
siangnya, semua bahan bangunanku datang bertepatan dengan motor yang kupesan.
Wajah terkejut dan tak percaya- aku lihat dari wajah Ale. Aku memang tak pernah mengatakan pekerjaanku.
Kurasa ia penasaran pekerjaanku, namun ia tak kunjung bertanya.
Kenapa? Heranku.
Bahkan saat ia membuka mulut, bukan pertanyaan yang keluar namun karena memintaku untuk memerintahkan tukang agar merenovasi langsung kamar yang akan kutempati.
Hehe. Ia memang berbakat. Antara kagum dan gemas. Ia masih dalam wajah bangun tidurnya karena sempat pusing.
Tanpa sadar aku menguyel pipi tembemnya. Dan dia protes.
Tak heran sie, umurnya sudah kepala tiga dan aku menguyelnya bak anak kecil.
Dan dia membicarakan soal anugrah dan bencana memiliki wajah baby face.
Lupakan soal anugrah, semua orang ingin awet muda bahkan sampai rela mengeluarkan ratusan juta hanya untuk perawatan kecantikan. Dan dia hanya menggunakan perawatan alami sudah bisa memilikinya.
Alami? Ya, papa tiriku senang berkebun dan memiliki banyak tanaman toga. Ia bisa langsung mengambilnya dari kebun.
Dan bencana?
Ia di katakan tak mampu?
Ia hebat! Berbakat! Imajinatif! Apa ada darinya yang tak mampu? Soal kekurangannya?
Masyarakat sialan!
Judge sialan!
Aku berusaha mengiburnya. Namun aku lupa jika aku lemah dalam hal itu.
Saat terpuruk, aku bahkan yang di hibur. Aku kembali pada anugrah.
Aku menertawakan umurnya yang telah menginjak umur 30 tahun namun di kira belum memiliki kartu tanda pengenal. Berapa standar umur di indonesia untuk pantas mendapatkan ktp?
Tunggu? 17 tahun? Ia di kira masih 17 tahun? Aku menertawakannya.
Dan itu berhasil mengalihkannya.
Saat mencoba memilah barang Ale sedikit curiga padaku yang seolah paham dalam bangun membangun rumah. Yah, tak heran, aku memiliki usaha dan bekerja sama dengan designer di bidang interior, dan aku tidak memiliki satu atau dua taman bermain saja, jadi aku memang terbiasa dalam bangun membangun. Dan, karena selalu berurusan dalam hal ini aku sedikit paham dan menyerap ilmunya.
***
Butuh tiga hari agar pekerjaannya benar- benar selesai.
__ADS_1
Dan jika kalian bertanya, selama 3 hari aku tinggal dimana;
Apakah di hotel?
Kamar Ale?
Jawabannya tidak, meski ingin. Karena rumah di Indonesia pastinya tidak kedap suarakan?
Dan juga..
Karena rumah Ale masih memiliki kamar tamu. Dan aku memutuskan garap paling akhir. Jadi di saat kamar yang ingin kutempati sudah rampung di garap, aku baru merenovasi kamar paling depan.
Da saat semua sudah selesai di garap, aku melihat wajah tak percaya Ale. Matanya yang sudah lebar semakin melebar saat melihat hasil akhir renovasi.
Rumah ini aku renovasi berdasarkan design dari Ale. Sejujurnya, jika hasilnya luar biasa, itu karena designnya juga istimewa.
Aku sudah bilang ia berbakat.
Dan aku membuktikannya.
Tidak sia- sia mengeluarkan banyak uang untuk sebuah rumah yang akan jadi kost- kost an. Aku bahkan membangun ruang rahasia yang hanya di ketahui- tukang yang membangun, aku dan Ale.- sebagai yang mendesign rumah ini. Kecuali jika ada yang terlalu keppo.
Sejujurnya aku bisa saja langsung mendesign lantai dua, tapi kota ini menomor satukan kesopanan dan kurasa akan kurang sopan jika aku langsung mencongkel kamar lantai dua hanya untuk membangunnya.
Kurasa aku akan menunggu mommy ke solo.
Aku melihat barang- barang, semua yang bisa di jual, seharusnya sudah di jual semua.
Ternyata ini adalah usahanya. Aku tersenyum. Meski ia kekurangan sehingga tak ada yang mau menerimanya, ia masih ada keinginan untuk berusaha.
Saat aku bertanya soal; apakah pria yang menjadi ayah angkatku itu memberi uang saku,
Aku yakin jawabannya memang adalah tidak, ia hanya menjawab jika sebagai anak seharusnya ialah yang memberi uang kepada ayahnya. ia hanya sedang melindung ayah kandungnya agar orang tidak berpikir macam- macam.
Aku menatapnya, di saat orang terkadang acuh padanya, membeda- bedakan kasih sayang antara anak laki- laki dengan perempuan, mengapa ia tak bisa bertindak sebaliknya pada mereka?
Bahkan membela mereka.
Rasa kesal yang sempat ada menguap bagai buih. Dan mungkin memang benar soal dia yang wanita dewasa dengan kebutuhan orang dewasa.
Aku memintanya tak lagi bekerja.
“Kenapa?” tanyanya.
Jika kebanyakan orang akan senang mendapat uang, tanpa harus bekerja, ia malah bertanya kenapa?
Aku menjawab jika aku bekerja. Dan sebagai seorang pria akulah yang seharusnya bekerja bukan para wanita.
__ADS_1
Dalam kata- kataku sesungguhnya aku sedikit menyindir cara didik papa tiriku.
Ia tak pernah bertanya dimana aku bekerja, mungkin ia tak peduli.
Dan dia hanya memintaku mentraktir makan malam.
Aku meng- iyakan.
Selama ini, ialah yang memasak makanan kami, aku cukup terkejut, selain mandiri, hebat, Berbakat, dan Imajinatif- ternyata ia pandai memasak. Dari masakan bali yang pernah aku cicipi, masakan khas jawa. Bahkan chinese juga bisa.
Nyam, kalau ada Damien disini, ia past akan dengan senang hati menghabiskan makanan Ale.
Aku terkadang heran pada saudara jauhku itu, aku pikir pekerjaan di international police pasti cukup mengocok perut karena penuh pertumpahan darah, kekerasan dan bau akan obat. Dan dia masih hobby makan?
Lupakan! Ale sudah memintaku mengantarnya dan untuk kali pertama akhirnya aku bisa melajukan motor baruku di jalanan.
Aku melingkarkan tangan Ale agar ia memelukku, dan kurasa itu adalah kesalahanku.
Ada yang menghadang motorku saat lampu merah!
“ Dika! Nath!” pekik Ale, ia pasti tekejut. Begitupun aku, lebih terkejut lagi karena perkataan pria yang tampak terlihat lebih tua dari aku juga Ale.
Selingkuh?
Dari kata- katanya saja aku yakin jika dia adalah kekasih tua Ale. Dan pria muda yang di bawanya ini? Adik?
Saudara jauh?
Kalau adik, pria muda itu tak memiliki kemiripan dengan kekasih Ale, jadi aku beramsumsi pada pilihan kedua.
Ia dengan santai mengenalkanku, yah, mungkin karena ia yakin jika yang di tuduhkan adalah salah.
Aku mulai kesal melihat kelakuan kekasih tua Ale.
Sekarang aku tahu kenapa Ale mulai jengah pada pria tua itu.
Aku melihat ke sekeliling, kondisi cukup ramai, tak mungkin juga aku mengatasi pria tua itu di tempat yang bisa terlihat orang. Terlalu menarik perhatian.
Aku memutuskan bersandiwara sebagai saudara tiri yang menyebalkan. Dan kurasa itu berhasil. Ia benar- benar percaya. Bahkan aku bisa melihat Ale yang geram karenanya.
Dan setelah pria itu memutuskan pergi, aku dapat melihat jika Ale benar- benar marah padaku.
Aku menjelaskan penyebabnya, dan ia langsung mengalihkanku dengan menagih jnjiku yang mengatakan agar mentraktirnya makan.
Aku tersenyum. Kurasa ia bukan type yang bisa berlarut- larut dalam amarah. Tak heran jika ia bisa memaafkan perlakuan yang di berikan ayahnya.
Aku mengingatkannya, jika kali ini, aku akan menggunakan mobil untuk mengajaknya makan malam, atau kita, aku da dia akan bertemu calon mantan kekasih tuanya lagi. Dia terkekeh mendengarnya. Dan meng iyakan kata- kataku.
__ADS_1