Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
tak jatuh terlalu dalam


__ADS_3

Puas rasanya membuat wajah sombong keluargaku berganti dengan wajah syok karena aku bisa memiliki pekerjaan yang bahkan lebih besar dari apa yang di sombongkan adikku dan para keluarga besar lain.


Setelah berganti baju lagi, Kami bertiga sedang menunggu Damien mengambil kendaran kami. Sekali lagi, aku melihat wajah tak percaya datang dari keluarga besarku.


“ bu.., bukankah ini mobil buggati keluaran terbaru? Bugatti La Voiture Noire?” tanya keluarga besar tak percaya.


“ benarkah? Ini Bugatti? Aku tak pernah peduli pada merk nya ketika kalian dengan gampangnya mengatakan baru saja membelinya.” jawabku tak peduli.


“ sebenarnya, selain Brian apa pekerjaan kalian?” tanya bude ku.


“ Etta tahu pekerjaan mereka?” tanya mb Indah.


“ tak tahu.” jawabku jujur. Aku tak peduli juga.


“ aku sudah pernah menawarimu bekerja di perusahaanku dan kau menolaknya. Jika bekerja di sana kau cukup bekerja gampang dan dapat gaji yang besar.” jawab Arnold.


“ aku tak tertarik. Aku lebih suka menghamburkan uang kakak tiri tercintaku ini.” jawabku centil.


“ pintar!” ucap Damien tertawa.


“ ayo kita pulang!” pinta Brian setelah mengambil bingkisan yang memang di tujukan untuk di bawa pulang.


“ oy.” jawabku seadanya.

__ADS_1


🚗🚗🚗


Jika adikku memiliki acara dengan keluarga besar, Arnold mengajakku memancing dan berjalan- jalan.


Berjalan- jalan? Dengan mobil mewah ini? Batinku.


Ternyata mengajakku jalan- jalan ke pantai. Aku cukup terkejut kala melihat Arnold melajukan mobilnya memasuki kapal. Bukan kapal yang biasanya di gunakan untuk menyebrangi pulau atau kapal angkut.


Seperti kapal pribadi? Kapal pesiar mini yang memiliki fasilitas lengkap seperti anjungan kapal, ruang untuk bersantai dan berjemur, serta ruang beristirahat yang cukup untuk 4 orang lengkap dengan dapurnya.


Selain itu, Arnold juga memperlihatkan beberapa alat pancing, baju untuk menyelam, lengkap dengan kacamata air dan selangnya, papan seluncur, motor boat mini dan sebagainya. Setelah melajukan kapal ke tengah laut yang dangkal, Arnold menurunkan jangkar otomatis.


“ kau suka?” tanya Arnold kala aku duduk di anjungan kapal yang bisa di gunakan untuk bersantai.


“ syukurlah, wajahmu selalu terlihat murung, kala adikmu mengatakan mempunyai acara sendiri dengan keluarga besar.” ungkap Arnold melihat langit biru. Aku tersenyum, aku mulai terbiasa dengan perlakuan hangat seorang Arnold.


Aku hanya berharap, jika aku tak jatuh terlalu dalam dengan perlakuan hangat seorang Anold dan membuat terlena. Karena aku tahu, akan sakit rasanya jika aku terlalu berharap pada seseorang yang belum tentu bisa kumiliki.


Damien terlihat membawa alat pancing, Brian melajukan motor boatnya, Arnold memilih ikut Damien memancing.


“ kenapa kalian menggoyangkan seperti itu?” tanyaku.


“ berbeda dengan memancing di danau atau semacam kolam buatan, cara memancing di lautan itu dengan cara menggoyang- goyangkannya, sehingga ikan akan merasa umpan kita itu umpan hidup.” ungkap Arnold.

__ADS_1


“ kalau ga hidup, ga mau di makan?” tanyaku.


“ ya, ikan di kolam buatan sudah terbiasa dengan makanan instan seperti makanan ikan, namun ikan di laut tak terlalu biasa dan akan mengira itu adalah bangkai hewan atau mungkin kotoran.” jelas Damien.


Aku cukup terkejut melihat kepiawaian mereka dalam memancing, Ikan, Gurita, bahkan ubur- ubur.


Kalau ubur- ubur di kembalikan ke laut. Ga mungkin juga makan selai ubur- ubur seperti di film kartun kesukaan ku.


“ sudah cukup.” ucap Arnold mulai membawa ikan hasil tangkapan mereka ke dapur terbuka.


Awalnya, mencucinya, menyimpan kotoran dan organ ikan.


“ ini bisa di pakai untuk umpan ikan.” begitu kata Arnold.


Aku sedikit terkejut kala mereka mahir memisahkan antara tulang, dan kulitnya. Kulit ikan itu dengan gampangnya terkelupas dengan dagingnya, padahal aku yakin kulit itu sangat tipis.


Setelahnya, mereka memotong dagingnya, menusuknya jadi satu, mungkin mau di buat sate. Menambahkan tepung pada kulit dan menggorengnya, lalu menumis kepala ikan yang besar itu dan membuat menjadi kuah.


Baunya membuat lapar, sayang sekali aku tak bisa memakan seafood itu.


“Ini untukmu, sandwich isi keju dengan bacon asap.” ucap Arnold yang tahu aku tak bisa memakan seafood.


Aku memakan sandwich sambil meminum yogurt sementara mereka memakan seafood yang mereka masak. Brian yang baru saja datang langsung menyantap masakan para kakaknya tersebut.

__ADS_1


Satu hari menyebalkan tergantikan satu hari yang menyenangkan bersama para bule yang bisa berbahasa indonesia tersebut.


__ADS_2