Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Bersombong ria


__ADS_3

Aku duduk, tak tahu harus apa, menunggu giliran untuk di dandani sambil melihat budhe ku di rias sambil bersombong ria. Bersombong ria? Karena memang itulah yang aku dengar. Aku tak tahu harus ikut mengobrol atau hanya diam saja dan mati kutu di sini.


Ini adalah salah satu alasan aku tak menyukai keluarga besarku. Yang akan mereka lakukan ketika berkumpul hanyalah membanggakan apa yang mereka lakukan.


“ kau belum di dandani, Ale?” tanya Arnold.


“ belum giliranku.” ucapku.


“ Brian, bawakan kotak make up mommy, kita akan berdandan sendiri saja.” ucap Damien kepada adiknya.


Brian mengangguk dan bergegas mengambalkan apa yang di maksud.


“ dandan sendiri?” tanya Anna. Salah satu saudara jauhku. Ia lebih muda dariku, namun karena ayahnya adalah kakak dari mendiang ibuku, aku memanggilnya mba.


“ ya, kami tak suka menunggu. Lagi pula, kami membawa peralatan make up kami sendiri. Kami tinggal membuat dandanan yang mirip dengan kalian agar terlihat sama bukan.” ucap Arnold menerima kotak make up yang di ambil Brian.


Di mulai dari membersihkan wajahku. Memberi pelempab. Memberi prime sebagai dasaran- baru foundation. Karena Aku tak memiliki keriput ataupun masalah wajah seperti jerawat tak perlu menggunakan Concealer.


Melukis alis, berusaha agar terbentuk simetris. Di beri countour bertujuan memberi efek pada wajah semi bulatku.


“ ya, katakan chess.” di tengah- tengah saat Aku di beri Countour dan countour itu belum di rapikan- Damien mem foto aksi Arnold dalam mendadaniku.

__ADS_1


Aku dan Arnold kompak menunjukkan wajah konyol kami. Membuat mereka- Arnold, Aku, Damien dan Brian tertawa bersama.


Di lanjutkan memberi dimensi pada ekor Alis. Baru di ratakan secara keseluruhan dan di tutupi oleh bedak padat.


Mewarnai mata, memberi dimensi pada mata, dan melekatkan bulu mata palsu.


Tap- tap, perona pipi bewarna Peach agar terlihat natural dan tulang pipi yang terbentuk dari countour tak tertutup di lanjutkan dengan perona bibir dan di beri pelembab agar bibir tak terlihat kering.


Terakhir di beri semprotan setting spray agar riasan terlihat lebih hidup sekaligus agar lebih awet meski berkeringat.


“ katakan padaku, jika kau sering berdandan.” ucapku kagum. Arnold hanya menunjukkan wajah konyolnya.


“ Okey.”


*


“ koq di bentuk jadi dress” keluh bude Lis. Bude adalah sebutan untuk bibi.


“ ini bukan dress, bude. Ini kebaya modern jadi ga perlu pakai jarik lagi.” ucapku. Karena memang, kain yang aku buat berkonsep kebaya modern di tambah dengan tenunan dari arah dada sampai lengan dan di bentuk lengan panjang dan sisanya kain sampai mata kaki.


“ yo wes.” ya, udah. ucap Bude Lis mengalah.

__ADS_1


‘ bukankah ia bilang terserah?’ tanya Arnold. Aku hanya mengendikkan bahu.


Selanjutnya, dilanjutkan oleh Damien. Di tambah klip rambut tambahan, di kelabang hingga ke bawah karena rambutku cukup panjang aku tak perlu menggunakan konde atau sejenis rambut palsu. Cukup membentuk dan menggulung rambut panjangku.


“ kau mau pakai kuku palsu?” tanya Brian setelah mengacak kotak make up mommy Berta.


“ apa Mommy Berta sering pake kuku palsu?” tanyaku.


“ kurasa mommy hanya membelinya karena baginya ini imut. Entah di pakai atau tidak yang penting di beli.” ucap Arnold.


“ kau memanggil ibumu; Mommy?” taya Anna dengan nada mengejek.


“ kau pasti anak mommy.” ejek yang lain.


“ kenapa memang?” tanya Arnold.


“ apa ada yang salah dengan menyayangi ibu kita sendiri?” sindir Arnold.


“ jika kau bilang salah, itu berarti ada yang salah dengan pola pikirmu.” ucapan Arnold seketika itu juga membuat suasana ruangan menjadi dingin. Padahal, tak ada pendingin ruangan di sana.


Aku hanya menahan tawa. Selama ini, aku sendiri kesal dengan ucapan sombong para keluarga besarku, namun aku tak memiliki cukup keberanian menyinggung mereka karena aku sendiri tahu resiko melawan keluarga besar. Tentu saja jadi perbincangan di belakang kita.

__ADS_1


__ADS_2