
Karena Damien dan Mommy lelah, akhirnya aku harus kembali mengendarai mobil sampai ke rumah.
Dan, sesampainya di rumah, kami mendapati rumah keadaan kosong.
Apakah Ale pergi bersama kekasih tuanya.
“ dia pergi bersama kekasihnya? Kurasa ia masih menyukai kekasihnya.” ucap Damien.
“ kurasa tidak.” jawabku.
“ ha?”
“ kurasa ia hanya tak suka berada dirumah sendiri, itu sebabnya, ia pergi dengan kekasih tuanya.” jawabku.
“ baiklah, ayo kita jemput Aldista, Damien- kau pergi mandi dan urusi soal barangmu.” ucap Mommy Berta.
“ di sini banyak kamar, itu kamar Ale, di depannya adalah kamarku. Sisanya untuk kost. Pilihah salah satu, sementara ini, rumah masih dalam tahap pembangunan dan belum di buka untuk kost.” jawabku.
“ oke. By the way, tahun ini Brian akan menyelesaikan sumpah dokternya, dan setelah itu kurasa ia akan membangun rumah sakit di Indonesia dengan sisa beasiswa yang di uangkan nya, jadi kurasa aku akan mengambil kamar di dekat adik tirimu, itu yang paling luas karena Brian akan sekamar denganku- apa kau ada kasur tambahan? ” tanya Damien.
“ tidak ada, di sini tidak ada kamar buat menyimpan kasur tambahan. Aku belum membangun lantai dua karena kamar itu di kunci, setelah menjemput Ale dan mencari makan, kita beli beberapa peralatan sekalian untuk membangun.”
“ harusnya kau congkel saja, jika membangun lantai dua dulu, nanti lantai satu jadi kotor.” ucap Mommy ku.
“ aku sudah memperhitungkannya, ada pintu tambahan di bawah tangga, kita bisa menggunakan itu untuk keluar masuk tukang, dengan begitu takkan mengotori lantai satu.” ucapku.
“ hoo, yang sudah pengalaman dalam bidang membangun.” puji Damien.
__ADS_1
“ berisik! Masuklah ke kamar yang sudah kau pilih, di sana sudah ada Lemari untuk pakaianmu.” ucapku.
“ tidak ada meja?” heran Damien.
“ beli meja lipat untuk Laptop saja.” jawabku
.
“ oke, hati- hati menjemput pujaan hatimu.” ejek Damien.
Aku lalu mengambil Handphone ku. Aku menghubungi Ale. Ia mengatakan di rumah bibinya.
‘ bibi?’ heranku. Ternyata itu panggilan untuk kekasih tuanya. Ya, tak heran. Ia seorang pria namun memiliki emosional seorang wanita yang sedang datang bulan.
Aku sedang bersiap dan hendak berangkat dan hendak menjemput Ale- sebelum akhirnya di hentikan ibuku.
“ mommy?” heranku.
“ kau masih lelah menyetir dari kebun teh, mengantar Aldista hingga menjemput kami. Lagi pula, aku yakin kekasih Aldista akan curiga jika kau menjemputnya sendiri.” ucap ibuku.
“ mommy benar.” ucapku setuju akan pendapat ibu kandungku tersebut.
Akhirnya, Mommy lah yang menyetir mobil. Dan aku sebagai navigasi menuju tempat yang sudah di share oleh Ale.
“ mom.” panggilku.
“ hem?”
__ADS_1
“ jangan bertingkah seolah mommy tahu perasaanku.” ucapku.
“ kenapa kau tak ujur soal perasaanmu, Ar? Ale adalah anak yang baik, berbeda dengan para wanita di luar sana yang hanya mendekatimu karena kedudukanmu.” heran Mommy ku.
“ ingin. Namun ia tak mengingatku, dan aku ingin mengakui aku mencintainya saat aku yakin jika ia juga mencintaiku.” ucapanku membuat Mommy memilih diam dan fokus pada kemudinya.
Dan di saat kami sudah berada di titik lokasi, aku dapat melihat jika ada Ale di sana. Aku keluar lebih dulu. Dan tepat saat aku melihat wajah curiga kekasih tuanya, Ibuku datang dan langsung memeluk Ale.
Aku mengakui jika ibu memang kikku, namun insting seorang ibu memang lebih kuat dari apapun. Aku melihat Ale menyukai ibuku terutama saat ibuku menciumi dan menyayanginya, apakah keluarganya tak pernah menciuminya? Bahkan memberi kasih sayang sederhana seperti ini?
Aku mengajaknya pulang, mengatakan jika Damien pulang dan ingin wisata kuliner di Solo. Ia bingung siapa itu Damien.
Dan saat aku menjelaskan siapa itu Damien, aku mendengar jika kekasih tuanya menghinanya dengan perkataan pria gemuk.
Aku rasa ia akan mati kutu melihat seperti apa rupa Damien. Saudara jauhku itu bahkan lebih tinggi dari aku.
Aku sudah memperingati kepada ibuku untuk tidak mengatakan apapun soal perasaanku, dan dia malah mengodaku dengan memberi saran soal sekamar berdua?
Sial!
Aku mengatakan dengan mulutku sendiri jika kita hanya suadara dan hanya orang luar! Aku mengatakannya dengan mulutku tapi mengapa aku merasa kesal.
Aku menatap kekasih tua Ale yang tampak tak suka jika ibu yang kusayangi ini mengatakan hal itu. Lalu aku beralih ke arah Ale.
‘ hem?’ batinku dengan heran akan wajah hampanya.
Dan ibuku mengalihkan jika perkataannya hanya bercanda juga meminta kekasih tuanya dan saudarinya untuk menjaga Aldista. Lalu memperingatiku untuk menjaga adik tiriku tersebut. Aku tahu jika ibuku ini sedang memancingku untuk bersandiwara, jadi aku hanya mengikutinya, seolah aku adalah anak kandung yang di anggap anak tiri. Dan kurasa itu berhasil aku melihat Ale yang menjulurkan lidahnya padaku dan kekasih tuanya dengan saudarinya hanya bisa tertawa
__ADS_1