
Warning!! 21++
“ UPH!” pekik ku yang terkejut karena ada yang tiba- tiba ada yang membekap mulutku.
‘ Arnold?’ batinku.
Arnold yang tahu jika aku sudah terbangun, hanya menunjukkan smirk smile nya dan berbisik padaku.
“ bukankah kau kurang puas bermain dengan calon mantan kekasihmu? Aku akan membantumu mengerti dunia dewasa dengan kebutuhan orang dewasa.”
‘ jadi ini yang di maksud membantu yang ia ucapkan?’ batinku. Aku cukup terkejut saat mengetahui jika tanganku terikat. Dan di saat tangan pria itu masih tetap berada di mulutku, tangan lainnya mulai menyusup ke balik kaos ku.
Aku coba memberontak, beruntung ia sedikit lengah hingga aku bisa menggigit tangannya.
“AAA.” pekik nya.
“ KAU..” ucap Arnold terpotong. “ kau sudah mengunci pintunya atau belum.” oleh ucapku kala tangannya terangkat dari mulutku karena terkejut aku mengigit tangannya. Arnold terdiam melihat reaksi ku yang seolah tak takut padanya, padahal bisa di bilang, apa yang terjadi padaku sekarang termasuk pemaksaan.
“ kau lupa jika Dika mengatakan akan kemari dan berkunjung? Bagaimana jika secara tiba- tiba ia masuk dan mendapati kau sedang mencumbuku.” ucapku mengingatkan. Akhirnya, Anold memilih turun dari kasurku dan benar- benar mengunci pintu rumah kami.
‘ ia tidak mengunci pintu? Bagaimana jika ada orang yang masuk secara tiba- tiba? Ia tak tahu kebiasaan orang- orang di sini dan Dika, ya?’ batinku.
Ia lalu masuk kembali kekamarku dengan smirk smile nya, ia lantas membuka ikatan pada tanganku dan kembali mengukungku.
“ katakan padaku, jika kau juga berharap aku cumbu.” godanya. Aku hanya menatap wajah tampannya.
Bohong jika aku tak menyukainya. Dan aku akan menjadi orang yang munafik jika tak mengharapkan ia mencumbuku.
“ apa aku tak boleh berharap? Lagi pula aku penasaran akan perminanmu.” ucapku jujur.
“ tapi jika sama- sama tak menyenangkan sama seperti kekasihku aku akan menghajarmu.” lanjutku.
“ maksudmu calon mantan kekasihmu?” kekeh Arnold.
“ Whatever.” ucapku malas.
“ sebenarnya, kau bukan dalam keadaan bisa meminta, namun aku jamin kau takkan menyesal.” ucapnya yakin.
Karena memang begitulah yang aku rasakan. Dari pada membuatku menderita, ia sangat pandai membuatku merasa nikmat. Ia bahkan seolah tahu di mana titik- titik tersensitive ku dan mana titik yang hanya membuatku menderita.
“ kenapa kau menahan d*s*hanmu?” heran Arnold.
“ kau lupa jika rumah- rumah disini berdekatan, bagaimana jika ada tetangga yang mendengar kita.” ucapku berusaha menahan d*s*hanku.
“ kau tak usah khawatir. Rumah ini sudah aku buat menjadi kedap suara. Para tetangga takkan mendengar apapun bahkan seberisik dan sekeras apapun permainan kita.” ungkap Arnold.
__ADS_1
“ apa? Tapi sejak kapan?” heranku.
“ tentu saja saat merombak rumah ini.”ungkap Arnold.
“ apa itu sebabnya, ruangan kakak dan adikku sebelumnya menjadi lebih sempit- saat kau rombak?” heranku.
“ tepat.”
“ kau bilang kau juga merombak kamarku, tapi aku tak melihat perubahan apapun di kamarku.” heranku.
“ karena yang aku pasang kedap suara adalah di luar dindingmu. Kau lihat sendiri hampir di setiap dinding tertempel- karya- karya mu yang jumlahnya mungkin ada hingga ratusan, tak mungkin aku melepas satu- persatu dan menempelnya kembali ketempat semula.” ucap Arnold mulai memanjakan kulitku lagi.
Dan kali ini aku tak perlu tersiksa lagi menahan d**ahanku. Aku ingin sekali mend*sah dan terkadang tak kuat jika harus menahan d*s*han- d**ahan itu,namun saat bermain dengan Dika- aku kerap harus menahan d*s*hanku karena pria tua itu takut orang- orang tahu apa yang kita lakukan. Terkadang, hal itu membuatku heran, jika ia memang tak mau ketahuan melakukannya, seharusnya, ia tak usah melakukannya sekalian jika pada akhirnya malah membuatku menderita.
Bayangkan saja, aku harus tersiksa menahan d**ahanku belum lagi jika ia tak melakukan foreplay dengan alasan terburu- buru dan tak membuatku terangsang terlebih dahulu lalu langsung memasuki ku.
Dan ujung dari itu semua adalah, ia yang mendapatkan pe**pasannya hanya dalam beberapa kali pacu. Sakit, tak memuaskan dan membuatku frustasi. Bagaimana tidak frustasi jika g*irah yang sudah di bangun malah tak dilampiaskan?
Dan yang membuatku semakin kesal adalah; cara bermain nya yang seolah hanya mencari kenikmatan sendiri dan tak memikirkan untuk memuaskan lawan mainnya. Bahkan aku merasa jika cara bermainnya sama seperti cara bermain wanita yang memuaskan sesama wanita.
Lamunku buyar kala aku merasa jika Arnold tak lagi memanjakan kulitku. Dan entah sejak kapan tubuh kami telah kehilangan semua kain yang menempel di tubuh kami. Tubuhku sedikit menegang kala melihat milik Arnold yang sudah berdiri sempurna. Meski kamarku dalam keadaan yang gelap gulita aku masih bisa melihat senjata kebanggan miliknya, tanpa merasakan pun aku yakin jika itu bahkan lebih besar juga lebih panjang dari pada milik Dika.
“ apa kau mau menyentuhnya?” tawar Arnold. Aku yang penasaranpun lalu mengelus kebanggaan milik kakak tiriku tersebut.
“ apakah milik calon mantan kekasihmu sebesar milikku?” ucap Arnold bangga.
“ ap? Enak saja!” geram Arnold lalu kembali mengukungku.
“ aku mulai ya.” ucapnya setelah membasahi miliknya dengan air liurnya.
“A..h.” aku bahkan tak menjawabnya dan dia sudah memasuki ku. Satu ******* lolos kala aku merasa miliknya yang besar dan hangat memasuki milikku.
Satu d*s*han lolos dan itu meloloskan semua d*s*han serta suara- suara memalukan lainnya. Untuk kali pertama aku tak merasa menderita karena tak mendapatkan pel**asanku- sementara lawan mainku sudah mendapatkan pel**asannya. Karena untuk kali pertama aku bisa merasakan pele**sanku karena memang permainan seorang pria dan bukan karena permainan tanganku.
Harus kuakui Arnold memang sangat pandai memuaskanku. Atau mungkin bermain cinta memang selalu nikmat hanya saja kekasihku itu saja yang tak pandai memuaskanku. Antara Arnold yang sangat pandai bermain cinta atau Dika yang tak pandai bermain cinta.
Lagi dan lagi aku mendapatkan pel**asanku, namun tampak jika pria yang menjadi kakak tiriku ini belum juga ingin menumpahkan pel*pasannya. Entah sudah berapa kali ia menciumiku, mencium bibirku, memainkan lidahnya di mulutku seolah mengabsen setiap ronda di mulutku lalu beralih menciumi setiap kulitku. Entah berapa banyak keringat kita yang saling bercampur menjadi satu. Aku bahkan merasa nafasku mulai memberat seolah aku sedang berbagi udara dengannya.
Aku menatap pada dada bidangnya. Dada yang semula bersih kini telah penuh akan peluh keringat. Namun entah mengapa dua benda kecil yang menghiasi dada pria itu malah menarik perhatianku. Aku mulai mengangkat tanganku untuk memainkan dua buah benda kecil itu. Dan kurasa aku menemukan titik tersensitive kakak tiriku itu- karena aku merasa tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku tahu jika ia akan mendapatkan pelepasannya.
“ jangan kau tumpahkan pele**sanmu di tubuhku.” ucapku menghentikan pacu Arnold.
“ AP? Kau tahukan aku akan frutasi jika tak melepaskannya.” geram Arnold.
“ aku akan memuaskanmu, tapi jangan tumpahkan pelepasanmu di tubuhku. Aku tak ingin hamil dan malah membuat kekasihku itu jadi melamarku karena mengira ia yang mengisi rahimku.” ucapku memelas.
__ADS_1
“ baiklah.” ucap Arnold mengalah. Ia melepas miliknya dan dengan cepat aku bangun dari kasurku, menuntun kakak tiriku itu agar tidur di kasurku dan mulai menciuminya. Melakukan hal yang sama seperti ia yang memanjakan setiap kulitku. Dan aku cukup bangga akan kemampuan foreplay ku. Karena kekasih tua ku itu saja sampai tak bisa menahan matanya agar tetap terbuka saat aku merangsangnya.
Dan itulah yang kulihat saat aku memanjakan setiap kulit Arnold.
“ uh..” lenguh Arnold kala aku mulai mengulum miliknya.
“ ****! Mulutmu sama nikmatnya dengan milikmu.” rancu Arnold kala aku mencoba memasukkan semua milik pria itu ke dalam mulutku dan tepat pada saat aku berhasil memasukkan semuanya, aku merasa jika miliknya berdenyut hebat, tanda ia memuntahkan pelepasannya di mulutku.
Aku langsung melepas miliknya dan bergegas memuntahkan miliknya.
*
“ aku tak menyangka jika kau sangat lihai memanjakan ku menggunakan mulutmu.” ucap Arnold menyusulku.
Ia bahkan tak mengenakan apapun untuk menutupi miliknya.
“ terima kasih, permainanmu juga sama- sama lihai.”
“ benarkan apa yang kubilang- aku sudah katakan jika kau takkan menyesal.” ucapnya bangga.
“ ya. Ya. Ya. Sekarang aku harus mandi, karena tubuhku penuh dengan keringat.” ucapku menggoyangkan tubuhku lalu berlalu membuka kamar mandi.
“ !” aku sedikit terkejut karena Arnold memelukku dari belakang.
“ bagaimana jika memainkan satu ronde lagi di kamar mandi?” tawar Arnold.
“ apakah kamar mandi juga kau buat kedap suara?” tanyaku.
“ jika tidak aku takkan menyarankan hal itu padamu.” ucap Arnold.
Dan, kami benar- benar memulai segalanya di kamar mandi.
*
“ akhirnya calon mantan kekasihmu itu tak datang menemui mu.” ucap Arnold.
“ ia memang seperti itu, ia kerap mengatakan hal yang belum pasti.” ucapku duduk di dada Arnold. Akhirnya karena kelelahan, aku memilih untuk merendam tubuhku di bathup di bawah tangga.
“ dan itu adalah salah satu yang tidak aku suka darinya, jika ia belum pasti bisa menepati nya mengapa ia mengucapkan segala sesuatunya seolah menjanjikannya? Yang membuatku kesal adalah, dari semua yang ia katakan,lebih banyak yang ia ingkari dari pada tepati. Dan saat aku menagihnya, ia hanya menyuruhku untuk mengertinya dengan alasan pekerjaan.” geramku.
“ yah, meski bisa di bilang, kali ini kata- kata yang tak pasti nya cukup menguntungkan- karena tak ada yang mengganggu kita.” ucap Arnold menyenderkan tubuhnya di dalam bath up. Mendengarnya, rasa kekesalanku yang mengingat kelakuan Dika seolah lenyap. Aku tersenyum dan ikut menyandarkan punggungku di dada bidangnya.
“ bath up ini benar- benar berguna. Saat kita beredam bersama seperti ini takkan ada yang mengganggu kita karena hanya kita yang tahu jika ada bathup di bawah tangga.” ucapku.
“ kecuali jika kekasihmu itu tidak terlalu keppo dan membuka satu persatu ruangan di sini.” ucapnya jengah.
__ADS_1
“ itu dia masalahnya.” jawabku. Karena memang, Dika bisa menjadi pribadi yang sangat cuek sekaligus sangat keppo jika instingnya sudah berjalan.