Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Bertemu dengan Dika


__ADS_3

Aku begitu terkejut saat Motor yang di kendarai Arnold dan aku di cegat oleh seseorang saat aku yang hendak kembali setelah mengantarkan daganganku.


“ Dika? Nath?” heran ku saat mengetahui siapa yang mencegat kita berdua.


“ Al? Siapa pria yang memboncengimu? Kau berselingkuh?” geram Dika- kekasih yang ku maksud...


Aku hanya menatap Arnold yang juga sedang menatapku.


“ ini Arnold.” ucapku santai sambil memperkenalkan pria yang menjadi kakak tiriku ini. Kenapa aku bisa sesantai ini berhadapan dengan kemarahan kekasihku?


Karena aku tidak salah! Dan seandainya ia memang marah, yang aku harapkan adalah kata perpisahan benar- benar meluncur dari mulutnya. Namun aku masih sadar jika aku masih berada di luar.


“ APA?” geram Dika. Sementara Nathan- saudara jauh Dika hanya terdiam melihatku dan saudara jauhnya tersebut.


“ kau ingatkan jika ayahku menikah lagi?” ucapku.


“ katakan maksudmu?” ucap Dika- tampak jika amarahnya mulai mereda.


“ ya, ia adalah anak yang di bawa mama tiriku. Jadi bisa di bilang dia ini kakak tiriku.” ucap ku.


“ Apa? Tapi mengapa kau memeluk perutnya?” hal yang sudah tak pernah aku lakukan lagi kala hanya ada rasa kecewa untuk pria yang kuakui masih menjadi kekasihku ini.


“ benarkah?” heran Arnold. Padahal, tadi- dialah yang menarik tanganku agar memeluk perutnya.


“ kurasa itu karena aku yang terlalu cepat mengendarai motorku karena aku sedang terburu- buru untuk kembali. Karena motorku tak ada pegangan di sisi belakangnya, saat aku tiba- tiba mengerem ia membentur tubuhku dan saat aku kembali menaikkan kecepatanku, ia tak sempat ,memegang pundakku.” ucapnya.


‘ ia adalah pemain sandiwara yang pandai.’ batinku.

__ADS_1


“ kalian dari mana memangnya?” heran Dika mulai melunak.


“ aku ada COD ke daerah XX.” ucapku jujur.


“ ya. Dia mengatakan kau tak bisa mengantarnya, sehingga akulah yang mengantarnya.” ucap Arnold.


“ ya. Aku sedang ada kerjaan dan kebetulan juga sedang COD sekitar sini.” jawab Dika.


“ tunggu! Kenapa kau berkata sopan pada nya sementara padaku hanya mengerjaiku.” ucapku memancing.


“ tentu saja. Kau adalah saudara tiriku sementara dia adalah orang luar.” ucap Arnold mengetahui aku memancingnya untuk bermain sandiwara.


“ apa hubungannya?” heranku.


“ ya- iya. Kalau kepada orang luar kita harus sopan.


“ AW!” pekik nya kala aku menendang tulang keringnya.


“ Hei! Apa kau tidak tahu jika kau melakukan hal itu kepada orang yang lebih tua itu namanya durhaka.” ucap Arnold memegangi kakinya yang kesakitan.


“ Durhaka jika yang aku hajar itu pantas di segani.” ucapku menjulurkan lidah.


“ bro, kekasihmu itu bar- bar.” ucap Arnold sok akrab pada Dika.


“ memang.” jawab Dika mulai tertawa.


“ kau tahu? Ia bahkan memaksa ku untuk mengantarnya. Atau tidak ia akan mengulitiku.” ucap Arnold sambil tertawa.

__ADS_1


‘ what? Okey! Ia mulai keterlaluan.’ geramku.


“ ia memang begitu. Hati- hati! Giginya tajam!” jawab Dika.


“ mas.” ucap Nath mengalihkan pembicaraan yang mulai mengalir ini. Kita bahkan lupa jika kita masih berada di luar. Dan mas adalah panggilan untuk kakak laki- laki di Jawa.


“ oh, iya. Aku lupa jika aku masih harus COD.” ucap Dika melihat handphone nya. Atau handphone ku yang akhirnya ia pakai lebih tepatnya.


“ kalau begitu kita duluan. Nanti aku akan mengunjungi rumahmu, Al. Sekalian berkenalan dengan kakak tiri mu ini. Salam kenal, kak Arnold.” ucap Dika mulai naik kembali ke motor Nathan sambil membawa danganganya.


‘ kak? Ia bahkan lebih tua dariku.’ bisik Arnold.


‘ biarkan saja. Ia memang tak mau di panggil tua.’ jawabku.


“ sekarang ayo kita juga kembali.” ucap Arnold setelah sosok Dika mulai menjauh. Aku hanya terdiam sambil menyilangkan lengan ku di depan dada besarku.


“ kau marah?” ucap Arnold mengelus tengkuk nya.


“ yang kau maksud bantu itu membantu mengolokku ya?” geram ku.


“ ayolah. Aku hanya bersandiwara. Tak mungkin juga aku mengatasinya selama kita di luar. Terlalu banya orang disini. Dan aku tak menarik perhatian.” ucap Arnold.


‘ kurasa ia benar juga.’ ucapku mulai melepaskan lenganku.


“ ayo kita cari makan, aku lapar.” ucapku.


“ lebih baik kita pulang dan mengganti motor kita dengan mobil atau kita akan berpapasan dengan calon mantan kekasihmu itu.” mendengar ucapan Arnold aku hanya terkekeh.

__ADS_1


“ aku akan pakai headset biar tidak pusing.” ucapku mengiyakan.


__ADS_2