Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Bertemu keluarga besar


__ADS_3

“ kalian juga berganti baju?” tanyaku, saat melihat para bule yang bisa berbahasa indonesia itu juga bersiap di ruang ganti pria.


“ kenapa memang?” tanya mereka dari dalam ruang ganti pria. Karena memang aku tak memasukinya, hanya mengintip dari luar ruang ganti yang bersebelahan dengan ruang rias wanita.


“ aku penasaran lho; wajah bule menggenakan bescap jawa.” ucap ku membayangkan. Bescap adalah baju khas jawa yang biasa di gunakan para lelaki.


Namun aku harus di buat kecewa, karena...,


Mereka cuma menggenakan jas biasa.


“ ga asyik ah.” ucapku cemberut.


“ pengen banget lihat kita pakai baju jawa, ya.” kekeh Damien.


“ kalau gini kan bukan seragam namanya, masa yang lain pakai bescap jawa kalian enggak.” ucapku cemberut. Padahal aku sudah penasaran setengah mati melihat para pria bule ini pakai pakaian jawa itu.


“ diamlah.” ucap Damien mencium pipi ku.


“ ih..” kesalku.


“ kenapa?” tanya Damien.


“ nanti aku kena PKK.” ucapku.


“ apa itu?” heran Arnold.


“ Panu, Kudas, Kurap.” ucapku mengelap pipi yang di cium Damien.


“ cerewet, rasakan ini.” ucap Arnold ikut mencium pipi ku yang tidak di cium Damien. Aku dapat melihat wajah terkejut para keluarga besarku.


“ ini lagi.” ucapku menutupi ke dua pipi ku.

__ADS_1


“ apa aku tidak kebagian ciuman?” ucap Brian lesu.


“ ouh, kemarilah, aku akan mencium mu.” ucapku gemas. Lalu mencium pipi pria yang terpaut 10 tahun dariku itu.


“ hehe, lihat. Aku di cium.” ucap Brian menyusul ke dua kakak laki- lakinya yang menuju tempat mereka duduk sebagai tamu.


“ anak kecil. Sok pamer.” jawab Damien.


“ curang.., kami mau di cium juga.” ucap Arnold merajuk.


“ maka karena ia anak kecil aku mau menciumnya. Brian, jangan seperti kakakmu yang Casanova itu.” ucapku ikut menyusul para pria bule itu.


“ apa maksudmu, Casanova? Aku ini pria setia.” jawab Damien.


“ Prettt.”


**


Aku menatap ke arah pria bule itu. Arnold memakai kemeja putih, dengan rompi silver dan jas putih.


Aku menatap ke jalan acara pernikahan. Adat jawa yang kental karena tamu khusus keluarga memakai bescap dan kemben. Di iringi pembukaan berbahasa jawa yang aku sendiri tak tahu artinya.


“ aku mulai haus.” ucap Damien dengan tubuh yag melorot.


“ kenapa hanya para MC itu saja yang di beri minum?” tanya Arnold.


“ aku akan tanya pada Andre dulu.” ucapku. Andre adalah kakak dari Anna dan pria itu seumur adikku.


Aku berbincang, cukup alot karena mereka menatap ku dengan tatapan remeh yang membuat jengah.


“ apa kata mereka.” tanya Damien.

__ADS_1


“ katanya nanti makannya prasmanan. Jadi minum pun akan jadi satu dalam ruang makan.” ucapku kesal.


Disaat itu, Damien menghentikan salah satu pelayan yang membawa kan minum.


“ nona, bisakah kau membawakan kami minum, kami cukup haus, karena datang terlalu pagi dan tak sempat sarapan.” ucap Damien. Aku dapat melihat jika wajah pelayan wanita itu bersemu merah, mungkin karena malu melihat ketampanan Damien.


‘ dan dia tak mau aku menyebut dia itu Casanova?’ heranku yang melihat seolah Damien terbiasa memuji wanita.


Akhirnya, selang beberapa waktu, pelayan wanita itu benar- benar membawakan kami minum. Aku dapat meliat para wajah keluarga besar yang menolak membawakan aku minum tadi.


“ tea.” jawabku pada Damien yang menatap ke arah minuman.


“ bukankah biasanya pakai mug? Dan ini tidak panas.” keluh Damien.


“ ini bukan di Belanda. Sudah minum saja, katanya haus.” ucap Arnold. Meski ia juga keturunan Belanda, mommy Berta adalah orang Indonesia, jadi pasti kakak tiri ku itu biasa meminum teh dengan cangkir kaca seperti ini.


Aku menatap ke arah pintu luar, ada keluarga ku besarku yang lain. Dan adikku bersama mereka.


Tak apa, aku sudah menduganya. Mungkin itu alasan adikku pergi menggunakan motor nya. Aku yakin setelah ini ia ingin pergi dengan keluarga besar, tanpa aku di dalamnya.


Aku menatap mereka semua. Mereka melewati meja ku sekedar menyapa keluarga mempelai. Aku memilih diam. Sama seperti para pria bule ini yang juga tak mempedulikan ketika tak di sapa keluarga besarku.


Waktunya sessi foto. Bukan bersama mempelai.


Namun dengan para keluarga besar.


“ eh, ayo. Kalian juga berfoto. Etta juga, ayo.” ucap mba Indah. Salah satu keluarga ku yang masih peduli padaku. Di antara saudaranya, aku tahu hanya mba indah saja yang hatinya seperti bude Endang- ibunya.


Penuh kasih, pemersatu keluarga. Dan Etta adalah panggilanku dalam keluarga.


“ tidak, kalian dulu saja, kita ingin menyumbang nyanyian.” ucap Arnold. Aku menatap ke arah Arnold dan Damien. Wajah mereka yang biasa penuh senyum kini menggelap. Mungkin karena tak suka perlakuan dan sifat keluarga besar.

__ADS_1


Aku di seret ikut menjadi bagian dari music mereka. Aku tak menyangka jika suara mereka sangat bagus dan mereka sangat pandai bermain alat music. Brian bermain piano, Arnold bermain violin. Damien juga Arnold menyanyi bergantian. Sebuah lagu Rohani. Aku dapat melihat jika mereka begitu menghayati lagu mereka. Aku bahkan sampai melihat mereka menangis, mungkin karena mendalami lagu mereka.


Aku tak terlalu pede dengan suaraku, akupun belum terlalu mahir beralat music. Hanya ada gitar dan lagu ini kurasa tak terlalu cocok di combinasi dengan suara gitar. Jadi aku cuma menggunakan lonceng mengiringi lagu rohani mereka.


__ADS_2