntung aku membeli bath- up yang cukup besar sehingga bisa menampung dua orang di dalamnya.


Aku merasakan jika Ale bersandar di dadaku sementara aku bersandar di pinggiran Bath- up.


Ini cukup melegakan hatiku. Ia menerima aku dan ingin aku cumbu. Ia bahkan membalas ciumanku.


Aku tak perlu menjadi bad- boy dan membuat skenario saudara tiri yang jahat menjadi nyata.


Meski begitu, mungkin aku tetap melindunginya dari balik layar. Dan skenario berubah menjadi saudara tiri yang di sukai Ale.


Aku teringat akan kekasih tua nya. Meski aku bersyukur ia tak jadi datang dan akan mengganggu saat kami bercumbu. Aku mulai mendengar jika ia tak menjawabku dan aku mendapati jika ia sudah tertidur. Aku tersenyum. Memilih untuk menggendongnya ke kamarnya.


Setelah memakaikan baju yang tadi sempat tercecer di lantai, aku juga memakai bajuku, aku ingin tidur di sampingnya, namun aku harus menceritakan malam in pada saudara jauh brengsek ku itu.


Aku menelphone Damien setelah mengunci kamarku.


“ ada apa, Ar?” heran Damien. Ia belum tidur, kurasa ia masih jet- lag karena pebedaan waktu di Bali dan Belanda.


“ pria brengs*k! Kau dan usulan brengsekmu.” sejenis umpatan tanpa maksud yang biasa di lemparkan kepada sesama teman pria.


“ aku hanya ingin memberi saran, bro. Bagaimana?” tanyanya antusias. Ia tak pernah mengalami masa menjadi brandalan, sehingga kosa katanya tak sekotor diriku.


“ kurasa Aku harus berterima kasih atas usul brengs**kmu! Sialan!”


“ kau benar- benar mencumbunya?” ada nada senang dan heran yang aku dengar.


“ ya, kau takkan percaya jika ia juga ingin aku cumbu! Ia ingin aku cumbu!” aku berteriak. Tak peduli juga, Ale akan dengar, kamarku kedap suara dan Ale sedang tidur karena kelelahan.


Ale itu type orang yang tidur seperti rumput bergoyang.

__ADS_1


Ia tahu jika ada yang aneh, namun memilih rasa memenangkan rasa kantuknya. Aku bahkan tak kesusahan untuk mengikat tangannya tadi. Jika ak tak sengaja membangunkannya, apakah ia akan bangun?


Malam itu aku habiskan dengan bercerita pada saudara jauhku itu. Ia selalu ada untukku, bahkan saat aku berada dalam lembah penyesalan hingga akhirnya aku bangkit- ia tetap di sampingku.


__ADS_2