
Setelah dari makam, kita mengurusi soal makan. Tentu saja, hal pertama adalah wisata kuliner. Beruntung, sebelumnya, Arnold sering mengajariku bahasa Belanda.
Makanan belanda tak terlalu asing di tubuhku. Kecuali Zeeland Mussels atau Kerang Zeeland. Kerang khas Belanda ini memiliki daging dengan tekstur padat dan terkenal lezat. Zeeland mussels biasanya dinikmati dengan cara setengah dikukus dengan anggur dan disajikan dengan roti kering. Hidangan ini cocok dinikmati pada sore hari di musim panas.
Karena kerang Zeeland apalah ini adalah salah satu makanan seafood yang kurasa harus aku hindari meski terlihat lezat sekalipun.
Ada satu masakan Belanda yang mirip dengan masakan Indonesia; Croquettes kalau di indonesia pelafalannya di ganti menjadi Kroket. Namun rasanya sama. Dan aku memesan yang rasa daging.
Lalu setelah makanan ringan, sebagai pembuka aku memesan; Erwtensoep yang merupakan sup berkuah kental khas Negeri Kincir Angin. Ertwensope atau sup ercis adalah sup yang terbuat dari kacang ercis. Sup ini berwarna hijau kekuningan bahkan cenderung coklat dan bertekstur mirip dengan bubur. Sup ini juga berisi prei, kentang, daging sapi maupun ayam, dan wortel.
Kalau di indonesia mungkin mirip dengan stew, rasanya hampir mirip, namun jika stew manis- ini sedikit gurih yang rasanya berasal dari rasa kacang Ercis.
Ada juga; patatje oorlog atau kentang goreng perang. Itu istilah untuk kentang goreng dengan banyak topingan.
Macaroni Schotel bisa diartikan hidangan makaroni yang disajikan dalam wadah. Mirip dengan Lasagna nya perancis.
Bahkan sup darah khas belanda ini menurutku sangat enak. Mungkin rasanya hampir sama dengan saren.
__ADS_1
Cuma, jika saren sudah di bekukan, ini masih dalam bentuk cair di tambah dengan rempah- rempah.
“ aku mau ice cream.” ucapku. Habis semua makanan ini aku mau makanan yang manis.
Tak ada ice cream khas Belanda, jadi aku hanya membeli ice cream di toko swalayan. Tak apa, ini tetap enak.
“ kau tak lihat? Hampir semua orang memakai sweeter, karena di sini sudah musim gugur dan kami sendiri mulai merasa dingin, namun mengapa kau masih bisa memakan ice cream sesantai itu?” tanya Damien.
Aku hanya menyombongkan diri dengan menikmati ice cream yang dingin ini.
“aku rasa waktu mengandung kamu, ibumu ngidam snowman.” ucap Damien.
Sekali lagi aku memilih menjulurkan lidah.
“ ia bahkan tak memakai jacket.” ucap Brian yang tampaknya tak tahan dengan udara dingin.
“ ya sudah, langsung pulang saja. Kalian sudah kedinginan, kurasa.” ucap Arnold.
__ADS_1
“ bukan kau rasa, kami memang kedinginan.” ucap Brian mengeluh.
“ bersyukurlah rumah ayahku memiliki pemanas otomatis.” ucap Arnold menuntunku ke mobil yang sudah ia sewa. Atau mungkin ia beli?
** 🏡🏡 **
Aku suka rumah peninggalan ayah Arnold ini. Minimalis namun terkesan mewah. Perumahan khas Eropa dengan danau di depannya. Hampir semua dindingnya terbuat dari kayu. Dengan pemanas ruangan dan cerobong asap beserta perapian untuk menghangatkan ruangan. Meski aku yakin, itu hanya hiasan. Tentu karena aku sudah merasa ruangan ini sudah hangat meski perapian itu tidak nyala.
“ ini memang memakai pemanas lantai. Jadi dari lantai- panasnya naik ke atas.” ungkap Arnold.
“ lalu perapian itu untuk apa?” heranku.
“ ayahku adalah seorang yang imajinatif. Ini terinspirasi dari kisah Santa Claus, aku jadi ingat setiap natal, kami akan memajang kaos kaki dan memajangnya di perapian ini.” ucap Arnold.
“ mungkin ia ingin membuatmu jadi anak yang imajinatif.” ucapku.
Namun, siapa yang tak menyukai Santa Claus, aku bahkan masih berharap Santa Claus itu ada dan memberiku hadiah setiap malam natal.
__ADS_1