
Aku ingin sekali menunjukkan wajah sepupu Arnold kepada Dika agar membuat pria tua mati kutu.
Tak heran, Damien memiliki wajah yang sama tampannya dengan Arnold, namun sedikit lebih tinggi dari pada kakak tiriku itu.
“ nama ku; Damien.” ucap Damien menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
“ aku; Aldista.” ucapku berusaha ramah dan membalas salam Damien.
“ ga sah lama- lama salamannya.” geram Arnold.
Melihatnya aku hanya menyikut perut Arnold.
“ aw! Kenapa kau menyikutku Ale!” geram Arnold. Aku tak banyak berkata, hanya menatap Arnold tajam.
“ kalian sudah saling berkenalan?” ucap mommy Berta datang dari kamarnya di lantai dua.
“ kenapa papa ga ikut pulang, mom?” heran ku.
“ papa mu masih ada upacara adat, honey. Mungkin minggu depan akan pulang. Dan papa mu bilang setelah pulang, ia mengajak kita untuk melihat cucu nya, anak dari kakak laki- laki mu.” ungkap Mommy Berta.
“ kita akan ke ibu kota?” tanyaku.
“ yap.” ucap Mommy Berta.
“ sekarang karena lantai dua sudah mom buka, ada baiknya kita lanjutkan pembangunan ini.” ucap Arnold.
“ pembangunan?” heran Damien.
“ ya, awalnya, rumah ini masih dalam tahap pembangunan. Aku menyelesaikan semua bangunannya karena papa bilang mau membuat lantai satu menjadi kost sementara kita semua akan pindah KK ke Bali.” ungkap Arnold.
“ semua lantai satu sudah selesai di garap dan ini semua adalah design Ale.” ucap Arnold.
“ benarkah itu, honey? kurasa aku memiliki putri yang berbakat.” ucap Mommy Berta menangkup wajahku, aku hanya bisa menunduk malu. Di saat keluarga ku hanya bisa menertawai bakatku, aku tak menyangka jika keluarga baru ku malah memuji bakatku.
“ ya, sejujunya, aku ingin langsung mengerjakan lantai dua, namun karena di kunci, akan sangat tidak sopan membuka langsung, sehingga aku memilih menunggu kalian untuk pulang dulu baru melanjutkan pembangunan.
meski rumah ini akan di bangun kost- kostan, tak mungkin juga tidak pulang sama sekali ke Solo. Aku berpikir, kita pasti akan tetap pulang ke solo untuk mengawasi kost- kost kita, jadi aku berpikir hanya satu lantai yang di buat kost- kost an sementara satu lantai lagi untuk kita beristirahat.” ucapku memperlihatkan design ku melalui handphone ku.
“ itu keren, honey.” ucap mommy Berta.
“ sekarang, lebih baik kita mencari makan dulu, baru mencari bahan untuk design Aldista.” ungkap Damien.
“ ku pikir kau lupa alasanmu ke Solo.” ejek Arnold.
Sementara, aku hanya bisa tertawa melihat interaksi antar saudara jauh itu.
**
Hal pertama yang tak luput dari kuliner khas solo tentu saja; nasi liwet. Nyam. Nasi yang di liwet dengan santan kelapa. Di tambah sayur berupa sambal goreng japan yang di dalamnya juga ada trecek sapi atau rambak kulit sapi, dan suiran ayam, jika mau bisa di tambah dengan telur yang di rebus lalu di beri santan kental sebagai pelengkap.
“ ngomong- ngomong..,” ucap Damien sambil mengunyah makanannya.
“ ngomong- ngomong.., apa?” ucapkku meniru mimik wajah Damien.
“ melihat Design mu ini. Lantai dua kau buat gaya Eropa, ya?” heran Damien pada Design ku.
“ tidak benar- benar Eropa. Itu cuma kayu Block, jadi kayu buatan agar terlihat Kayu. Indonesia memiliki dua iklim. Jika panas, kayu- kayu itu memang akan membuat udara di lantai dua menjadi lebih sejuk, karena kayu wood memang bisa menyerap panas. Tapi jika menggunakan kayu asli di musim penghujan, aku takut, kamar papa dan mama menjadi lebih lembab, berjamur dan muncul lumut. Jika kayu Block, kita bisa mengurangi jamur karena itu tidak benar- benar kayu asli, lebih seperti cetakan karet.” ungkapku.
__ADS_1
“ aku suka menonton film luar yang suka menampilkan kamar atap. Jadi inspirasi nya dari sana.” ucapku semangat.
“ bukankah kau belum lulus? Dari mana semua ilmu mu ini?” heran Arnold.
“ cari di Internet kan ada? Kita tak perlu terpaku pada pembelajaran yang sudah kita pelajari. Jika tak tahu lalu memilih menyerah. Kalau aku, lebih memilih mencari tahu dulu, jika tidak dari buku ya Internet.” ucapku semangat. Karena pengetahuan soal kayu itu juga aku mencarinya dari Internet.
“ aku yakin jika lulus kau akan menjadi Designer berbakat.” ungkap Arnold. Aku hanya tersenyum menatap pria yang menjadi kakak tiri ku ini.
Kuliner kedua tentu saja serabi. Cocok buat camilan.
Nyam, salah satu yang akan membuat aku merindu tentu saja karena masakan khas kuliner kota kelahiranku ini. Beragam masakan hingga membuat lupa akan diet.
Setelah makan, mommy Berta mengajakku ke pasar yang juga tak luput dari khas solo; Klewer. Sejujurnya, setelah ibu ku tiada- aku tak lagi pernah menjajaki pasar yang pernah menjadi mata pencaharian keluarga ku ini. Selain karena banyak menyimpan kenangan. Aku sendiri juga tak suka tempat yang terlalu ramai.
Salah satu ciri khas di tempat ini adalah; jika kita bisa berbasa Jawa, kita bisa di beri harga murah. Namun sedikit saja kita memiliki wajah khas orang asing tentu harganya bisa berkali- kali lipat. Beruntung mommy adalah orang Indonesia meski putra nya memiliki wajah yang lebih dominan wajah Belanda karena memang- mendiang ayah kandung Arnold merupakan orang Belanda.
Aku sangat suka baju khas Indonesia terutama batik. Unik. Penuh dengan beragam seni dan arti di dalam satu kain. Dan yang pasti adalah karena batik bisa di modifikasi dengan pakaian modern. Mau hijab ataupun celana Jeans semua masuk.
“ sekarang belanja sudah. Apa kau tahu masakan yang cocok untuk pemburuan kita.” ucap mommy Berta semangat. Aku tahu maksud dari pemburuan adalah makanan khas solo lagi.
Aku memilih selat solo. Karena sedari tadi sudah makan- makanan yang cukup berat, aku memilih makanan yang lebih banyak sayurnya. Ada selada, wortel, kacang panjang, kentang, tomat, telur dan galantin. Untuk galantine bisa memilih, mau yang rasa ayam atau sapi.
“ aku heran pada kalian.” ungkapku.
“ kenapa?” heran Damien.
“ kalian suka wisata kuliner tapi mengapa aku melihat kalian memiliki keenam otot di perut kalian? Kalian operasi ya?” heranku. Mendengarnya, Damien hanya tertawa. Begitupun Arnold.
“ selama ini kita selalu belajar beladiri.” ungkap Arnold.
“ beladiri?” heranku.
“ Christ dan Brian siapa?” heranku.
“ Christ adalah kakak ku dan Brian adalah adikku. Christ sudah menikah dan memiliki 3 anak kembar; anak pertama mereka laki, anak kedua perempuan dan bungu adalah lak- laki.” ungkap Damien.
“ lalu Brian” heranku.
“ dia adikku dan dia seorang doker dan saat ini meneruskan pendidikan S2 nya di Swiss, kurasa tahun ini ia akan menyelesaikan sumpah dokternya dan menyusulku ke Indonesia dan mulai membuka rumah sakit di Indonesia.” ungkap Damien.
“ maksudnya, bekerja di Indonesia kan?” ucapku tak percaya dengan kata membangun.
“ tidak! Ia benar- benar ingin membangun rumah sakit umum.” ucap Damien.
Lalu Damien menyebutkan arti dari kata ummu itu bukan untuk segala penyakit namun segala kalangan. Meski rumah sakit ini tergolong swasta, adik dari Damian ini ingin membangun rumah sakit yang berguna bukan hanya untuk orang kalangan menengah ke atas, namun juga kebawah. Di sini, Damien juga memintaku mendesign bangunan rumah sakit untuk Brian.
“ apa? Aku bahkan belum pernah mendesign bangunan rumah sakit.” ucapku ragu.
“ bukankah ini merupakan tantangan untukmu? Aku yakin jika kau bisa membangunnya, saat kau melanjutkan kuliah mu lagi- kau takkan terlalu sulit membuat tesis karena kau sudah pernah terjun langsung ke lapangan dan membangun design. Satu rumah mu sendiri dan kedua adalah bagunan umum yaitu rumah sakit.” ungkap Damien.
“ bukankah kau sendiri yang mengatakan lebih memilih berjuang dari pada menyerah? Aku akan membantu mu mencari artikel tentang design rumah sakit, mungkin kau bisa mengambil ide dari sana.” ungkap Arnold.
“ bukankah aku harus mewawancarai adikmu dulu? Aku ingin mendengar pendapatnya sebagai pemiliknya nanti, ia ingin konsep seperti apa.” ucapku.
“ kita lupa jika sedang berbicara dengan mahasiswi interior Designer.” ucap Arnold mengejekku.
Setelahnya, kami memutuskan pulang dan beristirahat. Aku sedikit merindukan hari- hari dimana hanya ada aku dan Arnold berdua di rumah. Namun aku harus sadar aku tak bisa berharap lebih dari hubungan ini. Biar bagaimana pun, kita terikat suatu hubungan yang tak bisa bersatu- bernama; saudara. Meski tidak sedarah sekalipun.
__ADS_1
Baru mau aku menikmati dunia mimpiku- tidurku buyar karena suara anak kecil memainkan Bel.
Arnold yang geram lalu segera membuka pintu dan menarik anak kecil yang berusaha kabur itu.
“ Hei! Apa kalian tak pernah di ajarkan jika melakukan seperti itu- maksudku bermain bel di rumah orang adalah hal yang tidak sopan?” geram Arnold mengangkat anak kecil itu dengan mudahnya.
“ a..., ampun mas.” ucap anak kecil itu ketakutan. Tak heran selama ini, aku atau papa selalu membiarkan anak kecil itu karena tak tega memarahi anak kecil itu.
“ ada apa kak?” heranku.
“mba, aldist! Tolong aku.” ucap anak kecil itu memanggilku.
“ jangan memanjakan anak kecil Ale! Jika salah ya harus di kasih tahu! Geram Arnold., mba.”
“ atut!” ucapku pura- pura takut pada Arnold.
“ dik, jangankan kamu, aku ajh takut.” ucapku mencoba menakuti.
“ mas e menakutkan, yo mbak.” ucap anak kecil itu.
“ namanya, juga kakak tiri, tau sendiri kakak tiri kayak apa.” ucapku mencoba menurunkan anak kecil itu.
“ masa to.” ucap anak kecil itu mulai tepancing.
“ heem. Makanya, jangan main- main lagi. Sekarang biar, mbak yang kena marah.” ucapku.
“ he e.” jawab anak itu meninggalkan rumahku.
“ ini yang namanya tegas tapi tidak memarahi!” ucapku melihat wajah geram Arnold.
“ kenapa kau membiarkannya, Ale.” heran Arnold.
“ kak, dia masih anak- anak. Tegas, boleh tapi jangan memarahinya. Lagi pula , ia usil begini juga pasti karena orang tuanya. Antara ia yang kurang sayang, atau orang tuanya terlalu memanjakan dia. Kita berhak memberi tahu, tapi jangan memarahi, nanti anak itu juga akan segan sendiri pada kita.” ucapku mencoba mengajak masuk Arnold.
“okey! Okey!” ucap Arnold mengalah.
“ siapa tadi, Ale?” tanya Damian.
“ hanya anak- anak tetangga yang usil. Dan.., jangan menggunakan nama panggilan itu! Itu nama panggilan yang aku berikan untuk Adik tiriku.”geram Arnold.
“ otomatis kan dia juga saudara jauh tiriku. Atau sepupu tiri.” goda Damien.
“ apaan panggilan itu?” ucapku tertawa.
“ ngomong- ngomong, aku harus kembali bekerja.” ucap Damien melihat handphone nya.
“ okey! Kapan- kapan main kesini lagi.” ucapku.
“ aku masih akan menginap.” ucap Damien.
“ apa? Katanya bekerja?” heranku.
“ ya, aku bisa bekerja di mana saja aku berpijak, hanya aku harus apel hari ini.” ucap Damien kembali ke kamarnya untuk bersiap.
‘ sebenarnya..., mereka itu bekerja apa?’ heranku. Yang satu; terlihat santai dan hanya masuk bekerja satu kali namun tampak selalu bisa menghamburkan uangnya.
Yang satu katanya bisa bekerja di mana saja ia berpijak.
__ADS_1
Aku tak terlalu tertarik soal pekerjaan mereka, namun tetap saja itu menggelitik asa penasaranku. Mengingat aku juga tak melihat jika mommy Berta bekerja. past uang yang di miliki Arnold juga bukan dari mommy Berta.