
Aku sedikit terkejut melihat Dika yang sudah menunggu di depan rumahku sedari pagi. Bahkan di saat Arnold dan Mommy Berta masih tidur, pria itu telah bertamu dan membangunkanku pagi- pagi.
“ ada apa? Pagi- pagi sudah bertamu.” heranku.
“ aku lagi ada masalah, Aldista!” ucap Dika panik.
‘ lagi? Apa ia akan memintaku memohon pada Arnold meminjamkan uang?’ batinku mulai kesal. Papa juga masih beberapa hari lagi pulang- hingga aku, benar- benar bisa bebas dari pria yang tak lagi muda ini.
“ apa lagi?” ucapku mulai malas.
“ ini pembeliku.” ucap Dika panik.
Lalu Dika menceritakan segalanya, soal pembelinya yang mengancamnya karena Dika tak segera menyelesaikan pesanannya- ke ranah hukum.
‘ konyol! Hanya karena kurungan saja sampai membawa nama hukum?’ heranku.
“ padahal, aku sudah mengaakan jika pekerjaanku tak bisa di buru- buru karena tenaga nya cuma satu orang yaitu aku.’ kesal Dika.
“ kenapa kau tak menambah pekerjamu?” heran Arnold ikut menimbrung.
“ karena.., pesananku sedang banyak- banyaknya, tak mungkin meluangkan waktu untuk mengajari orang lagi! Apa lagi aku tak memiliki tempat yang luas.” ungkap Dika.
‘ alasan yang sama.’ bisikku.
‘ tipe yang tidak mau ambil resiko untuk kemajuan yang lebih baik.’ balas Arnold.
“ kalian mengataiku?” geram Dika yang memiliki telinga super saat ada orang membicaraan dirinya. Padahal saat aku mengingatkannya saat dulu salah langkah- telinganya seolah menuli.
“ tidak! aku berniat membantu, sayangnya, hari ini akan ada tukang yang datang melanjutkan pembangunan di lantai dua, kau pergilah dulu dengan Ale, aku akan meminta Damien menolong kalian.” ucap Arnold.
“ apa aku perlu menanggapi nya dengan membuatkan pesanannya?” heran Dika.
“ tak perlu! Jika pelangganan mu itu membawa nama saudaranya yang bekerja di hukum lalu bisa semena- mena- kita juga harus membalasnya agar ia tak mengulang hal yang sama dan membuat jatuh lebih banyak korban karena ulahnya.” ungkap Arnold menaikkan sebelah alisnya.
Aku jadi penasaan, sebenarnya.., Apa pekerjaan Damien.
🌞🌞🌞 rumah Dika 🌞🌞🌞
Haha! Sekarang, keinginanku mempertemukan Damien dengan Dika benar- benar terjadi, bahkan tanpa aku membuat skenario sekalipun. Tampak wajah Dika yang terkejut melihat wajah tampan Damien.
Tak heran, wajah Arnold saja sebenarnya sudah membuat seorang Dika mati kutu. Sekarang.., ia di haruskan berhadapan dengan Damien yang sama- sama tampan, juga sama memiliki dagu yang tegas, hidung yang mancung, jga kulit yang sama- sama putih.
Hanya saja, Damien lebih tinggi dari Arnold dengan rambut hitam berbeda dengan Arnold yang memiliki rambut pirang.
Arnold saja sudah tinggi- apa lagi Damien. Mereka di ibaratkan raksasa bagi tinggi ku yang mungil. Dika sendiri tak bisa di bilang pendek. Tinggi nya sudah masuk kategori tinggi, namun saat di hadapkan para orang- orang bule yang bisa berbahasa Indonesia itu- tentu saja pria tua itu tidak ada apa- apanya.
__ADS_1
“ aku sudah menuruti permintaanmu yang menantangnya dan sekarang ia benar- benar akan datang kemari dengan saudara nya yang police itu.” ucap Dika pada Damien yang sedang bermain dengan keponakan Dika yang paling kecil.
“ ya, sudah. Tinggal tunggu saja.” ucap Damien santai, padahal tampak jika Dika mulai panik. Ia memang paling takut jika berhubungan dengan Police.
Takut untuk di tangkap tapi tak takut berbuat salah.
Ibarat takut pada hukum manusia tapi tak takut pada hukum akhirat.
Aku melihat ada yang datang menggunakan mobil police, aku lalu menatap Damien yang tersenyum lalu memilih keluar terlebih dahulu.
“ saya sudah di depan rumah anda.” ucap seorang pria yang aku yakini adalah pembeli sombong yang di katakan Dika.
“ ba..., bagaimana ini?” ucap Dika panik.
” ayo keluar.” ucap Damien santai.
“ ooh, anda sudah keluar. Mas, iki wong seng tak crita
ne.” mas. Ini orang yang aku ceritakan. Ucap pria tersebut.
Tampak police yang di bawa pria tersebut sedikit terkejut melihat wajah Damien dan malah memberi hormat.
“ salam, sir.” ucap police yang di bawa pria tadi.
“ ma.., mas ngopo koe hormat karo mas e.” mas, kenapa kamu hormat sama orang itu? Heran pria itu.
“ salam, sir. Saya sangat mengagumi anda.” ucap Police tersebut hormat. Damien masih santai dan tersenyum.
“ nama Beliau juga sangat di kenal luas dengan nama Eye Wolf. Mata serigala. Karena Beliau sangat pintar mengatur strategi di lapangan dalam waktu cepat dan juga pandai melihat kesempatan untuk menyerang.
Beliau juga sangat pandai melihat kebohongan seseorang hanya dari menatap pupil seseorang. Sebagai seorang berpangkat rendah seperti saya, saya sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan anda.” ucap Police tersebut antusias.
Aku sendiri baru tahu jika Damien seorang Police- karena Arnold tak pernah mengatakan apapun kepadaku. Meski aku sudah curiga saat mereka mengatakan sering berlatih beladiri.
Jika Damie seorang Police, apakah Arnold juga Police?
Aku yakin; Tidak!
Kalau kakak tiri ku itu Police, pasti ia akan memilih untuk turun tangan langsung dan takkan menyuruh Damien kemari.
Jika dengan alasan membangun rumah, ia bisa langsung meminta Damien mengawasi dan langsung membantuku. Jadi aku berkesimpulan; jika hanya Damien lah yang seorang Police.
“ siapa nama mu.” ucap Damien santai.
“ a..., aku..., Jok*.” ucap Police itu senang, sementara pria yang merupakan pelanggan Dika dan Dika sendiri hanya bisa terdiam. Tampak Dika yang menatapku, aku sendiri hanya bisa mengangkat bahu karena aku juga baru saja tahu fakta yang ada-jika Damien adalah seorang Agen dari Intel.
__ADS_1
“ begitukah? Jack?” tanya Damian merubah nama Jawa jadi nama yang lebih keren.
“ ya, anda bisa memanggil saya begitu.” ucap police itu senang.
“ kalau boleh, aku tahu, mengapa kau berada di sini? Apakah kau tak ada tugas?” ucap Damien berusaha sesopan ungkin, meski aku tahu ada kata yang mebjebak dari kata- kata itu.
“ eh?” ucap Police itu menatap pria yang merupakan pelanggan Dika.
“ a.., anu., saya hanya berada di sini karena..” ucap Polce itu ragu.
“ saudara saya, merasa di tipu oleh.., erm seorang tukang sangkar.” ucap Police itu ragu.
“ di tipu? Kau yakin? Benarkah itu, kak? Atau mas? Atau apalah?” ucap Damien pada Dika.
“ saya bukan menipu. Cuma, saat mas nya ini pesen, saya sudah bilang kalau saya tidak bisa di buru- buru. Tapi mas nya ini ngotot, minta di selesaikan secepatnya.” ucap Dika berusaha jujur.
“ tapi anda sudah merusak barang saya- maksudku bahan kayu saya.” ucap pembeli tersebut.
“ benarkah itu?” tanya Damien lagi.
“ saya bukan merusak, saya cuma membuat pola sangkar sesuai pesanan mas e.” ucap Dika.
“ kalau kau tak mau barangmu di rusak, mending barangmu kau laminating saja.” ucap Damien menatap ke arah pembeli tidak sopan tersebut.
“ dan kau.., siapa tadi namamu..? Jack?” ucap Damien menampilkan mimik mengingat.
“ ya..” baru mau menjawab, aku begitu terkejut karena Damien menendang perut Police tersebut.
“ dan kau sebagai Police! Malah menerima permintaan tak masuk di akal saudaramu ini?” geram Damien. Aku sedikit terkejut melihat air muka Damien yang berubah gelap.
“ jangan harap, police kecil sepertimu akan kupandang jika kau masih mempermainkan hukum dan keadilan.” geram Damien.
“ jangan mentang- mentang, kau bekerja di bagian hukum, lalu semua saudaramu kau bela tanpa melihat apakah yang mereka lakukan itu salah atau benar! Camkan ini baik- baik!” ucap Damien mencengkram kerah seragam police tersebut.
“ jika kau ingin aku pandang, ingat baik- baik kata- kataku ini! Tak peduli, apakah itu saudara, keluarga atau orang tua mu sekalipun, yang salah, ya harus kau salahkan, dan meski itu orang yang kau benci sekalipun jika ia benar- tetap harus kau bela!” ucap Damien dengan sedikit meninggikan suaranya. Melihat Police itu terdiam ketakutan, Daien lau melepas cekalan nya.
” paham?” ucap Damie mulai melunak. Tampak Police itu mengangguk dengan tubuh gemetar.
“ lalu.., kenapa kau masih ada di sini?” tanya Damien.
Akhinya Police tersebut memilih kembali naik ke kendarannya.
“ ma.., mas. Ojo tinggalke aku.”mas, jangan tinggalin aku. ucap pembeli itu.
“ gah, niate aku yo emoh nolong koe. Mung, koe ne wae seng mekso. Sak iki aku malah di seneni, wes urusana masalahmu dewe, aku wegah ikut campur.” tidak mau, awalnya aku ya tidak berniat nolong kamu. Cuma, kau selalu maksa. Sekarang, aku malah jadi kena masalah, sekarang, urus- urusanmu sendiri. Geram Police tersebut.
__ADS_1
Sekarang, tampak jika Damien menepuk pundak Dika karena masalah Dika dengan Police sudah kelar, tinggal masalah antar Dika dengan pembelinya saja.