
Dan sesuai perhitungan Arnold, butuh waktu 3 hari agar semua pengerjaan selesai di lakukan. Aku hanya bisa melihat rumahku yang telah bermetamarfosis- dengan tidak percaya.
Bagaimana tidak percaya? rumah dengan kamar yang awalnya hanya 5 kamar di lantai satu pada awalnya berubah menjadi 6 kamar dan lengkap berbagai perlengkapan. Setiap kamar yang akan di sewakan memiliki sat tempat tidur single bed, lemari kecil juga meja kecil di samping tepat tidur; seperti nakas. Kamar yang awalnya hanya sedikit memiliki akses pertukaran udara memiliki jendela yang lengkap dengan pertukaan udara.
Ruang makan yang awalnya masih memiliki dinding yang terbuka akibat pengerjaan yang belum rampung- kini telah tertutup dan tampak elegan dengan batu blok sebagai ornamen dinding nya, dari kamar makan menuju ke kolam ikan.
Kolam ikan yang awalnya hanya ruang terbuka kini di tambah atap transparan dan lantai yang tadinya masih berbentuk batu menjadi lantai beralaskan keramik yang di tujukan untuk tempat mencuci- lengkap dengan mesin cuci baru dan wastafel untuk mencuci piring.
Dapur yang dindingnya tanpa pertukaran udara kini sudah menjadi dapur yang mewah yang memiliki akses pertukaran udara juga alat untuk menangkap asap.
Dinding yang awalnya pecah- pecah kini menjadi dinding keramik berlapis stainless steel yang bertujuan untuk melindungi dinding dari minyak dan asap panas.
Meja batu untuk meracik bumbu dan lemari bumbu serta lemari es beberapa peralatan memasak seperti penanak nasi juga oven.
“ pa.., padahal aku hanya asal mendesign dan kau benar- benar membentuk rumah ini sesuai design yang aku buat?” ucapku tak percaya.
“ bukankah ini sebuah pembuktian jika kau berbakat?” ucap Arnold terkekeh.
aku menatap ke arah tangga yang dulunya di pakai untuk gudang- kini juga terasa berbeda, yang awalnya hanya beralaskan semen yang belum jadi sekarang beralaskan seperti kayu olahan dan tertutup membentuk lemari.
“ apa jangan- jangan isi dari lemari itu adalah..” ucapku menduga.
“ aku hanya menggarap sesuai design mu.” ucap Arnold bangga.
Ternyata benar- benar seperti design ku. Sebuah kamar untuk berendam disertai bathup. Aku beralih ke kamar mandi dan toilet, yang awalnya sama beralaskan sement yang belum jadi, sekarang beralaskan keramik dan di ruang- antara kamar mandi dan toilet di beri ruang semacam seperti wastafel untuk mencuci muka lengkap dengan cermin dan rak cucian kotor. Yang awalnya menggunakan pintu kain sekarang menjadi pintu geser, yang awalnya kamar mandi berada di satu garis lurus dengan toilet terpisah- kini di bentuk latter L dengan kamar mandi dan toilet yang tetap terpisah. Aku memang mendesign seperti ini karena kebanyakan orang pasti tak ingin di ganggu waktu- waktu mandi dengan alasan ingin menggunakan toilet.
Aku beralih menuju tangga yang telah di beri pegangan di satu sisi nya. Ruang menjemur lengkap dengan toilet dan kamar mandi tambahan untuk para penghuni kost agar tak berebut waktu mandi.
“ tinggal mendesign kamar lantai dua, namun akan sangat tak sopan jika aku langsung membukanya, jadi aku menunggu ayah dan mama ku pulang dari berbulan madu.”
“ kamar papa juga akan di rombak sesuai design ku?” heranku.
__ADS_1
“ ya, agar ayah juga mama ku tak perlu menginap di hotel jika mengunjungi kost- kost an ini.” ucap Arnold.
“ bukankah itu berarti nanti akan merombak ulang atapnya” heranku.
“ tak masalah, aku sudah memikirkan itu jadi aku sudah menambah cor- coran di setiap langit kamar jadi aku tak perlu takut kamar- kamar akan kotor nanti karena harus menambah satu lantai lagi.”
“wow, kau benar- benar berpikir selangkah lebih maju.” ucapku kagum.
“Tentu saja.” ucapnya berbangga diri.
“ oh, iya. Ayo antar aku ke XX.” ucapku pada salah satu tempat di kota solo.
“ kenapa?” heran Arnold.
“ COD.” ucapku.
“ bukankah sema barang yang bisa di jual sudah kita jual semua?” heran Arnold.
“ ini bukan barang kita, tapi daganganku.” ucapku.
“ oh ayolah! Kita makan setiap hari, sementara uang itu akan berkurang saat kita gunakan setiap harinya. Apa salahnya terus mencari uang? Lagi pula ini halal. Dan yang terpenting aku tak meminta siapapun untuk berjualan seperti ini.” ucapku.
“ kenapa kau tidak melamar di perusahaan saja? Tidak mungkin hanya karena wajah awet muda mu- kau tak diterima di perusahaan kan?” heran Anold.
“ selain itu aku memiliki kekurangan.” ucapku. Saat mendengar hal itu- seketika Arnold langsung menatap ke arah kaki ku yang yang tidak sempurna sebelah.
“ aku memang memiliki bakat, namun kekuranganku lah yang membuat orang memandangku sebelah mata. Satu- satunya yang bisa menerima keadaanku ya dengan cara berjualan seperti ini.” ungkapku.
“ apa ayahmu tak memberimu uang lagi?” heran Arnold.
“ uang? Come on! Umurku sudah 30 tahun dan seharusnya akulah yang memberi ayahku uang. Itu sebabnya aku tak pernah meminta lagi kepada ayahku.” ungkapku. Tampak Arnold yang menatapku, tatapan yang berbeda dari biasanya. Mungkin kekaguman? Atau mungkin karena aku ini bodoh? Di saat anak lain memilih bergantung pada orang tuanya aku menolak hal itu
__ADS_1
“ kau tak perlu bekerja seperti ini lagi.” ucap Arnold tiba- tiba.
“ kenapa?” heranku.
“aku ini bekerja, dan uangku masih cukup untuk membiayai kita sekeluarga.” ucapnya.
“ ooouh? Jika kau bisa menyombongkan diri seperti itu setidaknya seharusnya kau mentraktir ku.” goda ku.
“ oke, makan malam aku akan mentraktimu.” ucapnya mantap- karena memang selama ini, aku lah yang selalu memasak untuk makan kita berdua. Awalnya tentu ia begitu terkejut karena mengira aku tipe anak manja yang tak bisa melakukan apapun. Siapa yang menyangka jika ia malah menyukai masakanku. Ia bahkan mengakui aku ini termasuk wanita mandiri. Tak heran, aku tak pernah meminta bantuan pria itu ketika membeli gas atau bahkan mengangkat galon- karena aku malas menunggu ia terbangun hanya untuk melakukan apa yang aku minta pada nya.
“ baiklah, pertama- tama, antarkan aku ke daerah XX, orang nya sudah sampai dari tadi.” ucapku.
“ naik mobil?” tawarnya.
“ lalu apa gunanya kau membeli motor? Lagi pula ribet jika harus naik mobil hanya untuk mengantar barang sederhana.” ucapku.
“ setelahnya kan kita akan kencan.” godanya.
“ traktiran makan malam atau kencan?”
“ sama saja, pergi berdua ke suatu tempat itu sama saja dengan berkencan.” ucapnya.
“ kita ini keluarga.” ucapku.
“ ayolah, berkencan bukan hanya untuk pasanganmu. Kau bisa menyebut itu kencan juga jika kau pergi bersama papa mu. Aku juga sering melakukan itu dengan mama ku.”
“ oke, bersiap- siaplah, aku sudah bersiap sedari tadi. Jadi tinggal menunggumu.” ucapku.
“ oke, aku akan memakai celana dan sepatu, sebisa mungkin kau juga pake high hills.” ucapnya menuju kamarnya.
“ apa?”
__ADS_1
“ aku akan mentraktirmu di restoran, masa kau akan memakai sandal jepit.”
“ ooo, siap captain.” ucapku hendak mengambil highill sederhana ku