
POV Arnold
Namaku Arnold Holand dan wanita yang sedang duduk di sampingku adalah Dewa Ayu Aldista Putri. Wanita yang akan menjadi adik tiriku ketika ibuku sah menjadi istri dari ayah kandung Aldista.
Sejujurnya, ibuku dan ayahnya sudah lama kenal.
Bahkan dulunya mereka adalah kekasih sebelum akhirnya ibu menikahi ayah kandungku dan mereka memilih meneruskan hidup mereka masing- masing.
Sejujurnya, setelah mereka masing- masing menjadi single parent- mereka telah kembali menjalin hubungan. Mereka bahkan memutuskan untuk menikah. Namun, mungkin kata tak setuju datang dari ku.
Karena aku tahu, ketika ibuku menikah dengan Ayah Aldista, maka hubungan kami hanya bisa bersatu dalam ikatan hubungan yang di namakan saudara, tidak lebih.
Namun, saat aku mengetahui jika Aldista sudah memiliki kekasih, aku putus asa. Aku menyesal karena aku terlambat. Seandainya aku datang dan mengenalnya lebih cepat saja, mungkin yang menjadi kekasihnya adalah aku dan bukan pria yang bahkan umurnya terpaut 10 tahun lebih tua dari gadis yang kukasihi.
Aku mengenalnya jau sebelum ia bertemu dengan kekasihnya.
Tepatnya.., saat kali pertama keluargaku yang awalnya berada di atas awan terjatuh, sejatuh- jatuhnya hingga ke liang lahat.
Klasik memang.
Atau mungkin aku yang melebih- lebihkan?
Tidak.
Usaha yang di rintis ayahku jatuh. Kenapa? Padahal ayahku orang yang jujur. Ayahku juga adalah orang selalu menggenggam tangan orang tanpa membeda- bedakan siapa orangnya juga dari kalangan mana.
Ibarat air laut yang tenang ternyata menyembunyikan panas gunung laut di dalamnya.
Orang yang terlihat menyukai ayahku, menyanjungnya- bahkan memujinya ternyata menyembunyikan rasa iri di dalamnya. Orang yang di percaya ayahku- menusuk ayahku. Bukan lagi dari belakang, namun secara terang- terangan menyatakan jika ia mengkhianati ayahku.
Yang awalnya asisten pribadi ayahku pindah ke perusahaan saingan bersamaan dengan kekalahan ayah di tender besar.
__ADS_1
Proyek ayahku bocor bahkan sebelum di umumkan.
Yang menyebabkan ayahku lah yang di anggap meniru proyek dari perusahaan saingan.
Dan mungkin karena merasakan sakitnya di khianati, tubuh ayahku terbebani.
Ia selalu menutupi sakitnya agar aku tidak tahu jika ia menderita. Berusaha berobat dari pagi- jauh sebelum aku bangun dan pulang saat aku sudah terbuai dalam mimpi. Ternyata, agar menutupi jika ayahku menderita, ia selalu enggan opname di rumah sakit dan memilih pagi- pagi sekali berangkat menuju rumah sakit, menyuntikkan cairan yang membuatnya semakin menderita.
Membuat ayahku selalu memuntahkan sebagian bahkan semua isi perutnya. Dan setelah reaksi dari obatnya habis. Ayah kembali pulang, memperlihatkan jika ia baik- baik saja. Ia pandai berpura- pura sehat- dengan senyuman dan pakaian serba tertutupnya.
Padahal, tubuhnya termakan oleh sakitnya dan aku tak pernah menyadarinya karena selalu mementingkan egoku- yang mengharuskan mereka memberikan cintanya padaku, yang mengharuskan mereka tahu jika saat itu aku merasa kesepian.
Tak heran bukan? Orang yang menyebut diri mereka teman saat aku di atas- seolah hilang bak di telan bumi saat aku terjatuh. Orang yang selalu mengikutiku kemana aku pergi- yang selalu mengatakan jika ia mencintaiku apa adanya, dengan terang- terangan menunjukkan sifat aslinya, wajah aslinya yang terlihat jijik padaku.
Aku merasa menderita. Namun siapa yang menyangka jika ayahku lebih menderita? Ayahku lah yang lebih membutuhkan suport di saat sakitnya.
Aku masih ingat- sebuah ingatan yang membuatku selalu menyesal.
Yang selalu berkelahi bagaikan makanan sehari- hari akibat marah kepada orang- orang yang mengaku teman.
Dan..,
Aku yang membuat ayah kandungku sendiri terluka karena perkataanku.
Saat itu, untuk kali pertama ayah ku berada di rumah di saat aku masih terjaga.
Ayahku untuk kali pertama mengajakku untuk menghabiskan waktu bersama.
Dengan marah aku menolaknya. Memakinya.
Mengatakan jika ia adalah orang tua yang tak pernah ada di saat anaknya merasakan derita kesepian.
__ADS_1
Yang tak pernah memberi cinta kepada anaknya sendiri.
Padahal...
Saat itu, akulah yang tak mengerti derita ayahku.
Ayahku memilih menderita sendirian- agar aku tak bersedih dan aku malah memakinya.
Padahal akulah yang tak bisa merasakan cinta ayahku sendiri untuk ku.
Akulah yang tak tahu jika ia juga merasakan kesepian.
Berjuang dalam sakitnya sendiri- hanya di temani ibuku.
Tak ada aku- anaknya, tak ada keluarga besar, karena saat itu keluarga besar sedang fokus pada kelahiran cucu pertama mereka. Aku dengar kakak ipar sempat mengalami masa- masa kritis karena memaksakan melahirkan ketiga anaknya dengan kelahiran normal.
Dan.., untuk pertama kalinya pula aku melihat; wajah ayahku yang selalu di penuhi senyum- tampak terluka ketika aku memakinya.
Aku menyadari keanaehan karena ibuku yang selalu mendampingi ayahku- tak ada di sisi nya kala ayahku memintaku menghabiskan waktu bersama.
Namun aku tak menyadari jika maksud ibuku itu agar aku memiliki waktu terakhir dengan ayah kandungku sendiri.
Sehari setelah ayah meminta waktu bersama denganku- ayah tiada.
Dengan tangan bergetar, aku membuka baju yang selalu menutupi tubuhnya. Aku hampir saja terduduk lemas kala melihat; tubuh ayahku yang biasanya tampak gemuk, yang biasanya tampak sehat dengan otot- otot yang selalu ia banggakan- bagai tulang membalut kulit kala ia tiada.
...Coment yuđ˘...
...Author mpe nagis waktu ngetiknya...
... hrgain y para readerđ...
__ADS_1