
Ibuku mengatakan soal masakannya hari ini.
Mungkin karena malu- meski, sebenarnya ia memang ingin memasak tadi. Tapi aku tak mau membunuh diriku sendiri dan keluarga baru ku hanya untuk agar ibuku terlihat baik, jadi aku lah yang memasak seharian ini.
Dan benar saja, Ale yang jenius ini bertanya kapan ibuku masak. Jika masalah aku saja- bisa ia analisis apa lagi soal sepele seperti ini. Aku membisikkan jika aku yang memasak. Aku mengatakan jika ibuku tak bisa masak. Dan Ale langsung daleam mode berpikir. Mungkin mengingat- ingat, kapan ibuku memasak.
Jawabannya;
Tak pernah!
Selain karena sibuk wisata kuliner, yang memasak selama ini adalah Ale.
Kami berempat memilih langsung duduk di hadapan meja makan. Ayah sambungku cuma melepas celana panjangnya dan langsung menantap masakan yang ia kira masakan ibuku.
Ini hanya masakan modren yang praktis, karena aku tak begitu mengerti masakan khas jawa atau bali. Ale tidak memuji masakanku namun mengataiku seorang Chef. Seorang Chef terkenal yang memiliki nama yang sama dengan namaku.
__ADS_1
Aku bertanya soal rasa masakanku. Dan ibuku bertanya soal siapa itu Chef Arnold. Dan karena itulah membuat ayah sambungku curiga.
Ale mengalihkan karena namaku membuatnya teringat akan seorang Chef yang sering ia tonton. Ayah sambungku memuji Ale karena dekat dengan saudara tirinya.
Terkadang, aku ingin mengomentari perkataan ayah sambungku ini.
apakah ia takut keluarga barunya akan memperlakukan hal yang sama dengan yang keluarga kandungnya lakukan? Kami ini masih memiliki hati nurani. Untuk apa menjunjung harga diri yang tinggi jika kita memandang rendah keluarga sendiri.
Aku memilih mengalihkan, sambil sesekali menggoda Ale dan memeluk pundaknya. Raut wajah yang sedari tadi suram seolah sirna. Apa ia merasa sudah seperti menjadi bagian dari keluarga?
Aku, Damien, ayah sambungku, ibu kandungku dan Ale langsung mengendarai mobil menuju ibu kota. Kali ini, Aku dan Damien bergantian menyetir mobil. Beruntung kami sudah membawa makanan jajanan untuk sekedar mengganjal perut karena perjalanan kami memang memakan waktu lama, terkadang, sekedar membeli makanan dari penjual.
Ya, sebenarnya, kami tahu hal itu di larang, namun setidaknya mereka masih mau berusaha dari pada mengemis dan menurut kami makanan yang di jual termasuk enak.
Terkadang, jika kasihan, Ale akan memberi beberapa peminta dari uang yang sengaja ia tukar dengan recehan.
__ADS_1
Aku hanya diam- melihat sambil tersenyum. Di saat orang lain mengomentari Ale karena memberi kepada peminta- yang mereka yakini uangnya lebih banyak dari mereka, Ale tak mempedulikannya dan tetap memberi kepada peminta.
Bahkan aku pernah mendapati Ale yang tidak nafsu makan dan terus menatap ke satu arah ketika makan di sebuah warung. Aku melihat kemana arah Ale terus menatap. Ale sedang menatap seorang pengemis yang melihat orang- orang yang sedang makan.
Ale diam- diam melirik ke arah dompetnya- di rasa uang dari hasil jualan perabot rumah dan COD masih ada, Ale bergegas memesan satu porsi nasi, lauk dan beberapa gorengan lalu minuman.
Lagi, dan lagi aku di buat terpesona akan Ale.
Aku masih ingat bagaimana wajah bahagia Ale ketika pengemis itu mendoakan adik tiriku tersebut. Bagaimana bisa hal sederhana tersebut bisa membahagiakan Ale?
Di saat semua orang berlomba mencari harta- mendekati orang- orang dari kalangan atas untuk tahta- satu- satunya orang yang tak mempedulikan itu semua adalah Ale.
Wanita itu bahagia jika orang lain bahagia.
‘ kita mencari uang untuk memenuhi kebahagiaan kita, dan jika semua kebutuhan kita sudah terpenuhi, ada baiknya jika membaginya agar lebih besarlah kebahagiaan kita.’ hanya itulah jawaban yang di berikan Ale.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum. Keinginan untuk membahagiakan Ale dan melindunginya dari keluarga besarnya semakin besar. Aku bergegas melajukan mobilku menuju ibu kota.