
“ baiklah, ini kunci kamar mommy dan papa. Aku sengaja memesan VIP untuk kalian. Sementara Aldista di sebelah kamarku dan Damien.” ungkap Arnold yang benar- benar membayar kamar untuk satu keluarga kita.
“ kau tak membayarkan kamarku, kak?” tanya Nicholas yang seolah terlihat iri.
“ bukankah kau sudah membayar kamar hotelmu? Dan lagi pula kau sudah bekerja, berbanggalah karena kau membayar kamar hotelmu sendiri.” ungkap Arnold menekan tombol Lift ke lantai dimana kamarnya berada.
“ papa, kau bisa bermain catur?” tanya Arnold.
“ bisa, kenapa?” tanya papa.
“ bagaimana jika kita bermain catur, kebetulan aku membawa papan catur?” tanya Arnold.
‘ ia takkan kekamar ku?’ batinku kecewa.
*🌜*
Baiklah, karena pria itu takkan ke kamarku kurasa aku akan langsung bergegas tidur lebih awal. Lebih awal?
Jika biasanya- ini di rumahku sendiri- mungkin aku baru akan tertidur saat subuh. Apa yang ku lakukan?
Tentu saja menghabiskan kuota malam. Akan sangat sayang sekali jika itu tak di gunakan, itu sebabnya aku sering kali mengurangi waktu tidurku hanya untuk bisa menikmati kuota malam tersebut. Entah mendownload video, lagu, dan mengupload karya. Selain suka menggambar, aku juga suka mengarang, kebanyakan berasal dari mimpi yang aku tuang dalam bentuk cerita, sebagian dari kisah ku pribadi dengan nama dan tempat yang ku samarkan.
Tadinya aku juga ingin memainkan handphone- kebetulan kita sedang menginap di hotel dan pasti ada jaringan internet gratis dari hotel, namun karena sedari tadi hanya ada notice pesan dari Dika karena aku yang tiba- tiba memutuskan ke Ibu kota, kurasa aku akan menyalakan mode pesawat dan bergegas membersihkan diri lalu tidur.
Ah.., ini menjadi menyebalkan sekaligus memalukan.
Setiap aku mau bloody moon atau seminggu setelah bloody moon aku akan sangat bergairah. Bahkan ketika tidur tanpa sengaja tanganku begerak gelisah memuaskan milikku sendiri.
“ kau butuh bantuan?” tanya sebuah suara mengagetkan aku.
“ Arn?” baru mau memekik karena terkejut, mulutku sudah di bekap oleh ciuman dari bibir Arnold.
Aku yang masih setengah sadar, sekaligus berada di puncak gairah secara naluri hanya bisa membalas apa yang di lakukan Arnold kepadaku.
“ kenapa kau disini? Bukankah kau bilang kau ingin bermain catur dengan papa?” tanya ku kala bibir Arnold memberi ku kesempatan mengambil udara.
“ memang, aku sempat bermain catur dengan papa mu, sayangnya ia kalah terus, akhirnya mommy menyuruhku untuk esok hari melanjutkan main caturnya.” ucap Arnold. Pria itu lalu naik ke kasurku dan mulai menyibakkan selimutku.
“ kau tidak sabar menungguku, hem? Kau bahkan sampai meraba milikmu sendiri.” ucap Arnold menunjukkan smirk smile nya dan tangannya mulai menyingkirkan tanganku yang meraba milikku sendiri lalu tangan pria itu mulai meraba milikku.
__ADS_1
“ a.., aku tidak sadar melakukannya, aku tadi tertidur- tahu?” ucapku malu.
“ begitu?” ucap Arnold- sekali lagi menunjukkan Smirk smile nya.
“ bagaimana jika aku membantumu, hem?” tanya Arnold.
Bahkan aku belum menjawab pertanyaanya dan dia sudah mulai menciumku. Sejujurnya aku tahu, apa yang tertunda kemarin juga membuatnya frustasi.
Ah..., apa yang ia lakukan selalu membuatku merasa nikmat.
Ia selalu melakukan seolah tanpa paksaan di dalamnya- memanjakan setiap kulitku tanpa membuatku menderita. Permainannya yang lembut dan tak menuntut- seolah mengatakan jika aku ini istimewa dan tak mau melukai ku.
Setiap kali kulitnya menyentuh kulitku, aku bukan lagi merasakan nikmat. Entah mengapa, hanya ada perasaan hangat yang kini memenuhi hatiku- membuatku ingin menyebutkan namanya dalam pelepasanku, membuatku ingin menyebutkan semua perasaanku.
Namun aku tak bisa melakukannya. Bukan tak bisa- namun aku tahu jika aku tak boleh melakukannya. Aku tahu.., perasaan terlarang ini tak boleh ada di hatiku.
“ Ale?” heran Arnold kala aku mendorong tubuhnya.
“ kau belum tahu bagaimana permainan ku kan?” ucapku, kali ini aku mulai memanjakan setiap kulit Arnold, melakukan apa yang pria itu lakukan
kepadaku. Aku tak ingin di manjakannya dan membuatku terlena, yang kuinginkan adalah menjaga agar pikiranku tetap waras agar aku tak membocorkan perasaan terlarangku ini.
*
“ kenapa kau masih di kamarku?” tanya ku saat melihat Arnold masih berbaring di kasur ku.
“ apa kau mengusirku?” tanya Arnold.
“ tidak..” jawabku duduk di kursi dekat dengan kasur tersebut.
“ atau aku hanya boleh di sini saat kau sedang ingin saja? habis manis- sepah di buang?” tanya Arnold.
“ tentu saja tidak, aku hanya bertanya. Aku pikir kau akan langsung keluar.” ucapku menyangkal.
“ hei! Aku ini bukan calon mantan kekasihmu yang hanya berada di sisi mu saat sedang ingin saja, setelah sekali mendapatkannya akan langsung buru- buru mengajakmu keluar atau mungkin selalu memberi alasan kepadamu kenapa hanya bisa mengeluarkannya sekali.” ucap Arnold terkekeh. Aku hanya terdiam.
Arnold yang melihat aku hanya terdiam lalu mengulurkan tangannya- seperti orang yang hendak memeluk seseorang.
“ kemarilah.” ucap Arnold lembut.
__ADS_1
Aku tak ingin terlena, tak ingin. Namun segala perlakuan lembutnya selalu membuatku lupa. Tanpa sadar aku mendekat, menempelkan kepalaku ke posisi favoritku. Dada nya! Aku suka mendengar detak jantungnya. Membawa kehangatan. Aku juga suka menciumi bau tubuhnya- membuatku merasa tenang.
“ apa ini ada hubungannya dengan pria itu?” tanya Arnold lembut.
“ apa?” heranku mengangkat wajahku.
“ kau terlihat banyak pikiran. Apa ini ada hubungannya dengan kekasihmu? Dika? Apa ia menerormu?” tanya Arnold. Aku hanya bisa tersenyum. Pria ini selalu saja hangat dan memikirkanku.
“ tidak.” ucapku kembali mempererat pelukanku. Arnold sendiri memilih menggunakan lengannya untuk memeluk pundakku.
“ aku pikir semua keluarga tiri itu menakutkan, jahat, juga semena- mena. Namun, Berhadapan dengamu dan mommy Berta meruntuhkan segalanya.” ucapku mengalihkan.
“ bukankah awalnya aku ini memaksamu? Aku sendiri cukup terkejut karena kau seolah menginginkannya.” ucap Arnold terkekeh.
“ hei! Realistis saja. Aku ini wanita dewasa yang membutuhkan kebutuhan orang dewasa. Apa lagi aku tak pernah merasakan nikmatnya bermain cinta.” ucapku tak mau kalah.
“ ya. Ya. Ya. Jangan salahkan aku! Salahkan pria mu yang tak pandai memuaskanmu!” ejek Arnold.
“ maksudmu; calon mantan pria ku, hem?” tanya ku sedikit membalas perkataan kakak tiriku tersebut.
“ whatever. Memang, kapan kau berencana mau mengakhiri hubungan dengannya?” tanya Arnold. Aku terdiam dan merubah posisiku hingga berbaring di dada nya.
“ entahlah, aku sudah mengatakn putus. Namun ia selalu tak terima. Aku pernah mengatakan saat menyiapkan hadiah ulang tahun papa ada percecokan dengannya kan? Aku juga memilih putus- maksudku mengakhiri hubunganku dengannya, namun 4 bulan kemudian ia malah marah karena aku berkencan dengan pria lain.” ucapku malas.
“ satu- satunya cara, ya seperti ini, tanpa mengatakan apapun kita pergi meninggalkannya, ia takkan mungkin menyusul karena aku tak pernah mengatakan apapun soal alamatku di Bali.” ucapku.
“ aku yakin, kau juga tak tahu di mana alamatnya.” ucap Arnold terkekeh.
“ kau menyebalkan.” meski harus kuakui jika aku memang tak tahu alamatnya. Aku hanya tahu nama desanya saja.
Malam itu, entah mengapa kegelisahan yang terus memenuhi hatiku kembali terisi oleh kehangatan- membuatku lupa akan kekhawatiran yang sedari tadi kurasakan.
“ beruntung calon mantan kekasihmu itu bukan orang penting, hem? Yang akan menyuruh semua pasukan rahasia untuk mencari dimana keberadaanmu.” goda Arnold.
“ kalau ia orang penting, takkan mungkin hidupnya seperti ini. Yang karena kelakuan pembelinya- sudah ketakutan karena akan di tangkap police. Ia itu pria pengecut bermulut besar. Tipe orang yang tak mau megambil resiko untuk menjadi lebih baik seperti nya itu- bukan tipe orang yang bisa sukses. Selamanya ia akan jalan di tempat.” ucapku panjang lebar.
Karena memang begitulah Dika. Ia hanya mengatakan bahwa ia tak pernah takut, ia bahkan pernah mengatakan padaku jika ia tak takut pada pembelinya kala itu- mau memanggil poilice atau semacamnya..
namun kenyataannya.., ia malah datang ke rumahku, meminta bantuanku dengan alasan; jika ia di penjara namanya akan tercoreng; itukan jika ia berniat melamar pekerjaan. Sekarang ia berwirausaha! Orang takkan peduli apakah ia pernah di penjara atau tidak. Toh semua pelanggannya pasti belum pasti pernah bertemu dengannya dan belum pasti tahu ia pernah di penjara atau tidak.
__ADS_1
O0o