Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Seandainya


__ADS_3

Setelah naik paralayang, kami mengunjungi candi- candi yang aku lihat sewaktu di langit. Ini memang bukan religi ku, namun melihat Ale yang begitu menghormati perbedaan agama yang ada, akupun memilih menemani mereka mengunjunginya.


Ini adalah salah satu yang kusuka dari seorang Aldista;


Ia tak pernah membeda- bedakan meski agama sekalipun.


Namun, yang membuatku heran adalah, mengapa banyak orang yang membedakan dia?


Akhirnya waktu untuk Makan siang- tiba.


Aku mencari di mesin pencarian soal makanan yang enak di sini. Aku langsung melajukan kendaraanku ke tempat yang di maksud.


Dan selama kami memasukinya, Ale hanya bersembunyi tak mau melihat apa yang menyapa kami.


Kenapa? Karena di pintu masuk, aquarium penuh kodok lah yang menyapa kami.


Aku pernah lihat ia cuek ketika kecoa muncul di kamar mandi, tikus? Memang kaget ketika lewat dengan tiba- tiba, namun merasa biasa memungut bangkai tikus untuk di buang- sementara ini?


Ia takut pada kodok yang enak untuk di makan?


“ aku geli lihat kulitnya yang berlendir.” jawabnya.


“ belut juga berlendir.” jawab kekasih tua Ale.


“ ga tau, geli ya geli.” ucapnya dengan wajah konyolnya.


Padahal, begitu kodok- kodok yang sudah tak berbentuk itu di sajikan dengan nasi yang panas..., aku melihat Ale masak dengan lahap.


‘ perutku mengalahkan rasa takutku.’ begitu jawabnya.


🐸🐸🐸


Aku lelah, bahkan masih lelah karena tak bisa tidur semalaman- kemarin. Apa lagi karena aku tak berganti posisi karena ingin tetap memeluk Ale.

__ADS_1


Namun aku melihat jika wajah Ale masih semangat.


Mungkin karena daftar daerah wisata yang wajib di kujungi ketika ke kebun tea- masih banyak. Tak tega juga kalau sampai meredupkan semangatnya.


Aku memutuskan menyewa penginapan alih- alih Villa.


Jika Villa, karena itu bagai rumah pribadi, aku takut jika secara sembunyi- sembunyi kekasih tua Ale pergi kekamar adik tiriku itu, aku tahu jika wanita sedang period itu sedikit tak tentu moodnya. Tentu karena perutnya yang tak nyaman.


Aku tahu, karena saat ibuku period aku lah yang jadi sasaran perubahan moodnya. Tak jarang, ia demam karena sakit pada perutnya.


Aku selalu membuatkan tea Jahe pada ibuku sebagaimana ayah ku dulu membuatkannya.


Membiarkannya istirahat adalah cara yang paling baik.


Namun karena kekasih tua adik tiriku- yang bahkan tak mau aku sebutkan namanya itu- aku terpaksa membawa Ale jalan- jalan.


Aku ingin mengunjungi Ale, setidaknya memeluknya, memberi rasa aman dan nyaman. Namun ini hanyalah penginapan kelas 3 yang tak memiliki akses pintu penghubung.


Aku memutuskan mengambil handphone ku. Aku ingin menghubunginya. Sesungguhnya sedari lama aku telah tahu nomor Ale, yah, sejujurnya ini hasil kerja keras ibuku. Sebelum menikah, ibuku menyemangati aku untuk menghubungi Ale. Namun saat itu aku tidak berani mendekatinya karena saat itu Ale memiliki kekasih. Aku sendiri baru tahu jika Ale berniat ingin putus dari kekasih nya saat ibu menerima lamaran papa tiriku.


Ale?


Adik tiriku itu menghubungi duluan?


Dari mana ia dapat nomorku?


Rasa heran memenuhi hatiku, namun aku lebih memilih menyampingkannya dan mengangkat telephone dari adik tiriku itu.


Tanpa sengaja aku mengatakan jika aku sudah tahu nomor Ale, dan tentu saja ia sangat terkejut karenanya.


Aku terpaksa jujur jika aku sudah memilikinya dari lama.


‘ bahkan sebelum aku- kamu, kita menjadi saudara.’ batinku tak bisa menyuarakan isi hatiku.

__ADS_1


Aku mengalihkan dengan bertanya pertanyaan lain. Dan sepersekian detik aku hampir tak bernafas.


Ale?


Ia


Memintaku


Kekamarnya.


Aku kembali mengalihakan- menggodanya. Bertanya;


‘ apakah ia merindukanku.’


Ia tak menjawabnya dan memilih mengalihkan perkataanku. Yang mengatakan jika ia mengira aku akan datang kekamarnya dengan pintu penghubung yang sering ia baca di novel online kesayangannya.


‘ aku juga ingin begitu, Ale. Sayangnya, ini hanya penginapan kelas tiga yang sederhana.’


Akhirnya, aku beralasan jika aku tak melakukannya, karena Ale sedang bloody moon.


Dan aku juga ingat soal kekasih tuanya. Aku jujur soal mengatakan ingin memesan kamar terpisah karena tak ingin kekasih tuanya memaksanya.


Ia terkejut karena aku tahu jika kekasih tuanya memakasanya.


‘ yah.., tentu saja. Aku bahkan ingin mendobrak pintunya tadi. Pikiran cerdas mengambil kunci slop milik Ale.’


Aku cukup terkejut ketika ia mengatakan jika ia mengatai aku orang kaya. Yah, ini salahku juga sedikit sombong soal menghamburkan uang. tapi ia sama sekali tak bergenit ria bahkan merayuku.


Aku memilih berterima kasih, membuatnya berpikir jika aku berpura- pura kaya.


Sungguh, aku yakin, ia kesepian. Itu sebabnya, ia memilih menelphone.


Biasanya, di saat period, wanita ingin di perhatikan, ingin di sayang. Namun yang kekasih tua nya lakukan malah memaksanya.

__ADS_1


Seandainya bisa, aku ingin menghentikan waktu. Kami terhalang dinding tembok, namun hati kami terasa dekat.


__ADS_2