
Paginya, karena Nicholas sedang pergi bersama Papa dan Mommy mencari barang untuk di beli di pusat pembelanjaan di solo, aku memutuskan untuk pergi bersama Dika. Mau bagaimana lagi, aku masih harus menjelaskan soal aku dan keluargaku yang pergi ke ibu kota. Sementara aku masih harus berada di solo sementara waktu.
Arnold memang ingin kembali menguliahkan aku, tapi masih ada beberapa hal yang harus aku urus di solo.
“ martabak, enak i kayak e, mas.” ucap Nathan.
‘Pria yang satu ini..’ kesalku.
Nathan adalah saudara jauh Dika yang jarak umurnya lebih muda 7 tahun dariku. Orangnya pemalas. Bahkan lebih malas dari pada Dika, namun hanya bisa meminta uang dari orang tuanya.
Terkadang, aku pernah tak menyukai sikap Nath. Atau mungkin selalu tak pernah menyukai sikap Nath.
Sebagai seorang pria- di umurnya yang tak lagi muda- ia tak memiliki niat membantu perekonomian keluarganya dan hanya mengandalkan keluarganya. Di umurnya yang tak lagi muda- ia bahkan tak bekerja.
Padahal, ia sudah lama lulus dari sekolah kelas menengah atasnya dan tak berniat melanjutkan pendidikannya.
Dan yang paling aku tak suka adalah; karena ia selalu ada hanya di saat pria itu membutuhkan. Giliran kita yang membutuhkan- ia seolah hilang di telan bumi. Di hubungi tidak bisa, di chat hasilnya nihil dan sebagainya dan sebagainya.
‘ sama- sama pria yang menyebalkan.’ batinku membandingkan Nathan dengan Dika. Dan yang pasti yang sama- adalah; mereka memiliki sifat yang sama- sama kekanak- kanakan.
Aku melihat jam di handphone ku. Beruntung, aku selalu menyimpan semua memory melalui g-mail, sehingga sewaktu handphone ku tiba- tiba rusak. Aku tak terlalu bingung pada semua data di aplikasi ku.
“ aku minta ke kakak tiriku dulu.” jawabku.
Sebenarnya, aku meminta bukan untuk mereka. Tapi ide soal martabak itu lumayan juga. Berlapis telur, daun bawang dan daging. Nyam. Sepaket sama yang manis. Isi coklat, kacang dan keju.
‘ kakak ganteng.’ berbasa- basi mengirim pesan.
‘ pasti ada maunya.’ jawab Arnold yang tahu jika aku mengirimi pesan karena ingin meminta bantuannya.
‘ martabak enak kayanya.’ aku mengirim sambil menahan tawa.
‘ kau di mana.’ jawab Arnold. Aku membayangkan ia pasti sedang kesal sekarang. Aku lalu memberi lokasiku padanya.
‘ yang manis dan asin ya.’ aku menjawab sambil tertawa kecil.
“ sip.” ucapku pada Nath dan Dika.
“ gelem kui mba?” mau mba? tanya Nath.
“ tinggal tunggu.” jawabku semangat.
“ koyo e mas e tiri mba Aldista gampang yo mas. Tak pikir seng jeneng e saudara tiri kui nyebelin mas.” kaya nya kakak tiri nya kak Aldista orangnya gampang gitu ya. Tak pikir yang namanya saudara tiri itu orangnya menyebalkan. Ucap Nath.
“ yo iku.” ya, begitulah. Jawab Dika sekenanya.
“ ketoke e neq di jaluki tulung gapang noq mas.” kayaknya kalau di mintai tolong juga gampang, mas. Tanya Nath.
__ADS_1
“ ketok e.” kayak nya. Jawab Dika.
“ jaluk i tulung masalahmu wae mas.” minta tolong soal masalahmu saja mas.
‘ seenaknya.’ batinku. Tipe- tipe yang sangat aku tak suka, di kasih hati minta jantung. Bahkan mereka itu termasuk orang luar dan belum bagian jadi keluarga saja bersikap seenaknya.
“ yo, isinlah.” untung Dika itu adalah orang yang mementingkan harga diri lebih dari apapun. Aku jadi ingat saat masih berkencan dengannya dan ia tak memiliki uang hanya untuk makan saja. Ia sampai memintaku jalan hanya untuk berhutang! Berhutang!
Kalau mau makan ya harus berani. Aku masih ingat itulah yang pernah ia katakan padaku. Harusnya sebagai seorang pria- diaah yang melakukannya padaku! Dan ia malah menyuruhku melakukannya. Ia rela tidak makan asal tidak mengemis dan karena saat itu bahkan aku belum makan- aku rela meminta dan berhutang.
Jika di ingat lagi itu adalah hal yang paling memalukan. Dulu, aku paling benci berhutang. Jika aku kurang dalam membeli sesuatu karena harga yang tiba- tiba naik saja aku akan langsung pulang dan mengembalikan kekurangan uangnya. Karena aku paling benci berhutang. Dan saat berkencan dengannya aku malah mengemis hanya untuk akan siang!
Setelahnya, aku memilih keluar jika ia memiliki uang- jika tidak ya di rumah. Bahkan sebelum papa menikahi mommy Berta dan Arnold menjadi bagian dari keluargaku aku memilih untuk di rumah saja setiap hari dan keluar ketika ia hendak mengantarkan barang dagangannya.
Lamunku buyar kala melihat bayangan yang sedang menuju ke tempat aku sedang berbincang. Aku tersenyum.
“ ini pesananmu, tuan putri.” jawab Arnold dengan suara yang di buat- buat. Aku yakin ia sedang kesal sekarang.
“ matur suwun.” jawab Dika dan Nath serempak.
“ hei! Kau tak lihat ini jam berapa! Bukannya pulang malah menyuruhku membelikanmu makanan.” kesal Arnold. Aku hanya tersenyum sambil mencomol martabak manis isi kacangku.
“ nyam. Biarkan aku mencicipinya.” Damien datang sambil mengambil martabak yang di bawa Arnold.
“ kau di sini?” heranku.
“ ya, aku dengar kau menyuruh kakak tirimu ini membelikanmu makanan. Nyam, ini enak. Kenapa kemarin waktu wisata kuliner tidak sekalian membeli ini?” tanya Damien.
“ kalau begitu aku harus membuat rencana lagi soal wisata kuliner di malam hari.” ucap Damien masih mencomot martabak asin tersebut.
“ kalau sudah selesai makan cepat pulang! Kau tidak lihat ini sudah malam?” tanya Arnold.
“ biarin to mas. Lha wong masih sore iki.” jawab Nath. Biarin saja mas. Ini masih sore.
“ aku bilangin mommy Berta, lho.” jawab Arnold.
“ memang kamu berani bilang sama mommy?” tantangku.
“ tidak.” jawab Arnold sambile menggelengkan kepala.
“ lha ngapa mba?” heran Nath.
“ momy nya dia ini lebih sayang ke dia dari pada dia.” jawab Daien menunjuk Arnold lalu menunjukku dan Arnold lagi.
“ anak kandung rasa anak tiri.” ucap Arnold menunjukkan mimik muka di buat sedih.
“ tinggal nyanyi soundtrack nya ikan terbang.” jawabku asal.
__ADS_1
“ apa itu?” heran Arnold dan Damien.
“ kumenangis...., membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku...” ucapku menyanyi sambil tertawa.
Dan tawa kami terhenti saat Arnold mendapat telephone.
“ Ale, kami pulang dulu. Kau ikut pulang atau tidak?” tanya Arnold setelah mendapatkan telephone.
“ kenapa?” heranku.
“ adik Damien- Brian pulang ke Indonesia.”ucap Arnold.
“ yang katanya sudah menyelesaikan pendidikannya itu?” tanyaku.
“ ya. Setelah ini, aku yakin mommy pasti akan mengadakan pesta penyambutannya. Kau takkan ikut merayakan? Aku yakin pasti kita akan wisata kuliner lagi.” ungkap Arnold.
“ kaya umur berapa to mas. Ke Indonesia wae pake perayan barang.” Umurnya berapa? Koq ke Indonesia saja pakai acara perayaan segala. Tanya Dika.
“ umur Brian itu hanya setengah ku.” ungkap Arnold.
“ berapa umurmu, kak?” tanyaku. Awalnya, aku pikir- Arnold adalah tipe kakak tiri kejam dan jahat seperti kakak tiri kebanyakan sehingga aku tak pernah berusaha mencari tahu soal Arnold sebelumnya. Dan, aku sendiri bukan tipe orang yang pernah mengurusi hal seperti itu. Aku saja tak hapal umur semua keluarga jauhku- kecuali keluarga intiku aku tak pernah peduli hal seperti itu. Berbeda jika itu adalah keluarga intiku, aku bukan hanya hapal umur mereka, aku bahkan hapal hari ulang tahun; papa, mendiang mama kandungku, kakak Edward, kakak iparku- kak Ika, keponakanku, bahkan adikku aku hapal.
Dan kurasa mulai sekarang aku mulai harus menghapal segala sesuatu soal kakak tiri dan mommy tiriku ini- mengingat mereka orang baik dan yang pasti adalah; mereka menyayangiku.
“ umurku 34.” ungkap Arnold.
“ berarti Brian itu 17 tahun?” tanyaku.
“ yap.” jawa Damien dan Arnold serempak.
“ kau sendiri berapa?” tanyaku kepada Damien.
“ aku beda satu tahun denganmu 31. jadi aku seumur dengan kakakmu.” ucap Damien.
“ koq jarak antara kau dan adikmu jauh sekali?” tanyaku.
“ ya. Karena sebenarnya, mommy ku memang ingin hanya memiliki dua anak saja. Siapa yang menyangka jika aunt Berta hanya bisa mengandung satu anak yaitu Arnold. Dan karena diantara kami hanya ada memiliki anak laki- laki, mommy ku memilih mengandung lagi dan berharap kami memiliki saudara perempuan- siapa yang menyangka jika adik kami juga terlahir laki- laki.” ucap Damien mengenang.
“ mergo kui ibu tiri ne mba Aldista sayang banget karo mba Aldista?” karena itu, ibu tiri mba Aldista- sayang sekali sama mba Aldista? Tanya Nath.
“ bisa di bilang begitu.” jawab Damien asal.
“ jadi kau ikut atau tidak?” tanya Arnold sekali lagi.
“ tentu aku ikut.” jawanbku menyusul Damien juga Arnold yang sudah melangkah duluan.
“ lha oqh, telon. Nggo opo koe, mas?” lha koq bertiga? Pakai kendaraan apa mas? Tanya Nath.
__ADS_1
“ mobil. Soalnya kami memang berniat menjemput Adik Damien.” jawab Arnold memutar kunci mobilnya.
“ okey, dadah Nath, dadah Dika.” ucapku melambaikan tangan.