Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Promise


__ADS_3

Dengan tangan bergetar, aku membuka baju yang selalu menutupi tubuh ayahku. Aku hampir saja terduduk lemas kala melihat; tubuh ayahku yang biasanya tampak gemuk, yang biasanya tampak sehat dengan otot- otot yang selalu ia banggakan- bagai tulang membalut kulit kala ia tiada.


Aku menatap ibuku.


Apakah selama ini ibuku tahu?


Jika selama ini ayahku menderita?


Dan ibu membiarkan aku salah paham kepada ayah kandungku sendiri?


Aku melihat...,


Aku melihat..


Ibuku tersenyum?


Ayah tiada dan ibu tersenyum?


Aku marah.


Benci.


Apakah selama ini ibuku menikahi ayahku bukan karena cinta? Namun karena harta ayahku- ibu menikah dengannya.


Aku telah lama membenci wanita sejak aku merasa kecewa- karena bagiku, semua wanita itu munafik. Dan aku hampir membenci ibuku.


Setelah ayah di kebumikan. Aku memilih berada dirumah ayahku sampai hari dimana ayahku tiada berakhir. Dengan wajah sembab, aku melihat ibuku.


Ibuku yang tertawa dan tersenyum kala orang- orang menjenguk keluarga ku.


Saat itu, keluarga besar akhirnya datang menjenguk keluarga kami. Damien berusaha menghiburku. Dan Christ beserta Gabriela meminta maaf padaku.


Kakak sepupuku, yang aku kenal dingin dan jarang berbicara, menunjukkan empatinya padaku. Mungkin karena rasa bersalahnya.


Damien dan Brian akhirnya menginap, sementara keluarga besar memilih pulang. Karena ketiga anak Gabriela masih kecil dan ditinggal sendiri di rumah bersama dengan grandma mereka.


Seberapa keras Damien dan Brian kala itu menghiburku- semuanya seolah tak berpengaruh bagiku.


Hidupku hampa.


Di saat keluargaku jatuh karena ayah di khianati orang yang di percayanya, aku baru juga di khianati orang yang ku anggap teman.


Di saat aku memaki ayahku, aku baru mendapati jika ayahku juga menderita.


Dan di saat ayahku tiada aku mendapati jika ibuku tidak mencintai ayahku.


Namun ternyata apa yang ku kira salah.


Tengah malam, aku terbangun dari tidur karena merasa tenggorokanku terasa kering.

__ADS_1


Akhirnya aku melompati tubuh Damien- karena pria itu dan adiknya tengah tidur di kamarku- dan aku memilih menuju dapur untuk mengambil minum.


Setelah membasahi tenggorokanku dan membilas wajahku, aku menatap ke kamar dimana ibu dan ayahku biasa tidur. Kamar ibuku yang biasanya selalu dalam keadaan gelap karena selalu di matikan saat tidur- kini menyala dengan terang.


‘ ibu belum tidur?’ begitu pikirku saat itu.


Karena penasaran aku memasuki kamar ibu ku tersebut.


Sekali lagi, aku melihat pemandangan yang membuatku menyesal. Menyesal karena hampir membenci ibu kandungku sendiri.


Aku melihat ibuku yang meringkuk di kasurnya. Aku dapat melihat jika ia tertidur karena kelelahan menangis.


Menangis? Ya, ibuku menangis.


Aku bahkan masih bisa melihat jika jejak air mata belum juga mengering di wajah ibuku.


Ibuku menangis?


Bukankah tadi ibuku tersenyum?


Saat melihat ada yang di peluk ibuku, aku mengambilnya.


Aku begitu terkejut karena yang di peluk adalah foto ayah kandungku. Dan ibuku memeluknya sambil menangis hingga kelelahan.


Lalu?


Kenapa tadi tersenyum?


Aku tersadar arti semua itu dan akhirnya aku menyesal.


Ibuku


mencintai


ayahku


Dan ia tak ingin menangis di hadapanku agar ia dapat menguatkanku.


Jika ia lemah, siapa yang akan menguatkanku?


Sekarang, hanya ada ibuku yang aku miliki. Jika suatu hari nanti keluarga besarku tak bisa di sampingku- satu- satunya yang bisa berada di sampingku adalah ibuku.


Setelah menyelimuti ibuku dan melepaskan kacamata yang sedari di pakainya, aku meninggalkan kamar ibuku setelah sebelumnya mematikan lampu.


Aku berlari ke danau di depan rumahku. Aku seolah meluruhkan harga diriku sebagai seorang pria dan menangis.


Aku menyesal. Sangat menyesal.


Aku...,

__ADS_1


Dan


Egoku.


Aku yang merasa kesepian


Aku yang merasa terkhianati


Aku yang merasa menderita.


Padahal,


Padahal..


ayahku juga merasakan hal yang sama.


Bahkan mungkin lebih.


Aku bahkan hampir membenci ibu kandungku sendiri.


Jika seandainya..,


Seandainya aku dapat memutar waktu.


Tak perlu muluk- muluk.


Tidak sampai kejadian dimana ayahku mengangkat asisten pribadi brengseknya itu.


Aku hanya ingin..,


Hanya ingin...


Kembali dimana ayah meminta waktu seharian padaku.


Dan membuat aku mengenal ayahku lebih jauh lagi.


Aku menyesal..,


Ayah..,


Maaf.


Maaf telah melukaimu.


Di sepertiga malam aku menangis. Hingga tanpa terasa pagi telah datang.


Ibu, Brian dan Damien mencariku karena aku tidak ada di kamarku. Mungkin karena mereka mengkhawatirkan aku.


Aku menerjang ibuku. Memeluknya, sekali lagi aku menangis. Aku meminta maaf pada ibuku.

__ADS_1


Ayah.., aku berjanji, akan menggantikan ayah


melindungi ibu.


__ADS_2