
Aku menatap ke arah dua motor pria yang sudah siap di gunakan itu.
“ kau sudah siap?” tanya Damien.
“ semenjak kapan kalian membeli motor itu?” tanyaku.
“ semenjak tadi.” jawab Arnold santai. Aku terdiam, tak dapat lagi dapat berkata- kata. Aku memang tahu jika Damien merupakan police international khusus dan Brian sendiri merupakan Dolter, tapi apakah bayaran mereka setinggi itu? Apa lagi Brian baru saja lulus dan belum memeriksa orang semenjak datang ke Indonesia.
“ aku berharap Dika takkan memergoki kita lagi.” bisikku.
“ maksudmu membuat malu kita?” jawab Arnold sekenanya lalu memakai Helm nya.
“ apapun itu.” jawabku sekenanya lalu naik ke motor Arnold.
🌞🌞🌞 Hari yang di tunggu pun tiba 🌞🌞🌞
“ kainnya dah jadi, Ta?” tanya Papa.
“ sudah. Nanti aku pakai di sana, karena aku akan dandan di sana.” jawabku.
“ baiklah, kita siap- siap dulu, bro, kamu ikut kita naik mobil atau naik kendaraan sendiri saja?” tanya Arnold.
“ aku motor saja, lebih bebas.” ucap Nicholas.
Aku hanya terdiam, aku yakin ia sudah janjian dngan keluarga besar yang lain untuk pergi entah kemana, sedari dulu aku memang tidak dekat dengan keluarga besar.
“ kau kenapa?” tanya Arnold.
__ADS_1
“ tidak. Aku hanya berpikir jika adikku pasti mau pergi bersama keluarga besar setelah pesta selesai.” jawabku.
“ kau tak di ajak?” heran Arnold.
“ aku tidak dekat dengan keluarga besar.” ucapku lirih.
“ kenapa?” heran Damien.
“ mungkin aku nya yang aneh.” jawabku sekenanya.
“ kau ini memang aneh.” jawab Arnold terkekeh.
Karena kesal, aku menendang tulang kering Arnold.
“ AW!” pekik Arnold.
Aku mematut wajahku di kaca, berdandan seadanya karena aku memang di pesan untuk berdandan bersama di sana. Sejujurnya, aku sedikit tidak nyaman ketika di minta berdandan bersama. Aku tak pernah percaya pada MUA karena hanya akan membuat wajah baby face ku terlihat aneh. Tak jarang wajahku jadi terlihat menor karena dandanan yang tebal bagai tembok dan malah membuat wajahku terlihat tua.
Aku keluar menggunakan celana panjang dengan sandal jepit, tak lupa highill dan kain yang telah jadi aku buat menjadi kebaya sudah aku tenteng dalam tas kertas.
“ kau yakin mau ke pesta pernikahan dengan baju dan dandanan seperti itu?” tanya Damien.
“ nanti kan juga di dandani di sana.” jawabku sekenanya.
“ kau yakin nanti hasilnya bagus? Kau tak pernah melihat hasil MUA yang di pakai saudara jauhmu kan?” tanya Arnold.
“ aku telanjur mengiyakan untuk bersama- sama dandan di sana. Lagi pula aku sudah di beri seragam, pasti dandanan nya nanti juga akan di buat sama.” jawabku sekenanya.
__ADS_1
“ Brian! Bawa kotak make up mommy Berta saja. “ pinta Arnold.
“ buat apa” heranku.
“ dandan!” jawab Arnold sekenanya.
“ kau mau dandan?” heranku.
“ tidak boleh? Bukankah para artis pria kebanyakan juga berdandan?” jawab Arnold sekenanya.
“ kau takut kami nanti akan semakin tampan?” goda Damien.
“ tak perlu dandan bukankah kalian juga tampan?” heranku.
“ aku anggap itu pujian nonna.” ucap Arnold dengan smirk smile nya. Setelah Brian kembali dengan sekotak besar make up- kami menuju mobil yang di parkirkan Arnold di gank depan dan di parkir di bangunan yang terpisah dengan rumah utama yang kami tempati.
???
“ perasaanku saja, atau mobil ini memang berbeda dari yang biasa kita naiki?” heranku.
“ memang.” jawab Arnold santai.
“ jangan bilang kalian baru saja membelinya.” tanyaku.
Arnold tak menjawabnya, hanya menunjukkan smirk smile nya dan mengangkat sebelah alisnya.
‘ apa semua uang ini warisan? Dari mendiang ayah kandung Arnold? Aku bahkan jarang sekali melihat kakak tiriku itu bekerja.
__ADS_1
...Penasaran? 😉...