Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Papa pulang


__ADS_3

“ kenapa kau kemari? Mommy kan di kamarmu?” tanyaku.


“ mommy Berta sudah tidur. Dan aku ingin bertanya sesuatu.” begitu katanya.


“ begitu? Apakah kau mau bertanya soal Damien?” tanyaku. Dan memang ia ingin bertanya soal saudara jauhku tersebut. Namun buka perihal pekerjaannya namun kepribadian pria itu.


‘ itu belum ada apa- apanya, Ale. Apa kau akan lebih takut lagi begitu melihat sosokku yang sesungguhnya?’ batinku.


Aku pikir ia takut, karena ia hanya diam sambil menatapku, ternyata ia penasaran apakah aku juga bagian dari IP atau tidak. Aku merasa ia jenius


Dan ia membuktikannya, ia cukup pandai dalam menganalisis.


Yah, meski sesugguhnya, aku pernah menjadi bagian dalam tugas IP, namun aku tidak sungguh- sungguh anggota IP dan Ale dapat menebaknya- maksudku soala aku yang bukan merupakn IP.


Aku menjelaskan soal Damien. Kehebatan saudara jauhku tersebut.


Ia bertanya; mengapa Damien bisa di rekut dan aku tidak? Tiba- tiba aku terpikir hal untuk menggoda Aldsta, apa lagi- keliahatannya adik triku ini sudah tidak mengalami period nya.


Aku tersenyum, lalu mendekat ke arah Ale yang masih duduk di kasurku.


Ia gugup karena aku mulai mengukungnya saat ia masih dalam posisi duduk.


‘ imut.’


Ia mengingatkan akan Damien dan Ibuku. Padahal mereka tahu perasaanku kepada Ale dan sudah tahu hubunganku. Mereka juga tahu bagaimana perjuanganku menemukan wanita ini, tak mungkin akan mengangguku.

__ADS_1


Aku mendorong pelan Ale ke kasurku. Menatap wajah manis wanita yang menjadi adik tiriku tersebut.


Menikmati wajah wanita itu agar aku merekam wajah itu di memory ku dan ingatanku. Agar, seandainya aku tak bisa bersatu dan harus berpisah dengannya- aku tak merindu.


Aku melihatnya juga menatapku. Seandainya, seandainya ia memang menyukaiku- seandainya, kami tak terhalang hubungan ini- seandainya aku tidak segara memutuskan untuk menyerah dan menghubungi atau pura- pura ketemu barang sekali saja.


Apakah kami bisa bersatu?


Aku mengelus wajahnya, merekam bentuk wajahnya dengan indra peraba ku. Mereka bibir manisnya dengan indra penciumanku. Menikmati bibir tipis nya yang seolah candu. Yang hanya menciumnya saja sudah membangkitkan gairah kelelakian ku.


Namun aku tak ingin mengakhiri nya dengan cepat. Aku kembali menatap wajahnya, berusaha menelisik ke dalam matanya.


Apakah ia juga menyukaiku? Mencintaiku?


Baru mau menelisik lebih dalam sebuah suara menghentikan kami.


Ale bergegas membetulkan dirinya dan menuju pintu masuk menyambut ayah kandungnya sekaligus ayah tiriku.


Yang membuatku tak percaya adalah, ayah tiriku ini bergegas ingin langsung ke ibu kota padahal ia baru saja sampai. Ibuku langsung bergegas menyapa ayahku. Dugaanku benar, jika ibuku tak benar- benar tertidur, ia hanya tak ingin mengangguku dan membiarkan waktu berdua denganku.


Aku memilih berbasa basi kepada ayah sambungku ini. Dan aku mendengar ia bersikeras ingin langsung ke Ibu kota karena telah memesan tiket, aku menyuruhnya membatalkan saja, kasihan juga jika tenaga orang tua terus di paksakan. Aku tak ingin hal yang pernah tejadi pada ayah kandungku terjadi, jadi aku memberi usul ke jakarta dengan Mobil sambil mengajak Damien.


Tampak jika ia keberatan. Mungkin karena statusnya yang merupakan orang luar atau karena Damien memiliki hubungan dengan mendiang ayah kandungku?


Dia bertanya dan aku menjawab dengan pertanyaan juga. Lalu ia mengaihkan soal adik kandung Ale.

__ADS_1


Aku pura- pura bertanya dan ibuku mengalihkan agar ayah tiriku ini tidak terlalu membela putra kandungnya yang juga telah dewasa tersebut. Aku memilih menaruh tas milik ayah sambungku yang besar ini ke lantai dua.


Kurasa rencana ibuku untuk tidur bersama Ale tidak jadi. Aku rasa alasan kenapa ibuku tidur bersama Ale adalah untuk melihat seperti apa Ale sebenarnya.


Setelah aku kembali dari lantai dua, aku mendapati Ale yang melamun. Apakah ia merasa terasing? bahkan keluarga barunya lebih dekat dengan keluarga kandungnya. Aku yakin ia berpikir seperti itu.


Aku tak perlu lagi Rencana menjadi bad- boy ataupun skenario saudara tiri yang jahat menjadi nyata- itu sebebnya aku mendekatinya. Membisikkan soal apa yang belum terjadi dan kurasa itu berhasil membangun kembali semangatnya.


Ibuku mengatakan soal masakannya hari ini.


Mungkin karena malu- meski, sebenarnya ia memang ingin memasak tadi. Tapi aku tak mau membunuh diriku sendiri dan keluarga baru ku hanya untuk agar ibuku terlihat baik, jadi aku lah yang memasak seharian ini.


Dan benar saja, Ale yang jenius ini bertanya kapan ibuku masak. Jika masalah aku saja bisa ia analisis apa lagi soal sepele seperti ini. Aku membisikkan jika aku yang memasak. Aku mengatakan jika ibuku tak bisa masak. Dan Ale langsung daleam mode berpikir. Mungkin mengingat- ingat, kapan ibuku memasak.


Jawabannya;


...Buat kalian yang tanya;...


...Pas lantai satu kan langit2 udah di cor...


...Koq waktu bangun lantai 2 d cor lagi...


...Karena........


...Di lantai dua di ceritakan akan di bangun dapur mini dan kamar mandi...

__ADS_1


...Jadi perlu di cor lagi agar air dari lantai dua tidak bocor ke lantai satu...


__ADS_2