Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Sama


__ADS_3

Waktu berlalu dari ayah kandungku tiada hingga ibuku yang memiliki kekasih untuk mengobati lukanya yang sepi.


Dan..


Satu- satunya hal yang tak kusangka adalah;


Aldista adalah putri dari kekasih ibuku.


Aku menyadari jika ia ayah dari Aldista karena aku melihatnya saat pertama kali bertemu Aldista.


Kata tidak memang berasal dariku, namun ibuku lah yang enggan menikah karena memikirkan aku. Karena, ibuku sadar, jika kekasihnya adalah ayah dari wanita yang kucari.


Aku melihat jika ibu sungguh- sungguh meyukai ayah Aldista. Mungkin karena mereka sama- sama single parent. 2 tahun setelahnya, aku memutuskan meyakinkan ibuku untuk menikah dengan ayah Aldista.


Apa lagi saat aku mengetahui jika Aldista sudah memiliki kekasih. Aku memutuskan mendoakannya bahagia bersama kekasihnya.


Satu yang kusadari adalah;


Meski ia memandang ke depan aku tahu jika ekor matanya menatapku.


Ia menatapku?


Aku memilih berbasa basi, menanyakan apakah dia menyukai ku. Dengan tersenyum ia mengatakan jika ia menyukaiku. Jawaban wanita itu membuatku hampir meledak dalam debaran yang dahsyat. Aku berusaha menutupi wajah yang aku yakin akan memerah seperti udang rebus ini dengan senyumku.


Dan sial!


Aku terlalu senang hingga bahkan aku bisa mendengar hembusan nafasku sendiri.


Aku kembali berbasa- basi. Menanyakan- mengapa bukan dirinya yang menikah dan malah ibu kandungku dan ayahnya. Sebenarnya aku tak yakin hal ini. Tapi pria yang akan menjadi ayah sambungku ini mengatakan jika wanita ini akan berniat putus dari kekasihnya- tepat saat ayah sambungku ini di dandani untuk acara pernikahan khas Bali ini- jadi aku memutuskan bertanya hal itu, untuk memastikan kebenarannya.


“ ya.” dan itulah jawabannya.


Aku kembali berbasa- basi- mengapa dan apa alasannya, ia ingin memutuskan hubungannya, padahal hubungannya, aku yakin sudah berlangsung cukup lama. 10 tahun.


‘ jadi saat aku bertemu dengannya, ia sudah memiliki kekasih?’ batinku.


Ia bercerita. 2 tahun ia menjalin hubungan- kekasih nya ingin melamarnya. Namun kata tidak datang dari ibu kandungnya. Dan aku rasa aku harus berterima kasih pada mendiang ibu kandungnya karena tak mengijinkannya menikah. Aku berencana untuk berterima kasih ke pusaranya- ketika aku ke kota kelahirannya- nanti.


Aku kembali mendengar ceritanya. Alasan mendiang ibunya tak mengijinkan menikah.


Study nya.


Hei? Aku dengar ia bahkan tak menyelesaikan study nya.


Aku mendengar alasannya. Dan aku benar- benar merasa takdir mempermainkan aku.


Aku, dia, kami.


Kami pernah kehilangan usaha kami. Yang berbeda adalah; aku kehilangan usaha ayahku karena di khianati orang terdekat ayahku dan ia kehilangan usaha ibunya karena kebakaran hebat yang membuat ia kehilangan penghasilan selama setengah tahun.


Dan karena kami kehilangan usaha kami, membuat orang tua kami memiliki penyakit karena nya hingga akhirnya kami kehilangan.


Tubuhku bergetar.


Kami,


Aku dan dia..

__ADS_1


Sama.


Aku melihat diriku didalam dirinya. Aku menghiburnya sebagaimana aku berusaha menghibur diriku sendiri.


Dan dia.., dia memujiku.


Ah.., senyumnya.


Senyum tulusnya.


Aku menyukai senyum tulus itu.


Kurasa yang berbeda dari kami adalah;


Aku terpuruk dalam penyesalan- meski seberusaha apapun keluarga besarku menyemangatiku.


Sementara dia?


Dia berusaha maju. Namun keluarga besarnya acuh tak acuh padanya, membuatnya hanya bisa berdiam diri di tempat.


Dan adiknya?


Setelah berani mengatai kakak kandungnya bodoh- ia bahkan cekcok dengan keluarga di Bali, dan dengan alasan ia adalah anak yang paling kecil ia di biarkan bersikap seenaknya?


Ayahnya pasti sedang membuat jiwa pemberontak di dalam pribadi adiknya.


Kembali ke pertanyaan.


Mengapa ia malah memutuskan ingin mengakhiri hubungan dengan kekasihnya.


Ia bosan.


Dan satu- satunya yang membuat aku terkejut adalah...,


Hubungan nya yang lebih dari kata ciuman?


Sial!


Aku kesal!


Aku pikir...


Aku pikir ia berbeda dengan wanita yang pernah kutemui.


Wanita dewasa dengan kebutuhan orang dewasa?


Alasan klasikal dan kuno.


Dan dia mengatakan jika kekasihnya tak pandai memuaskannya.


Aku mulai geli mendengarnya. Ternyata kekasih nya itu tipe senapan mesin. Praktis. Tapi sangat cepat kehabisan peluru dalam menembak.


Dan dia bangga akan kemampuannya.


Orang tua.


Aku pantas mengatakan begitu bukan?

__ADS_1


Jika sekarang Aldista berumur 30 tahun bukankah itu berarti ia lebih tua dari aku hingga 6 tahun?


Dan..


Ternyata wanita yang akan menjadi adik tiriku ini adalah type wanita yang bergairah tinggi.


Meraba miliknya dengan tangannya?


Aku jadi penasaran mengapa ia bisa berkencan dengan kekasih tuanya.


Dan ibu kandungnya sekali lagi adalah alasan mengapa ia tak pernah memiliki kekasih.


Aku kembali kesal.


Bukan pada dirinya


Bukan pada wanita yang telah sah menjadi adik tiriku ini namun..,


keluarga dan peraturan keluarganya yang keras.


Dan kekasihnya yang seharusnya membantunya malah membebaninya.


Tanpa sadar aku mengumpat.


Mengatai kekasih tuanya. Dan sepersekian detik aku menyadari ucapanku.


Maaf. Begitu ucapku sambil tertunduk.


Biar bagaimanapun aku sedang mengumpat kekasihnya, sekarang.


Dia tersenyum. Memaklumiku.


Ia saja jengah pada kekasihnya.


Kata putus pernah terlontar dari mulut kekasihnya.


Ia marah hanya karena masalah kuota internet?


Ia bukan saja pria lemah namun juga pria yang tak punya harga diri.


Kuota internet?


Dan dia malah marah karena Aldista memilih memberi hadiah ulang tahun untuk orang tuanya?


Wow!


Berikan penghargaan pada pria tua terkonyol yang pernah aku temui.


Dia yang salah dan dia malah mengumpat?


Aku rasa ia tak pernah bercermin.


Aldista tertawa.


Namun aku melihat keputusaan dari matanya.


Aku melunak.

__ADS_1


Sekali lagi aku ingin melindunginya.


Ya. Lagi pula aku masih suka senyumnya.


__ADS_2