Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Alasan


__ADS_3

Alasan aku tak bisa kesal padanya adalah; ia adalah wanita terpolos yang aku temui.


Dan kurasa aku jatuh hati pada senyum tulusnya. Ia adalah wanita yang ingin terlihat kuat. Ia bahkan jarang meminta bantuan pria untuk melakukan pekerjaan berat.


Tak pernah sekalipun ia meminta bantuan aku atau papa tiriku selama aku sah menjadi keluarganya. Ia hanya akan meminta uang untuk membeli gas. Aku pikir, ia akan menghubungi agennya dan agen akan mengantar gasnya kerumah. Namun ternyata ia hanya membelinya di warung dekat rumah kami.


Aku sedikit terkejut kala ia mengangkat gas itu dengan kedua tangannya. Lalu berniat mengembalikan tabung gas yang kosong kembali ke warung. Aku melihat papa tiriku yang acuh. Namun aku tak bisa acuh. Jadi aku langsung mengambil gas kosong itu dari tangan Aldista.


β€œ mau kau kembalikan kemana?” tanyaku.


Ia lalu mengarahkanku ke warung dekat rumahnya.


Ale, jika keluargamu acuh padamu, biarkan aku yang melindungimu. Batinku.


Karena di negaraku, gas langsung di suplay ke rumah- rumah melalui pipa, aku sedikit asing soal memasang selang gas ke tabungnya.


Dan ia mengajariku dengan sabar.


Ia terlihat kikkuk. Padahal sesungguhnya ia wanita yang mandiri.


Dan..,


Apa alasan keluarganya bahkan adiknya mengatai bodoh?


Karena kelemahannya?

__ADS_1


Karena ia memilih diam?


Karena inilah keinginanku untuk melindunginya semakin besar. Dan keinginanku untuk menutupi soal diriku juga semakin besar. Hanya sekali melihat adik dari Aldista saja aku sudah tahu.


Jika dirinya sama seperti orang yang dulu mengaku sebagai teman kepadaku. Type yang akan menjilat ketika di atas dan akan memandang rendah ketika aku terjatuh nanti.


🌸🌸🌸


Seminggu menjadi keluarga baru. Aku memilih ikut Ale ke solo.


Aku mengendarai kendaraanku. Menatap adik tiriku ini sesekali. Semakin di lihat ia semakin manis.


Atau karena aku meyukainya wajahnya jadi terlihat manis.


Aku merasa gerah. Aku memilih menutupinya dengan berbasa- basi mengajaknya berbincang.


Karena tak pernah ada yang mengajaknya berbincang ketika bepergian?


Aku mengajaknya untuk membeli beberapa barang. Ia sedikit protes.


Tak heran, aku mengatakan ingin membantunya pindah rumah, dan menjual barang tak terpakai dirumahnya, namun aku malah membeli barang lagi untuk tinggal.


Aku mengatakan jika papa tiriku ingin aku membangun kost agar memiliki penghasilan. Dan aku melihat wajah bingungnya.


Ayahnya sendiri tak mengatakan soal hal itu kepada putri kandungnya? Yang benar saja!

__ADS_1


Aku hampir mengumpat.


Kebiasaanku dulu ketika menjadi bad- boy belum sepenuhnya hilang.


Ia mengalihkan dengan berbicara soal hal- hal yang berhubungan dengan interior design. Aku sedikit kagum karena ia mengerti tentang bangun membangun. Padahal dia belum lulus dan benar- benar menjadi Interior designer.


Aku membayangkan jika ia lulus. Ia pasti bisa menjadi designer berbakat. Aku akan langsung merekutnya. Ia imajinatif.


Aku bisa menjamin hal itu saat melihat kamar yang aku yakini kamarnya- ketika aku tiba di rumah keluarga angkat ku.


Bukan sketsa interior, namun gambar- gambar animation yang penuh imajinatif. Aku bisa menggunakan untuk game ku nanti. Dan ia sebagai sutradara animation nya. Karena itu adalah karyanya.


Ia mengatakan jika ia tak berbakat membangun rumah- karena ia mengikuti study nya karena desakan ibunya.


Ibu kandungnya? lagi?


Lupakan.


Fokus pada rumah yang akan di bangun.


Dari pada ruang tamu, aku lebih suka pada ruangan yang dulunya dipakai kakak dan adik angkatku.


Aku membayangkan akan jadi apa ruangan yang akan kutempati nanti. Karena aku bekerja sama dengan interior design aku sedikit menyerap beberapa hal. Dan Ale yang bahkan belum lulus mengerti apa yang aku maksud soal interior design.


Saiap yang mengatakan jika Ale itu bodoh? Ia berbakat.

__ADS_1


Dan aku yakin itu. Akan kubuat orang yang mengatainya itu menyesal suatu hari nanti.


__ADS_2