
“ Ar.” panggil papa kepada Arnold saat Damien, Arnold, Brian dan aku sedang bermain kartu di ruang tamu.
Setelah pulang, memang kami tidak langsung beristirahat. Sedikit memberi salam pada mommy Berta lalu membersihkan diri dan di lanjutkan bermain kartu.
“ ya?” tanya Arnold.
“ apa papa boleh tahu apa pekerjaanmu?” tanya papa.
Aku rasa ia pasti mendengar dari adikku soal apa yang terjadi di pesta pernikahannya saudara jauhku tersebut.
“ hanya pegawai biasa.” jawab Arnold santai.
“ benarkah? Papa dengar kau bahkan memiliki mobil mahal.” jawab Papa mulai curiga. Aku saja yang selalu bersama mereka tak ingin tahu. Aku yakin karena papa terpengaruh omongannya adikku. Adikku itu memang seorang penjilat kelas kakap.
“ aa..” jawab Arnold sekenanya.
“ mobil sebelumnya aku jual, papa. Dan kalau di bilang mahal- sebenarnya mobil yang aku beli adalah hasil lelang bank. Kebetulan aku baru saja di umumkan memenangkannya, dan dengan menjual mobil lama aku mengambil lelang tersebut.” ucap Anold.
‘ lelang Bank?’ tak mungkin Bank melelang mobil keluaran perancis yang harganya milyaran tersebut. Aku yakin itu hanya sandiwara agar papa tak bertanya lebih banyak.
“ berapa kau menjual mobil lama mu?” tanya papa, aku rasa ia memang belum percaya sepenuhnya.
“ sekitar 100 juta.” ucap Arnold.
“ ap? Benarkah?” heran Papa.
“ ya, itu mobil keluaran negaraku dan peninggalan papa ku. Aku mengatakan jika daya tahan mobil itu sangat kokoh sama seperti ciri khas bangunan belanda. Lagi pula mobil itu masih baru.” ucap Arnold meyakinkan.
__ADS_1
“ begitu? Ya sudah, Papa hanya bertanya, kalau begitu lanjutkan main kalian.” ucap papa meninggalkan kami ke lantai dua.
“ aku yakin kau hanya bersandiwara.” ucapku dengan suara pelan.
“ kenapa kau seyakin itu?” jawab Arnold tersenyum.
“ sebodoh- bodohnya aku, aku tetap tahu jika tak mungkin bank melelang mobil berharga milyaran dan kau hanya membayar sebesar 100 juta.” ucapku melanjutkan permainan kartu kami.
“kau penasaran?” tanya Arnold.
“ tidak.” jawabku jujur..
“ tidak?’ tanya Damien.
“ ya.., bohong jika aku bilang tidak penasaran. Namun aku takut jika aku mengetahuinya akan malah membuat hatiku di penuhi rasa iri dan membuat aku enggan dekat dengan kalian. Aku menyukai berteman dengan kalian.” ucapku dengan posisi bersila. Aku memang mengganti pakaian ku dengan pakaian untuk santai dengan celana pendek.
“ maksud kalian saudara jauh tiri? Sepupu tiri? Apalah itu.” ucapku masa bodoh.
Aku melihat jika Arnold hanya tersenyum. Kami lalu melanjutkan permaian kartu kami.
Dan keesokan harinya, adik kandungku itu akhirnya pulang ke kota dimana ia bekerja.
Dan ketiga pria itu; Damien, Brian dan Arnold- diajak pergi oleh Dika. Mungkin, untuk mengakrabkan diri dan aku tidak boleh ikut.
Menyebalkan! Pria tua itu berkata jika tempat yang akandi datangi tidak cocok di masuki oleh seorang gadis.
Huh! Biarlah, lagi pula aku juga lelah.
__ADS_1
POV AUTHOR.
Saat ini, Dika mengajak Nath, Arnold dan Brian bermain billiard . tak ada Aldista di dalamnya, bagi Dika, tak pantas wanita datang ke arena penuh pria tersebut.
Arnold tak masalah, anggaplah Dika sedang menarik perhatian pria itu. Dika dan Nath sedang menunjukkan ke ahliannya, Damien sedang duduk sementara Brian sedang minum minumannya. Ice coklat. Arnold terlihat santai memegang cue nya atau tongkat billiard nya dan masih memakan camilannya, mungkin wafer?
Setelah Dika dan Nathan sekarang giliran Arnold.
Satu tembakan dan membuat bola yang tersisa masuk ke lubang nya hanya menyisakan bola putih. Tampak Arnold ya g tak mempedulikan hal itu dan memilih mengurusi makanan yang nyangkut di gigi dan mulutnya.
“ kurang ajar.” umpat Dika.
“ terima kasih pujianmu.” ucap Arnold menyombongkan dirinya. Ia memilih duduk dan menikmati makanannya bersama Damien dan Brian. Coklat, gorengan khas indonesia dan jajanan anak kecil. Sedikit beer kaleng yang mengandung sedikit alcohol.
Ada juga Ciu. Tapi Arnold memilih tak meminumnya.
Mereka tahu jika di china- Ciu di gunakan sebagai obat gosok atau juga perapian, hanya saja karena harganya yang murah- membuat orang lebih memilih Ciu dari pada beer atau anggur merah- dan Arnold, juga Damien memilih tak meminumnya. Sementara Brian masih di bawah umur. Dengan sadar, ia memilih tak meminum- minuman ber alcohol tersebut.
‘ karena peraturan keluarga kami yang keras’ begitu Damien beralasan.
Tak heran jika Damien takut pada ibunya kala mommy Berta mengingatkan pria dewasa tersebut. Mungkin karena peraturan dasar keluarga mereka yang memang keras sehingga mereka memilih mentaati nya meski berjauhan dari keluarga mereka.
“ kalian mahir sekali, main billiard nya.” ungkap Nathan setelah bermain beberapa ronde billiard. Dan hasil akhir mereka memilih bersantai di meja dan kursi yang di sediakan sambil menikmati makanan yang sudah di pesan.
“ di sini, mungkin permainan billiard hanya sebagai hiburan, di negara kami, billiard adalah hal biasa bahkan sampai ada pertandingannya.” ucap Damien gampang.
“ kami juga ingat pernah memenangkan salah satu perlombaan tersebut. Namun karena bukan kelas international, kami tidak dapat medali hanya piagam dan sejumlah uang dalam amplop.” ucap Arnold mengingat.
__ADS_1
Mereka asyik berbincang, hingga tak sadar jika ada seorang wanita yang berusaha mendekati Arnold. Mungkin karena menyukai wajah tampan pria bule yang fasih berbahasa indonesia itu.