
Aku kembali melihat bangunan rumah ini.
Dan perhatianku fokus pada tangga menuju lantai atas.
Tanpa pegangan?
Oh, ayolah!
Bisa- bisa ibuku yang ceroboh bisa terjatuh saat menaiki tangga.
Dan...
Sebagian belum jadi?
Ale menjelaskan jika papa tiriku yang membangun ini.
Semua ini sedikit demi sedikit hingga jadi semua ini. Dari awal kepindahannya ke rumah ini.
Kurasa aku tahu dari mana bakat Ale berasal.
Dan sayang sekali pengerjaan pembangunan terhenti karena kakak dari Ale tak lagi mengirimi papa tiriku ini uang saku. Dan adiknya? Apa yang di harapkan dari adiknya. Dengan alasan anak bungsu bisa semena- mena?
Aku bahkan adalah anak tunggal. Okey. Ada masanya aku memberontak. Namun ketika ayah kandungku tiada akulah yang selama ini berusaha keras membangun kembali kehidupan kami yang sempat terjatuh.
Dan, Ale membela papa tiriku itu dalam mendidik si pemberontak itu.
Alasan membantunya adalah alasan lain. Dan alasan utamaku adalah ingin melindunginya. Selalu di sampingnya untuk melindunginya hingga berada di sampingnya kala pendeta mengsahkan kami menjadi suami istri.
Menikah? Tanpa sadar aku mengatakan hal itu di hadapan Ale.
Ale dengan wajah bingungnya bertanya tentang kekasih kepadaku. Kurasa papa tiriku sudah bercerita soal aku yang belum memiliki teman kencanku.
__ADS_1
Teman kencan? Aku bahkan membenci wanita. Dan satu- satunya wanita yang membuatku tak dapat membencinya malah memiliki hubungan saudara denganku.
Lupakan. Aku telah mencatat apa yang harus ku beli dan saatnya ke toko bangunan untuk membeli yang kubutuhkan.
Ale menghentikanku. Bertanya aku akan naik apa untuk membeli bahan bangunannya.
Aku mengatakan mobil dan aku melihat wajah tak sukanya. Ia tak suka naik mobil? Aku bahkan mengganti mobilku dengan mobil yang nyaman dipakai untuk bepergian.
Dan ia mengatakan lebih suka naik motor.
Motor? Ia lebih suka hal yang sederhana?
Dan ternyata ia tak kuat memakai pendingin ruangan yang di namakan AC. Ingatkan aku!
Itu sebabnya, ketika kamar orang tua dan kamar ku menggunakan AC- ia tak protes? Ia bahkan hanya meminta kipas angin biasa, dan sekarang aku tahu alasannya.
Pusing di ruangan tertutup? Ia memiliki claustrophobia? Itu sebabnya ia selalu memakai headseat saat naik mobilku?
Motor matic?
Oh, Ayolah!
Tujuanku ikut bersama Ale adalah menarik perhatian adik tiriku itu. Garis bawahi untuk Aldista. Bukan adik laki- lakinya.
Dan jika aku naik motor matic..., jawabanku adalah tidak!
Tidak gentleman sama sekali.
Setelah di buat menunggu Aldista untuk bersiap, aku langsung menuju ke tempat mobilku di parkirkan.
30 menit waktuku menunggu tidak sia- sia. Wajah baby face Ale berubah dalam balutan cosmetic tipis di wajahnya. Di tambah kaos yang melekat di tubuhnya menutupi kekurangan wanita itu, serta menonjolkan kelebihan wanita yang menjadi adik tiriku itu.
__ADS_1
Pundak yang tegap, dada besar, pantat sekal. Paha yang sexy. Wow!
Kurasa, aku cuma perlu mengajarinya beladiri sedikit dan sudah menutupi kekurangan Ale.
Aku membeli yang kuperlukan dan mataku beralih ke arah dealer motor di sebelah toko bangunan yang ku singgahi. Motor laki- laki keluaran terbaru- di Indonesia.
Ya, ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Akan memakan waktu lama membeli di luar negeri dan membawanya ke Indonesia. Bukan masalah bayaran untuk Bea Cukai nya. Tapi prosesnya untuk masuk ke Indonesia aku yakin akan berbelit- belit.
Aku meminta Aldista menunggu di mobil selama aku mendatangi dealer nya. Mereka menawariku ajuan kredit. Aku langsung berkata ingin membeli lunas.
Sedikit terkejut datag dari wajah para marketing itu.
Dan aku mendengar beberapa berbisik; jika aku membeli langsung lunas, maka mereka hanya akan mendapat sedikit keuntungan. Ciri khas teknik marketing.
Sedikit kolot dalam meyakinkan aku- agar aku lebih baik mengajukan kredit. Mereka juga menawariku beberapa keuntungan kredit, tak lain adalah surat- surat yang langsung keluar, plat nomor dan sebagainya dan sebagainya.
Sedikit kesal. Aku menyilangkan lenganku.
Aku ingin membeli di dealer mereka dengan syarat membayar langsung dan tunai, meminta surat lengkap dengan plat nomor, aku tak peduli pada accessories tapi aku meminta mereka sudah mengirimiku kendaraanku ke alamat yang sudah aku catat di maps ku- sore ini juga.
Dan aku juga berpesan agar mereka mengisi tangki bahan bakar kendaraanku nanti langsung full dan aku menjanjikan untuk membayar langsung motor secara tunai plus tips sebesar 10% dari harga asli motor.
Deal!
Setelah menandatangani berkasnya, memberi mereka maps tujuan dan membayar langsung tunai, beserta tips nya- aku bergegas kembali ke mobil di mana Ale menunggu. Ia membuka mobilnya.
Kurasa phobia nya itu memang benar adanya.
Setelah aku memesan tukang untuk merenovasi rumah, kurasa ada baiknya aku langsung pulang.
Lihat wajah pucat Ale!
__ADS_1