
Setelah aku tahu siapa itu Damien, aku memutuskan untuk setiap akhir pekan aku juga ikut berlatih dengan mereka. Sehingga aku tak khawatir pada pakaian yang harus kupakai saat berolah raga karena Arnold sudah membelikannya untukku.
“ hei! Adik tiri jelekku.” panggilan Arnod membuat olah ragaku buyar. Namun meski begitu, aku masih bisa menjaga keseimbanganku, lalu memegang pegangan alat treadmill dan mengangkat kaki ku ke sisi yang tak ada karet yang berjalan.
“ ada apa?” tanyaku.
” apa kau sadar jika kau sudah berlari selama setengah jam lamanya?” tanya Arnold. Aku melihat ke arah handphone yang memang telah berjalan setengah jam dari aku menyalakan music.
Aku memang tipe orang- yang, jika sudah fokus pada sesuatu selalu lupa waktu.
“ aku sendiri tak sadar jika aku sudah berlari selama itu.” kekehku.
“ kalau begitu, cobalah alat yang lain, kau baru saja memulai olah raga, tubuhmu akan kaget jika langsung memulai semuanya selama itu.” ungkap Arnold.
Aku melihat beberapa alat olah raga lain. Ada semacam untuk angkat besi namun itu di tujukan untuk paha agar terbentuk lebih kurus.
**
“ kenapa kau terlihat kesal seperti itu, honey?” tanya mmmy Berta.
“ mommy, lihat ini.” ucapku memperlihatkan handphone ku yang telah retak parah. Melihatnya adikku hanya tertawa.
“ kenapa itu, mba.” tanya Nicholas.
“ mereka menjahiliku. Di saat aku mencoba salah satu alat di sana, kakak tiri jelek itu meletakkan handphone ku ke sela pemberat itu. Otomatis saat pemberat itu turun- pemberat itu menghancurkan handphone ku.” ucapku kesal. Sementara mereka hanya bisa tertawa melihatku kesal.
__ADS_1
“ sudahlah, Ta. Nanti kalau ada uang kamu beli handphone yang baru. Itukan juga yang kasih papa.” ucap Papa. Bukannya tenang malah membuatu kesal.
Aku hanya menghela nafas. Tak mungkin juga minta pada mommy Berta.
Otomatis aku memang harus menabung untuk membeli handphone yang baru.
*
“ Hei! Apa kau masih kesal?” tanya Damien.
“ tidak.”
“ kau mengatakan tidak tapi wajahmu seperti mau menangis seperti itu.” goda Damien.
“ lihat apa yang kubelikan untukmu.” ucap Damien memberiku handphone keluaran terbaru, lengkap dengan kartu kuota untuk setahun.
“ ini benar- benar untukku?” ucapku tak percaya.
Tampak jika Adikku dan keluargaku menatap dengan tak percaya. Terutama adikku- lihat ekspresi kesalnya.
“ ehem. Kemarilah! Berilah aku ciuman.” ucap Damien menunjuk pipinya. Aku sangat senang sekali, tanpa sadar aku langsung mencium pipi Damien.
“ lihat! Aku di cium!” ucap Damien girang kepada Arnold.
“ kau tak memberiku ciuman juga?” rujuk Arnold.
__ADS_1
“ jangan harap.” ucapku mendorong pipi Arnold.
“ hue.., aku di tampar.” kesal Arnold pada Damien.
“ kemarilah. Aku akan menciummu.” goda Damien.
“ enak saja.., jauh- jauh sana.” ucap Arnold mendorong pipi Damien.
“ hua.., aku di tampar.., cium lagi, Ale. Sebagai ganti tamparan kakak tirimu.” aku tahu jika Damien sedang mengerjai Anold itu sebabnya aku mengikuti permaian Damien dan sekali lagi mencium pipi saudara jauh dari Arnold tersebut.
“ hua! Aku di perlakukan tidak adil!” kesal Arnold.
“ kayanya semua orang pada suka Aldista ya?” tanya Ika.
“ ha ha. Realistis saja, kami para pria suka di cium wanita. Iyakan Felicia? Kiss uncle, please.” ucap Arnold pada putri kak Edward. Seketika itu juga putri kak Edward mencium pipi Arnold.
“ ou.., lihat aku dapat ciuman juga.” ucap Arnold mengelus pipinya.
“ kemarilah aku akan menciummu juga.” ucap Damien hendak memeluk Arnold.
“ mati saja kau!” ucap Arnold mendorong tubuh saudara jauhnya tersebut.
Melihatnya kami hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua saudara jauh tersebut.
*
__ADS_1