
“ kenapa membawa kursi?” tanya salah satu bude ku kala melihat kami yang sudah selesai menyanyi- membawa kursi.
“Bukankah kalian bilang berfoto, kita juga akan berfoto.” Maksud dari Arnold disini bukan foto biasa. Kami menggunakan aplikasi yang sedang terkenal seperti video pendek. Aplikasi Tok Tok.
Aku menirukan gerakan mereka berempat dengan kompak sebelum akhirnya bergaya.
Lalu kami kembali ke arah meja kami.
“ kemarikan Pouch mu.” ucap Arnold. Aku memang membawa pouch kecil, untuk berjaga jika make up ku luntur dan aku harus meng aplikasi kannya lagi.
Aku bergaya seolah mau mendadaninya dan di akhiri dengan reaksi terkejut karena terekam kamera.
Dan Brian mengambil lipstikku, menggambar bintang di bawah pipinya lalu bergaya- di video itu aku melihat jika wajah pria muda itu berubah menjadi animasi.
Sedangkan Damien bergaya dengan mengacak rambutnya. Di akhir, aku melihat wajahnya juga berubah menjadi animasi.
Aplikasi ini asik juga.
*
“ jadi.., kau ini dokter?” tanya bude ku.
“ em.” jawab Brian sekenanya. Ia sedang menikmati makanannya karena ini memang waktunya jamuan makan prasmanan.
“ sama dengan dua keponakanku, yang satu dokter bedah dalam yang satu umum.” ucap Bude ku memperkenalkan mba Indah dan adiknya mb Indri.
__ADS_1
“ aku rasa kalian akan cocok.” ucap budeku, mengingat ke dua saudari itu belum menikah apa lagi memiliki kekasih. Mungkin selain karir, bude ku melihat wajah tampan Brian. Bude ku memang dekat dengan ke tiga anak dari bude Endang, semenjak ibu kandung mereka meninggal, bude Dyah lah yang mengurus mereka.
“ adikku bahkan belum berumur 20 tahun.” Damien menyela dengan makanan di tangannya.
“ apa? Bukankah kau bilang kau ini dokter?” ucap Bude ku tak percaya. Secara, wajah Bria yang memang tak terlihat masih remaja, tak heran- tinggi semampai, wajah tampan dengan mata blue shapire.
“ memang. Aku bahkan baru berumur 17 tahun.” ucap Brian gampang.
“ la.., lalu bagaimana bisa?” tanya mba Indri.
“ aku lompat kelas.” jawab Brian gampang.
“ adikku ini memang jenius. Di umur nya 14 tahun, ia sudah lulus s1 dan kuliah di Swiss dengan beasiswa negara. Setelah menyelesaikan S2 nya dan sumpah dokternya, lalu praktek sebentar di Swiss, ia memilih pulang dan menyusulku.” ucap Damien menunjukkan smirk smile nya.
“ la.., lalu kau kerja di mana?” tanya bude ku tak terima.
“ itu rumah sakit milikku.” ucap Brian.
“ dan Aldista ini adalah designer interior nya.” ucap Arnold.
“ be..., benarkah.” ucap keluarga besar tergagu.
“ ya, karena aku menyelesaikan kuliah jauh sebelum waktu yang di tentukan aku mengambil sisa beasiswa itu untuk membayar uang muka Aldista.” ucap Brian menatapku. Aku hanya tersenyum.
“ memang... berapa sisa beasiswa mu?” tanya Mba Evi. Adik dari mba Indah juga Mba Indri.
__ADS_1
“ kalau di kurs kan dalam rupiah..” ucap Brian mengingat.
“ Mungkin sekitar 2 trilliyun.” jawaban Brian membuat wajah keluarga besar menjadi pias karena syok- terutama adikku.
“ itu sebanding, karena rumah sakit itu akan di bangun itu satu kompleks dengan Panti asuhan, panti jompo dan sekolah gratis untuk panti asuhan itu.” ucapku.
“ sekarang apa yang harus ku berikan pada papa dengan uang dua trilliun itu?” ucapku dengan wajah kubuat bingung.
“ membangun rumah? Sudah di bangun oleh kak Arnold. Membeli kendaran? Kak Arnold juga memilikinya. Baju? Baru saja di belikan...
Ah.., aku lupa jika semuanya sudah di belikan kakak tiriku tercinta ini. Jadi apa yang harus aku berikan untuk papa sekarang?” ucapku. Arnold hanya tersenyum.
“ bagaimana jika kau menggunakan uang itu untuk membangun vila mu yang berada di TW?” saran Arnold.
Aku memang memilikinya. Hanya warisan dari eyangku. Eyang adalah panggilan dari nenek di Jawa.
“ ide bagus. Jadi saat suntuk kita bisa mengunjunginya sembari bercocok tanam.” ucapku.
Setelahnya, keluarga kami menanyai para pria bule ini dengan bahasa international. Aku diam, bukan berarti aku tak bisa bahasa ingrish. Hanya saja, mereka ini membahas para bule ini, buat apa aku ikut menimbrung?
“ kenapa kau diam saja?” tanya Arnold dengan bahasa Ingrish.
“ jangan tanya kakakku, ia tak bisa bahasa ingrish.” ucap Nicholas.
“ apa yang harus ku bicarakan? Ini bukan membahas diriku, tapi kalian.” ucapku menggunakan bahasa ingrish. Mendengarnya, tentu membuat wajah Adikku dan keluarga besar bertambah syok.
__ADS_1
“ kau bisa bahasa ingrish, Ta?” tanya budeku. Kali ini mulai kembali pakai bahasa indonesia.
“ tentu saja, selain bayaran dari adik kami, proyek kami juga mengajak investor asing untuk bekerja sama membangun rumah sakit ini, jadi kami mengajari Aldista agar ia bisa menjelaskan soal design nya di hadapan mereka.” ungkap Arnold.