
Aku menatap hamparan luas kebun teh. Aku jadi ingat pada papa. Ia mengatakan ingin membuat kebun teh di Bali. Kurasa itu akan laku dan berhasil, selama ini, aku hanya tahu jika Bali penghasil kopi, namun tidak dengan teh. Entah disana ada kebun teh atau tidak, namun aku tak pernah mendapati minuma tea di sana menggunakan daun teh, jika aku ingin tea saja hanya ada tea celup.
*
Hari itu di lalui dengan senang- senang, berfoto ria, entah itu di kebun tea, air tejun yang ada di sekitar kebun tea dan hal yang baru aku lakukan di sana adalah menikmati paralayang. Ini kali pertama aku merasakan udara dingin di kebun tea dari langit, sangat mengasikkan. Meski sempat ada keributan karena Dika tak suka pendamping paralayang ku adalah seorang pria. Tampak wajah Arnold yang tak suka juga namun ia tutupi karena tak ingin membuat Dika curiga, akhirnya aku bisa melayang di udara setelah pendamping paralayang itu di ganti dengan seorang wanita. Untuk taman wisata, aku tak memasukinya, aku tak suka keramaian.
Tapi aku tetap mengunjungi sebuah candi yang ada disana. Untuk makannya, kami memutuskan menyantap makanan berbahan kodok.
Kodok?
Awalnya cukup geli juga mendengar nama masakannya dan bahannya. Namun untuk rasa masakannya tak dapat mengalahkan rasa jijikku terhadap binatang ampibi itu. Memang, perutku selalu mengalahkan rasa takutku.
“ kita menyewa masing- masing kamar?” ucap Dika tak percaya.
“ ya, sebenarnya aku ingin menyewa villa, namun karena ini sedang musim liburan sehingga semua villa penuh, aku terpaksa menyewa hotel.” ungkap Arnold memberikan kunci kamar kepadda kami.
“kenapa tidak pulang saja? Aku tak membawa baju ganti.” ungkap Dika.
“ aku masih ingin jalan- jalan! Lagi pula belum semua daerah wisata di sini kita kunjungi.” ungkap Arnold.
“ aku tadi sudah membawakan kau baju, kau lupa pernah memintaku mencuci baju- bajumu?” ucapku.
__ADS_1
Untung aku membawa baju gantiku dan baju ganti pria itu. Meski aku tak ingin melakukannya, namun aku juga merasa takkan puas jika melakukan perjalanan ini hanya satu hari saja.
Aku memang tak pernah lagi melakukan jalan- jalan sederhana seperti ini. Mungkin terakhir kali adalah saat bibi ku meninggal. Bibi meninggal karena penyakit yang sama dengan ibu ku. Mungkin ini bisa di sebut penyakit keturunan, bibi ku, nenek ku kemudian ibuku. Satu baris pemakaman meninggal karena penyakit yang sama.
Dan menyebakan keluarga besarku tak lagi pernah melakukan liburan setelah bibiku ini meninggal. Tak heran, bibi ku ini adalah penyatu keluarga, dialah yang sering mengajak semua keluarga untuk kembali berkumpul. Dika sendiri tidak suka berlibur seperti ini. Ia selalu mengatakan jika apa yang di lakukan ini tak lebih dari menghamburkan uang.
*🌜🌜*
Tengah malam, aku tak bisa tidur meski aku mengakui tubuhku lelah karena bermain seharian. Aku iseng mencoba mengambil handphone ku. Sejujurnya, aku tak pernah menyimpan nomor keluargaku karena aku tidak terlalu dekat dengan keluargaku. Toh, selama ini aku selalu berada di satu rumah, buat apa juga menghubungi mereka jika aku berada di satu rumah dengan mereka. Hanya saat mereka berada di luar kota saja aku menyimpan nomor mereka. Aku bahkan tak memiliki nomor adikku karena tak pernah dekat denganya. Bukannya tak pernah, aku pernah dekat dengannya, namun semenjak aku menghapus semua berkas miliknya, aku tak lagi dekat dengannya.
Aku mencoba mencatat nomor milik Arnold yang aku foto diam- diam saat pria itu cek ini ke hotel dan mencatat nomor telephone nya di Handphone ku.
...“ hallo.” ucapku dengan suara di buat- buat....
...‘ Ale? Ada apa?’ jawab Arnold....
‘ lho bukankah aku saja baru mencatat nomornya, bagaimana ia bisa tahu ini nomorku?’ heranku.
...“ kau tahu ini nomorku?” ucapku cukup terkejut....
...‘ ya. Aku sudah memiliki nya semenjak lama.’ ungkap Arnold. Entah mengapa aku jadi penasaran dengan nama apa ia memberiku nama di contact nya....
__ADS_1
...‘ ngomong- ngomong, ada apa?’ herannya....
...“ kau tidak kekamarku?” heranku....
...‘ kau merindukanku?’ godanya....
...“ aku pikir kau akan diam- diam ke kamarku dengan pintu penghubung seperti yang aku baca di novel- novel.” ucapku menyentuh dinding kamarku....
...‘ tidak! Aku masih ingat jika kau sedang bloody moon. Dan aku sengaja memesan kamar terpisah agar kekasihmu tak memaksamu.’ ungkap Arnold....
...“ kau tahu ia memaksaku?”...
...‘ ya, kau terlihat tak nyaman saat itu, hingga aku memutuskan menghamburkan uangku dan memesan 3 kamar hotel ini.’ kekehnya....
Aku hanya tersenyum. Di saat kekasihku sendiri hanya bisa memaksa ku, Arnold bahkan memikirkan ku dan memberi ruang untukku. Entah mengapa- perasaan hangat mengalir di dadaku. Perasaan hangat yang membuatku ingin terus di sampingnya. Namun aku tahu, perasaan ini tak boleh ada karena ikatan hubungan kami.
...“ the rich man.” godaku. Berusaha mengenyahkan perasaan yang baru saja kusadari ini....
...“ thank you.” bukannya merasa kesal, ia malah membalasku....
Akhirnya, aku menghabiskan malam dengan saling ber telephone ria.
__ADS_1